NATAL YANG MEMBERI

Photo courtesy of https://www.2ndcongregationalchurchvt.org/

Circa 1985-1990.

Sebuah keluarga kecil menghabiskan satu hari di tanggal 25 Desember sebagaimana mereka menjalani hari-hari lainnya.  Bedanya, tiga anak dalam keluarga tersebut tidak ke sekolah sekalipun itu bukan hari Minggu (saat itu hari sekolah adalah Senin sampai Sabtu).  Sang Ayah tetap pergi ke kebun sejak pagi.  Sang Ibu menyiapkan makanan untuk dibawa ke kebun buat sarapan Sang Ayah.  Ketiga anaknya membersihkan rumah sambil membantu Ibu menyiapkan makanan ke dalam rantang susun, kopi hitam panas ke dalam termos, dan radio transistor untuk dibawa ke kebun.

Rumah kecil keluarga ini berdinding papan, beratap jerami, dan beralaskan tanah, persis seperti lirik sebuah lagu dari kelompok “God Bless”-nya Ahmad Albar.  Hanya ada tiga ruangan di rumah kecil itu: ruang depan untuk makan, belajar anak-anak sekaligus menerima tamu, kamar dengan dipan kayu panjang untuk tidur berlima, dan dapur sekaligus gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian Sang Ayah termasuk untuk menyimpan pupuk.  Tidak ada toilet ataupun kamar mandi.  Mereka mandi di sumur yang digali Sang Ayah sekitar 30 meter dari rumah.

Pada saat libur sekolah, anak-anak selalu ikut membantu orang tua mereka di kebun.  Membersihkan rumput-rumput liar di sekeliling tanaman cabe atau semangka (tergantung musim saat itu), memupuk tanaman di lubang-lubang yang sudah digali Sang Ayah atau Ibu lalu menimbunnya kembali, atau menyiram tanaman dengan air yang disedot oleh pompa dari sungai, berteman sebuah radio transistor bertenaga enam baterai yang sesekali dipindah sesuai lokasi mereka bekerja di kebun.  Itu rutinitas libur mereka, termasuk ketika libur Natal 25 Desember, saat keluarga Kristiani lainnya pergi ke gereja dan setelahnya merayakan Natal bersama keluarga.

Bagi keluarga ini, 25 Desember hanyalah sekedar tanggal merah biasa seperti tanggal merah lainnya di kalender.  Hari ketika anak-anak tidak perlu pergi ke sekolah dan bisa membantu orang tuanya di kebun.  Tidak ada perayaan, tidak ada baju baru, tidak ada kado, tidak ada pohon terang.  Gereja terdekat berjarak cukup jauh untuk ditempuh berlima, ketika alat transportasi yang mereka miliki hanya sebuah sepeda motor tua dan sepeda onthel.  Kadang-kadang ada tetangga yang datang untuk mengucapkan selamat Natal, dan setiap ditanya mengapa tidak ke gereja atau jalan-jalan, Sang Ayah selalu memiliki jawabannya sendiri.

Bagi keluarga ini, hidup sudah terlalu berat untuk dijalani bahkan dengan standar sekedar “normal”.  Bisa makan tiga kali sehari dan anak-anak bisa tetap bisa sekolah sudah menjadi sebuah pencapaian besar bagi Sang Ayah sebagai kepala keluarga.  So, 25th of December is just another day, another day-off.

========================================

Keluarga di atas adalah keluarga pemilik website ini, penulis tulisan ini.  Keluargaku di Jambi.  Aku adalah anak tertua dari tiga anak di atas, dengan satu adik perempuan dan satu adik laki-laki (adik termudaku sekarang belum lahir saat itu).

Aku—dan kami semua—sangat akrab dengan semua lagu Natal sejak kecil, termasuk saat kami menjalani kehidupan di tengah kebun (lebih tepatnya di tengah hutan karena secara harfiah, rumah kami memang dikelilingi hutan, yang sebagian di antaranya sudah dibuka oleh Ayahku untuk menjadi kebunnya).  Saat itu, lagu Natal hanyalah kumandang yang kami dengar di radio, sambil membayangkan pohon Natal yang dihujani salju ala Eropa.  Lamunan kami yang tipikal ini membawa kami pada bayangan-bayangan lainnya: keluarga yang sedang berkumpul di bawah pohon terang, membuka kado dari orang-orang tercinta, mengenakan topi Sinterklas, lalu menikmati makanan dan minuman istimewa bersama keluarga mereka.  Sekedar lamunan, yang kami tidak tahu kapan akan merasakannya.

