SELAMAT ULANG TAHUN, KASIHKU!

Foto Koleksi Pribadi

Dear Mama,

Aku ingin kamu tahu bahwa aku begitu berterima kasih atas hadirmu yang meyakinkan aku betapa Tuhan setia hadir dalam hidupku.

Tulisan ini aku buat untuk mengungkapkan terima kasihku yang teramat besar atas hadirmu, dan sebagai ungkapan syukurku di hari istimewa ini.  Ketika menulis ini, ingatanku terbang ke berbagai kenangan masa lalu yang membangun rasa syukurku yang tiada habis pada Tuhan kita.

Di masa awal mengarungi rumah tangga, kita sering bingung mau makan apa karena gajiku sudah habis di tengah bulan.  Aku juga ingat kebiasaanmu menggendong anak pertama kita sambil menjemur pakaian.  Kemana-mana kita selalu jalan kaki atau naik angkot karena belum punya kendaraan.  Lalu suatu hari kita pernah berlari panik ke rumah sakit karena Dimitri kecil jatuh dari kasurnya.  Dan yang cukup menggelikan, kita pernah tidak jadi ke gereja karena basah kuyup kena cipratan air dari mobil yang lewat saat kita dalam perjalanan naik motor.  Hehehe…

Sekarang semuanya berbeda, dan aku bersyukur karenanya.  Namun, kamu tetap pribadi yang sama hebat dan setianya sejak pertama kita bersama. Setiap hari kamu memastikan makanan tersedia di rumah.  Setiap pagi kamu menyiapkan segala sesuatu untukku berangkat ke kantor.  Kamu membuat rumah kita selalu bersih, cerah, dan nyaman.  Kamu mendesain rumah mungil kita di Magelang dengan amat berkelas.  Dan sebagai seorang Ibu, kamu memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan terbaik mereka,

Semua ingatanku akan perjalanan panjang itu menunjukkan betapa hebatnya dirimu, betapa tangguhnya pribadimu, dan betapa setianya kamu menjaga cita-cita kita.  Itu semua semakin membuatku bersyukur, karena di sisiku berdiri seorang wanita luar biasa.

Ketika melihat betapa berlimpahnya berkat Tuhan atas hidup kita, aku percaya itu karena Dia melihatmu dan anak-anak kita.  Itulah sebabnya aku senantiasa bersyukur, karena jalan berkat itu adalah pribadi hebat di sampingku,

Mama sayang,

Untukmu, kuucapkan “Selamat Ulang Tahun”, kiranya kasih karunia dan pemeliharaan Tuhan selalu bersamamu.

Dan kepada Tuhan,

Kuucapkan syukurku atas seorang wanita hebat yang Dia hadirkan untukku, dan kepadaNya pula aku percayakan hidup wanita terkasihku.

Sungguh, hidupku adalah sebuah karunia, dan itu karena kamu.  Terima kasih telah membuat hidupku terasa begitu istimewa dan penuh syukur.

Tuhan menyertaimu selalu, sayangku.  HAPPY LOVELY 43RD BIRTHDAY!

Bogor, 20 September 2020

MEMBANGUN DI ATAS KOMPETENSI MORAL

Foto dari islamindonesia.id

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 diwarnai oleh beragam kejadian historis yang tercatat sebagai bagian perjalanan Indonesia untuk berdiri di atas kakinya sendiri.  Sebelum kedudukan Jepang di Asia digoyahkan oleh dua bom atom Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki, rakyat Indonesia sudah melakukan perlawanan di berbagai daerah.  Setelah pemboman Sekutu atas dua kota itu, berbagai kecamuk pergerakan di kalangan para tokoh nasional juga tidak kalah seru. Desakan beberapa kelompok kepada Ir. Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dipanggilnya beberapa tokoh nasional ke Da Lat, Vietnam oleh pimpinan militer Jepang, hingga “penculikan” Ir. Soekarno oleh kelompok pemuda di Rengasdengklok adalah beberapa catatan sejarah yang bisa dikenang tentang bagaimana bangsa ini mula-mula berdiri.

Yang menarik adalah apa yang menjadi “semangat” atau “nuansa kebatinan” dari semua kecamuk itu.  Satu-satunya hal yang melatarbelakangi semua momen itu adalah keinginan sebagai bangsa untuk merdeka, menjadi diri sendiri, berpijak dan berjalan di atas kaki sendiri, dan tidak bergantung pada siapapun.  Apakah saat itu kita punya kecakapan atau kemampuan finansial maupun teknis untuk menjadi sebuah negara merdeka?  Punya infrastruktur mapan untuk menjalankan roda pemerintahan?  Punya sumber daya untuk membiayai pembangunan?  Punya angkatan perang yang cukup kuat untuk melindungi negara?  Jawaban atas semua pertanyaan itu: TIDAK.