24 Desember 2021.

Aku tiba di kantorku di Jakarta sekitar pukul 06.00, berdoa sebentar seperti biasa, lalu menyalakan smart TV mencari lagu-lagu Natal di Youtube.  Aku melamun lagi, tapi bedanya, aku tidak membayangkan pohon terang yang dihujani salju (aku sudah beberapa kali merasakannya di beberapa negara Eropa dan Amerika hehehe…).  Lamunanku jauh ke masa lalu ketika Natal selalu kami isi dengan membantu Ayah dan Ibu di kebun.  Ketika Natal hanyalah sebuah tanggal merah biasa yang membebaskan kami dari sekolah.

Masa lalu itu telah membangun bagiku sebuah perspektif baru tentang Natal.  Aku tahu bahwa hingga saat ini, masih ada ribuan keluarga Kristiani yang melihat Natal sama seperti kami melihat Natal di sekitar tahun 1985 sampai 1990-an itu.  Mereka yang masih berjuang dengan hidupnya, yang bahkan belum tahu apakah mereka bisa makan tiga kali hari ini, atau apakah mereka bisa makan besok, dan seterusnya.  Natal yang mungkin saja jutsru menjadi “derita” bagi mereka karena tidak bisa merayakan, tidak bisa pulang ke kampung halaman karena tidak punya uang, dan pada saat yang sama mereka melihat banyak keluarga bergembira dengan segala kecukupannya.

Aku bersyukur karena dari masa lalu Tuhan mengingatkanku tentang makna Natal yang sesungguhnya.  Tentang sukacita yang dibawa oleh Tuhan ke bumi melalui bayi kecil bernama Yesus Kristus.  Masa lalu telah membangun pemahamanku saat ini bahwa Natal adalah tentang berbagi cinta kasih, berbagi sukacita, dan berbagi damai sejahtera.  Itulah yang dilakukan oleh Tuhan sendiri ketika Dia memberi sukacita, cinta kasih dan damai sejahtera kepada mahluk ciptaanNya melalui seorang anak yang dikirimkanNya ke bumi, agar mereka semua terbebas dari dosa, dan bisa merasakan kerajaan Surga.

Bagiku, Natal adalah tentang memberi, karena Natal itu sendiri adalah wujud pemberian Tuhan berupa keselamatan untuk semua umat manusia dari segala kuasa dosa dan kegelapan.  Natal adalah tentang empati atas penderitaan orang lain, atas kekurangan mereka, atau rasa kehilangan mereka.  Natal bukan tentang kemewahan, kado, pohon terang, baju baru atau jalan-jalan.

Yesus Kristus lahir di sebuah palungan di kandang domba, dan yang menjenguk bayi Yesus pertama kali adalah para gembala.  Kisah itu saja sudah cukup menggambarkan bagaimana Natal sangat lekat dengan kesederhanaan, kebersahajaan, dan ketulusan.  Natal adalah milik semua orang, seperti para gembala yang nota bene masyarakat biasa ikut bersukacita menyambut hadirnya Sang Juru Selamat ke dunia.

Di tengah alunan lagu Natal yang kudengar saat menulis ini, aku mengingat mereka semua yang tengah berduka, yang tengah bersedih, yang sedang berjuang untuk hidupnya, sama seperti yang kami sekeluarga rasakan setiap mendengar lagu Natal di tahun 1985 sampai 1990-an. Aku mengingat semua yang merasa termarjinalkan karena keadaan, terpinggirkan karena status sosial, dan terasing karena kemiskinan.  Percayalah, Natal ini juga hadir untuk kalian semua, maka bersukacitalah.  Ingatlah bahwa kita semua punya alasan yang sama untuk bersukacita, bukan karena kita punya baju baru, mendapat banyak kado atau bisa jalan-jalan, melainkan karena Tuhan memberikan kepada kita semua keselamatan melalui anakNya.

Ketika memaknai Natal sebagai sebuah karunia atau pemberian Tuhan, aku lebih senang untuk menjadikan setiap hariku sebagai hari Natal, ketika hidup kujalani dengan sebuah prinsip bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang dia punya, melainkan oleh apa yang dia perbuat atau berikan bagi sekitarnya.  Menjadi berkat bagi banyak orang.  Berbagi sukacita sehingga siapapun ikut merasakan sukacita kita, dan menguatkan mereka yang bersedih.

Photo courtesy of https://forgodandjesus.wordpress.com/

Pada akhirnya, alunan lagu Natal ini mengingatkanku pada kasih Tuhan yang luar biasa dan tidak pernah habis dalam hidupku.  Aku merenungkan kembali ketika Dia menghadirkan bagiku seorang pria dan seorang wanita hebat dalam wujud Ayah dan Ibuku, adik-adik yang baik, istri dan anak-anak yang setia, dan banyak orang baik yang ada di sekelilingku.  Juga ketika Dia membukakan banyak pintu bagi kehidupanku yang semakin baik dari waktu ke waktu, dan ketika Dia dengan caraNya yang luar biasa membawa kami keluar dari berbagai kesulitan.  Sukacita Natalku adalah karena perjalanan yang kurangkai bersama Tuhan yang tanganNya selalu menuntunku agar aku tidak terjatuh dan merasa terlindungi, serta kasihNya yang setia menjawab semua pergumulanku.  Sebuah sukacita karena aku tahu Tuhan tidak pernah gagal dan tidak pernah terlambat membuktikan cintaNya kepada semua orang.

Selamat Natal, Ayah dan Ibu terkasih.

Selamat Natal, adik-adikku tersayang.

Selamat Natal, istri dan anak-anakku tercinta.

Selamat Natal, semuanya.

JOGJAKARTA: KETIKA KUTEMUKAN RUMAH

(Foto koleksi pribadi)

Pertengahan November lalu saya bersama keluarga berkesempatan menikmati beberapa hari berada di Jogjakarta.  Kebetulan ada suatu keperluan keluarga, plus dua hari keperluan dinas memenuhi undangan dari sebuah instansi Pemerintah.

Bagi saya, Jogjakarta selalu bisa menjadi cerita.  Seperti lirik sebuah lagu, selalu ada sesuatu di sana. Ia mungkin dikenal sebagai kota pelajar, kota perjuangan, atau kota sejarah.  Ia juga mungkin dikenal dengan angkringannya, Keraton-nya, atau Jalan Malioboro-nya.  Bagi saya Jogjakarta lebih dari semua itu.  Jogjakarta juga lebih dari sekedar jutaan kenangan.  Jogjakarta adalah sebuah filosofi, kehidupan, dan jiwa.

(Foto koleksi pribadi)

Meskipun “resminya” saya hidup di kota ini hanya sekitar tiga tahun (selama saya menjadi Taruna Akademi Angkatan Udara), tapi pesona dan aura kota ini telah membuat saya jatuh hati. Saya medapatkan banyak hal dari tempat ini, terlebih ketika saat ini hari-hari saya dihabiskan dengan suasana yang penuh kepalsuan, basa basi, pemenuhan ego, dan “kasak kusuk” para pemburu ambisi. Jogjakarta selalu bisa memberi saya kepuasan atas dahaga saya akan ketenangan, kedamaian, kesejukan jiwa, dan perenungan untuk “kembali pada diri sendiri”.

Sebagian besar orang yang pernah ke kota ini pasti merasakan bagaimana tempat ini begitu bersahabat, bersahaja, dan menenangkan di setiap sudutnya.  Keramahan adalah jiwa dari kota ini.  Persahabatan adalah roh yang melekat di tiap denyut nadinya.  Itulah sebabnya saya sanggup menghabiskan waktu berjam-jam hanya sekedar duduk sambil menikmati wedang jahe, kopi, atau gorengan di angkringan yang bertebaran di sana, sembari menyaksikan bagaimana kebersahajaan itu lalu lalang di hadapan saya: dalam diri para penjual angkringan, para penarik becak atau delman, atau para penjaja gudeg dan sate dengan bakul dagangan di pundak atau kepala mereka.

Jogjakarta adalah rumah bagi saya.  Bukan semata-mata karena saya merasa nyaman berada di dalamnya, melainkan karena saya selalu bisa menemukan “rumah” bagi batin saya: diri saya sendiri.  Jogjakarta adalah sebuah ruang besar bagi kontemplasi saya, ketika saya merasa sangat penat, lelah dan terkuras lahir batin oleh Jakarta.  Jogjakarta selalu menyajikan saya presentasi nyata tentang kesetaraan kita sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan, tentang penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, dan tentang pengharapan yang selalu ada dalam keadaan seperti apapun.  Saya melihat itu semua tanpa buku, tanpa power point slides, tanpa teori atau pengantar dari siapapun.  Jogjakarta menghadirkan semuanya secara “live” di depan mata saya, dan menancapkan semua tontonan itu dalam nurani saya.

Saya melihat dan merasakan sebuah perjalanan kembali pada diri saya sendiri dari kota ini, bukan dari para wisatawan atau pelancong, melainkan justru dari warganya yang lahir, dibesarkan atau hidup dari kota ini.  Dari momen ketika kemewahan yang dibawa dan dipertontonkan para wisatawan di hadapan mereka yang berjuang dengan mengayuh becak, mengemudikan delman, menjajakan makanan, atau memainkan musik jalanan itulah saya melihat bagaimana kota ini memberi sebuah pelajaran berharga, yang bagaikan mata air bagi dahaga batin saya.  Pelajaran yang mengatakan kepada saya betapa kecilnya kita sebagai manusia, dan betapa lemahnya kita dalam perjuangan mengalahkan musuh terberat kita: diri kita sendiri.

(Foto koleksi pribadi)

Dari mereka yang tampak “biasa” di mata sesama manusia, saya justru belajar tentang sebuah kebesaran jiwa, penerimaan tulus terhadap apa yang Tuhan beri kepada mereka, yang selalu mereka syukuri, dan mereka pakai untuk memelihara asa akan kehidupan hari esok yang lebih baik. Dalam skala tertentu, saya merasa melihat Tuhan bersemayam dalam batin mereka—sebuah keadaan yang sangat saya rindukan, ketika diri ini bisa menyisihkan sedikit ruang untuk Tuhan dapat berdiam di dalamnya.

Ketika hati kecil selalu bertanya apa yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini, Jogjakarta hadir sebagai sebuah ruang besar di mana mahluk kecil seperti saya dapat menikmati sebuah perenungan yang berisi perjalanan menuju rumah saya sesungguhnya: diri saya sendiri.  Rumah yang menyediakan sebuah ruang bagi Sang Penguasa dan Pencipta Hidup untuk berdiam di dalamnya.

Manunggaling Kawula Gusti.

SEKOLAH BERNAMA “KEHIDUPAN” (SEBUAH SURAT)

images

Lelaki itu terpaku penuh haru di kursi ruang kerjanya. Ia menatap satu persatu apapun yang ada di ruangan itu, ruangan yang telah menjadi tempatnya bekerja selama lebih kurang 14 bulan terakhir. Tempat yang sebenarnya tidak ia harapkan, namun perlahan tapi pasti telah menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya. Cinta yang lahir laksana cinta seorang bapak kepada anak-anaknya; sebuah cinta kepada orang-orang yang bekerja di sekelilingnya. Sesaat rasa harunya memuncak menjadi tetesan air mata, ketika ia mengingat betapa luar biasanya Tuhan telah memelihara dia dalam hidupnya.

Ingatannya kembali pada masa puluhan tahun lalu, ketika ia masih seorang anak kecil yang kurus kering, dan duduk di bangku SD di Jambi. Ia mengenang masa di mana ia harus “mengemis” uang 8500 rupiah kepada pamannya untuk membayar uang bulanan sekolahnya (SPP). Ia juga mengingat masa di kala ia dan Ibunya harus menjadi “babu” saat ada acara-acara keluarga besar Ayahnya. Berjongkok di dapur, dan baru makan bila ada sisa-sisa makanan yang dikembalikan ke dapur, sementara keluarga besar yang lain berpesta di ruang tengah rumah pamannya. Ya, Ayahnya yang hanya seorang petani yang mengolah tanah pamannya “tidak dianggap” oleh keluarganya yang lain yang jauh lebih berada.

Ia seorang anak SD yang hanya bisa “bengong” melihat teman-temannya bermain bulutangkis, karena orang tuanya tak mampu membelikan ia raket yang ia minta. Keramaian acara-acara di sekolahnya ia lalui dengan “menonton” teman-temannya yang berkali-kali membeli jajanan, karena uang jajannya terlalu sedikit untuk membeli makanan atau minuman, dan itupun ia pilih untuk disimpan. Hari-harinya di rumah ia lalui dengan membantu Ibunya menjaga warung kecil di teras kontrakannya, sambil makan nasi bertabur garam (agar tak terlalu hambar). Bila sedikit beruntung dan ada sedikit cabe di rumah, Ibunya membuatkan sambal yang kemudian ia aduk-aduk di nasinya agar terlihat merah seperti nasi goreng—sebuah kenangan yang membuatnya sekarang begitu menyukai nasi goreng.

Karena tak sanggup membiayai kehidupan di kota Jambi, keluarganya pindah ke tanah pamannya yang dikelola sang Ayah, 20-an kilometer dari kota. Tiga tahun di tempat itu, rumah kecilnya yang berdinding papan, berlantai tanah dan beratap jerami terbakar tanpa sisa. Ia dan keluarganya pun merasakan hidup menumpang di rumah Pak RT selama lebih kurang 3 bulan, sebelum Ayahnya berhasil mendapatkan sebuah rumah kosong milik seorang tuan tanah. Tak sampai satu tahun di situ, keluarganya “diusir” karena rumah itu akan digunakan oleh si pemilik tanah. Dalam situasi terdesak, Ayahnya pun menjadikan gubuk/dangau tempat istirahatnya di ladang menjadi rumah, dengan membalut gubuk itu dengan seng bekas, begitu pula atapnya. Keluarganya merasakan rangkaian siang yang amat panas, dan malam yang amat dingin. Di tempat itu pulalah si lelaki kecil itu pertama kali mengenal malaria.

Selain obat dari Puskesmas desa, saat terkena malaria itu Ibunya selalu mengolesi tubuhnya dengan spiritus yang mereka gunakan di lampu petromax untuk mendinginkan badannya yang mengejang karena panas. Begitulah, ia menjalani keseharian dengan sangat sederhana (mandi di sumur yang berjarak 50-an meter dari rumah, buang air besar di tengah ladang dengan selalu membawa cangkul Ayahnya—untuk menggali tanah, dan seember kecil air), sehingga ia nyaris tak pernah bermimpi untuk bisa meneruskan sekolah ke SMA. Dua adiknya juga butuh biaya, dan orang tuanya hanya petani miskin. Seketika ia menjadi begitu dewasa, dan merelakan dirinya untuk bekerja membantu orang tua di ladang (atau bekerja dengan orang lain), agar adik-adiknya tetap bisa sekolah.

Tapi sepertinya ia lelaki yang ditakdirkan untuk mengalami berbagai “keajaiban” dalam hidupnya. Prestasinya di SMP (yang selalu ranking pertama sejak semester I hingga semester VI dan Ebtanas, dan dua tahun menjadi Ketua OSIS) mempesona sang Kepala Sekolah yang lalu menawarinya mendaftar ke sebuah unggulan yang baru akan dibuka. Gratis, itulah alasan ia mau menerima tawaran itu dan memberanikan diri mendaftar ke Komando Resort Militer (Korem) di Jambi, ditemani Kepala Sekolahnya. Ia harus bersaing dengan 350-an siswa-siswa hebat lainnya se-antero Provinsi Jambi, memperebutkan jatah tiga kursi untuk duduk di kampus SMA itu di Magelang, Jawa Tengah. Itu mungkin “kompetisi” berat pertama dalam hidupnya, sebuah pertaruhan untuk jalan menuju masa depan yang telah Tuhan bukakan untuknya.

Ia belajar, berlari sekencang-kencangnya saat ujian jasmani, dan menjalani ujian renang hingga nyaris tenggelam (karena terlalu memaksakan diri). Ia lolos ujian demi ujian, dengan jumlah peserta yang makin hari makin sedikit. Di hari pengumuman, iapun harus terduduk lemas karena ia hanya peringkat keempat, dan dinyatakan tidak berangkat ke Magelang karena kuota yang hanya tiga. Dengan segala berkas dan pakaian kotor di tangannya, iapun pulang, menangis karena impian merasakan bangku SMA-nya kandas. Tapi itulah, keajaiban mendatanginya lagi. Dua hari berselang seorang anggota Komando Rayon Militer (Koramil) datang ke rumahnya, meminta dia dan Ayahnya untuk datang ke Korem. Dengan angkutan umum, mereka berangkat untuk menerima sebuah berita baik: kuota Jambi ditambah dua orang karena ada daerah/provinsi lain yang tak sanggup memenuhi kuota mereka sehingga “jatah” itu dialihkan. Impian SMA-nya pun terwujud; sebuah sekolah unggulan, tanpa biaya pula.

Itu tak berarti ia bebas dari segala polemik. Tiga tahun ia jalani tanpa sekalipun orang tuanya datang ke kampusnya, karena ketiadaan biaya. Lagi-lagi, saat banyak rekannya berbagi waktu dengan orang tua mereka saat hari libur di kampus, ia hanyalah penonton, dan malah menghabiskan waktunya untuk belajar di kamar. Itulah awal segala kemandiriannya, hidup untuk dirinya sendiri, mengatur semua sendiri, dan “bertarung” sendiri untuk masa depannya. Iapun memutuskan sendiri untuk bergabung ke Akabri, lagi-lagi karena itu gratis. Tiga tahun di Akabri Udara Yogyakarta berlalu dengan nyaris sama dengan masa SMA-nya: sendiri. Orang tuanya baru bisa datang dari Jambi (dengan sedikit memaksakan) saat ia dilantik menjadi perwira di Istana Negara.

Ah, lamunan laki-laki itu menjadi terlalu panjang, dan perlu sebuah ketukan di pintu ruangannya untuk menyadarkannya. Seorang anak buahnya menghadap, meminta ijin untuk mengantar anaknya ke rumah sakit.

“Kamu pakai apa ke rumah sakit?”, ia bertanya pada si anak buah.

“Siap pakai motor, Komandan”, jawab si anak buah.

“Pakai mobil dinas saya, biar anakmu ngga kena angin di jalan. Lagi sakit kok kamu kenain panas sama angin”

“Siap tidak apa-apa, Komandan”

“Pakai mobil. Ini perintah!”

“Siap Komandan!”

Percakapan berakhir di situ, dan tak lama kemudian ia melihat dari jendela ruangannya mobil dinas Taruna-nya bergerak dari tempat parkir. Ia kembali teringat ketika harus ke Puskesmas saat ia terkena malaria, dengan dibonceng sepeda onthel oleh Ayahnya—satu-satunya kendaraan yang mereka punya. Rasa dingin dan lemas membuat sepeda itu beberapa kali oleng di jalan, karena ia nyaris jatuh dari kursi belakang. Kini, ia memberikan mobil dinasnya untuk membawa siapapun anggotanya (atau keluarga mereka) yang sakit, karena itulah satu-satunya mobil yang layak di satuannya. “Saya bisa pakai mobil saya sendiri”, itu yang selalu ia katakan pada anak buahnya.

Itulah antara lain yang sekarang ia pahami dari kehendak Tuhan menempatkannya di sini, tempat yang tak ia harapkan. Lahirnya rasa cinta ketika ia melihat satu persatu wajah anak buahnya, dan menempatkan mereka di hatinya sama seperti anak-anaknya sendiri. Ia prihatin dengan tempat kerja mereka, dan merombaknya sedikit demi sedikit agar lebih nyaman. Ia bahkan nyaris lupa pada ruang kerjanya sendiri, yang akhirnya ia percantik dengan rangkaian wallpaper yang ia tempel sendiri. Keterbatasan sumber daya membuat kepalanya berdenyut setiap hari, ketika harus mencari jalan keluar untuk sesuatu yang ingin ia perbaiki buat anak buahnya.

Hari ini, hampir 14 bulan ia di sini, dan sudah ada perintah baginya untuk menduduki jabatan yang baru di Jakarta. Dan di ruangan ini, ia akhirnya tersenyum ketika mengingat kembali apa yang ia katakan saat apel pagi di hadapan para prajuritnya:

Pahamilah, bahwa Tuhan merancang hidupmu dengan sempurna. Kamu hanya perlu mengikuti apa yang Dia rencanakan bagimu. Tidak ada yang tidak mungkin, selama kamu yakin bahwa itu memang jalan yang sudah Tuhan gariskan. Saya belajar bahwa hidup kita adalah ‘sekolah’ yang sempurna, yang memberi kita banyak pelajaran hebat. Dari pelajaran-pelajaran hidup itulah, saya bisa melepaskan diri dari rasa takut, khawatir, cemas atau apapun istilahnya. Saya berani berhadapan dengan apa dan siapa saja, karena saya tahu Tuhan ada bersama saya. Saya tahu itu, meskipun saya belum pernah melihat Tuhan. Tapi hidup saya membuktikan, ribuan kali Tuhan menunjukkan kehebatanNya melepaskan saya dari apapun yang saya anggap sudah tidak mungkin. Hargai hidupmu, karena itulah ‘sekolah’ terbaikmu.”

==============================

Kepada Yth:

Tuhanku, yang untuk melukiskan kebaikanNya aku belum menemukan kata-kata yang tepat.

Tembusan:

1. Ayah dan Ibuku, yang melalui mereka aku bisa merasakan Tuhan itu ada.

2. Mbah Sadi dan Mbah Trinem di surga, kuingin kalian tahu bahwa aku begitu merindukan kalian.

3. Istri dan anak-anakku, yang begitu membuatku selalu ingin pulang ke rumah.

4. Para prajuritku, yang telah memberikan pundaknya sebagai tempatku berdiri semakin tinggi dari hari ke hari.

KETIKA PETI MATIKU MAKIN DEKAT…

Image

Kemarin malam dalam perbincangan telepon dengan putri kecilku, ia bertanya, “Papa besok ulang tahun ya?”  Aku hanya tertawa—semata-mata karena suara dan nadanya yang selalu terdengar lucu dan membuat kangen.  Akupun tak berniat membicarakan soal itu lebih jauh, karena lebih menyenangkan bagiku untuk mendengar cerita-ceritanya tentang pelajaran sekolahnya, teman sekelasnya, gurunya, komentar dia tentang abangnya, atau celotehnya tentang dua ekor kelinci yang kami pelihara di rumah.

Banyak hal yang membuatku tak menaruh perhatian apapun pada tanggal kelahiranku (sesuai KTP-ku).  Tanggal yang dalam bahasa kerennya disebut “ulang tahun” itu tak berbeda dengan 30 angka lainnya dalam satu bulan.  Hari itupun bagiku tak berbeda dengan 364 hari lainnya dalam setahun. Barangkali karena seingatku, tak pernah aku merayakan itu (karena kondisi ekonomi orang tua yang tak memungkinkan).  Itulah yang akhirnya membuatku abai dari tahun ke tahun. Semuanya biasa saja.

Tapi itu bukan sebab utama. Aku layak bersyukur pada Tuhan karena seiring waktu, Dia mengijinkanku melihat dan merenungkan banyak hal.  Meski banyak hal pula yang masih belum dapat kupahami setelah 39 tahun mengenyam hidup, setidaknya ada beberapa hal yang dapat mencerahkan, mengingatkan, dan menyadarkanku.  Satu yang paling menarik bagiku adalah “Berapa lamakah aku akan berada di dunia?”  Interpretasi lain untuk pertanyaan ini adalah “Berapa jatah usia yang Tuhan berikan untukku?”

Aku pernah mendengar sebuah dongeng bijak dari budaya China tentang bagaimana Tuhan memberi jatah umur pada kuda, kerbau, monyet, dan manusia.  Tapi bukan karena dongeng itu aku berpikir dan bertanya seperti tadi.  Dalam keterbatasanku sebagai manusia biasa, aku melihat konsep ini logis. Ada saat di mana kita akan mengakhiri perjalanan fana ini untuk beralih ke dunia yang jauh lebih kekal, dan agama atau keyakinan apapun percaya bahwa Tuhan telah mengetahui kapan itu akan terjadi pada tiap-tiap orang.  Kita hanya bisa menyebutnya “Rahasia Ilahi”.

Kemanusiaanku jelas tak akan pernah menjangkau keilahian Tuhan. Karena itu, aku cuma bisa mengajukan pertanyaan yang telah kusebutkan sebelumnya. Aku tahu, bila kuserukan pertanyaan itu pada Tuhan, Dia mungkin akan tertawa terbahak-bahak (meski Tuhan tak akan balas bertanya “Mau tau aja atau mau tau banget? Kepo banget sih elo”).  Tuhan adalah Maha Bijaksana, yang akan menjawab setiap tanya kita dengan caraNya sendiri yang luar biasa.  Pun demikian, kadang aku merasa tak cukup layak mempertanyakan itu padaNya, sehingga kutanyakan saja pada diriku sendiri meski tak pernah berjawab.

Di titik ini, aku serasa berada di antara “Venus” dan “Mars” dalam simbolisasi dua piramida terbalik ala ahli simbologi Robert Langdon dalam “The Da Vinci Code” karangan Dan Brown.  Bukan soal “wanita vs pria”-nya, melainkan soal kedua paramida yang saling berlawanan namun menyatu itu. Satu paramidaku adalah ungkapan syukur bahwa sejauh ini Tuhan telah memimpinku dalam hidup, hingga aku sehat walafiat jasmani dan rohani. Syukur karena aku berlimpah karunia dalam berbagai wujudnya: istri yang setia, anak-anak yang manis, karier, dan jutaan anugerah lainnya.  Syukur karena Dia tak membiarkanku jatuh di tengah hantaman dunia dan serangan mereka yang memusuhiku.

Paramidaku yang lain adalah rasa khawatir akan kematian. Saat Sang Pencipta itu telah menggariskan sekian tahun waktu bagiku untuk merasakan kehidupan dunia, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun yang berlalu telah menggerusnya. Layaknya jam pasir, sebagian dari pasir itu telah berada di ceruk bawah (aku tak tahu apakah itu sebagian kecil atau sebagian besar).  Kelak seluruh pasir itu akan berada di bawah, waktu habis.  Marjin sisa usiaku makin kecil, aku makin dekat ke penghujung.  Meski aku menyadari bahwa hidup di dunia adalah perjalanan menuju ke kehidupan yang kekal, tetap gelap bagiku kapan kehidupan yang abadi itu akan kumulai.

Umurku bertambah, pemahamanku akan kehidupan dunia juga bertambah, pun juga kekuatanku untuk menghadapi ribuan kepalsuan dunia. Namun, peti matiku makin dekat. Aku tak tahu kapan aku akan dibaringkan ke dalamnya, dan ragaku diantar untuk menyatu dengan bumi tempatku berpijak selama aku bernyawa.  Entah sudah dibuat atau belum, aku tahu peti mati untukku ada atau akan ada di suatu tempat di muka bumi ini.  Itu kepastian untukku, juga untuk manusia lainnya. Setelah 39 tahun, tak tahu berapa lama lagi akan kutempuh perjalanan ini untuk akhirnya terbaring di dalamnya.

Aku tak bermaksud menghibur diri, tapi sah-sah saja aku menguatkan hati. Kapanpun aku akan masuk ke peti mati itu, dan di manapun itu akan terjadi, aku ingin berbaring di dalamnya dalam kedamaian.  Aku ingin rebah di situ dengan tersenyum.  Tersenyum karena aku mengawali kehidupan kekalku sebagai sebuah pribadi yang telah memenangkan pertempuran di dunia semu melawan musuh terberatku: diriku sendiri.

Tuhanku Yang Maha Baik, ijinkan semua itu terjadi atasku, seperti halnya Engkau ijinkan aku berlayar di tengah samudera karuniaMu yang tak bertepi dalam kehidupan duniaku…hingga detik ini.

[Bandung, 13 Februari 2014]