Lantas kecakapan atau kompetensi apa yang membuat para pendiri negara ini berani meniatkan diri untuk merdeka?  KOMPETENSI MORAL.  Kecakapan moral itulah yang membuat para tokoh bangsa, dipimpin oleh Ir. Soekarno, berani mengambil keputusan untuk memproklamasikan Indonesia sebagai negara merdeka.  Mereka paham bahwa risiko dari keputusan itu tidak kecil: mereka (dan keluarganya) bisa ditangkap atau bahkan dibunuh oleh Jepang, karena belum ada sikap politik yang tegas dari Pemerintah Jepang terkait nasib Indonesia.  Mereka juga berpotensi dihukum oleh Sekutu, yang secara yuridis berhak atas semua wilayah pendudukan Jepang pasca menyerahnya Jepang.  Namun, kompetensi moral merekalah yang membuat kita ada saat ini, karena para pendiri bangsa ini bersedia menjadikan dirinya “tumbal” bagi masa depan nasib jutaan orang yang kelak akan mewariskan Indonesia ini pada anak cucunya.

JANGAN PERNAH LUPA PADA SEJARAH

Itu 75 tahun yang lalu.  Untuk ukuran manusia, 75 tahun adalah usia yang tergolong uzur, ketika manusia sudah melewati masa-masa termatang dalam siklus hidupnya, dan akan kembali menjadi seperti “anak kecil”.  Namun untuk sebuah bangsa, 75 tahun adalah usia yang relatif “matang”, di mana sebuah bangsa semestinya telah menemukan jati diri, kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara, serta mencapai kemapanan dalam tata kelola bermasyarakat.  Adalah sebuah perenungan yang menarik ketika kita mempertanyakan seperti apa kita sebagai bangsa di usia 75 tahun ini.

Kembali pada sejarah, setelah merdeka bangsa ini juga tidak melenggang mudah dalam perjalanannya.  Berbagai gejolak baik fisik bersenjata maupun politik masih terjadi di berbagai wilayah: perang wilayah melawan kembalinya Belanda yang membonceng Sekutu, pergolakan politik nasional di era 1950-an, hingga tergulingnya Soekarno pasca pemberontakan G-30S/PKI.  Memasuki masa Orde Baru, bangsa ini juga masih bergulat dengan dirinya sendiri yang puncaknya adalah gerakan reformasi 1998, yang berbuah dengan pemerintahan-pemerintahan baru pasca Soeharto, hingga saat ini.

Berbagai pencapaian telah diraih.  Pembangunan infrastruktur berjalan masif, Jakarta menjadi salah satu metropolitan sibuk di dunia, dan berbagai bidang bergerak untuk mewujudkan Indonesia yang “modern”.  Sebagai perbandingan, Malaysia menyatakan kemerdekaannya tahun 1957, Singapura tahun 1965, Vietnam hanya berselisih sekitar dua minggu setelah kita, Korea Selatan hanya berselisih dua hari sebelum kita (yang berarti usia Vietnam dan Korea Selatan sama-sama 75 tahun).  Ada pertanyaan kritis yang muncul tentang seberapa “modern” kita dibandingkan negara-negara yang saya sebutkan tadi.  Tapi bagi saya, pertanyaan yang lebih penting adalah “seberapa merdekakah kita sekarang?”

History is the foundation of a nation.  Sejarah adalah pondasi sebuah bangsa.  Ketika sebuah bangsa secara historis dibangun di atas kompetensi moral para pendirinya, maka kompetensi moral itu pulalah kekuatan terbesar untuk membangun bangsa itu.  Mengabaikan eksistensi kompetensi moral sama halnya mengabaikan pondasi sebuah bangunan, yang pada akhirnya hanya akan melahirkan sebuah bangunan yang rapuh meskipun terlihat indah, gampang roboh sekalipun terlihat mentereng.  Singkatnya, jangan pernah melupakan sejarah bagaimana bangsa ini berdiri, karena itu adalah pintu bagi kehancuran dari semua yang telah diperjuangkan dengan cucuran darah, keringat, dan air mata para pendahulu kita.

KOMPETENSI MORAL ADALAH CIKAL BAKAL INDONESIA

Para pendiri bangsa ini telah menunjukkan pada kita (kalau kita mau belajar sejarah, tentunya) bahwa hal sangat besar yang terlihat tidak mungkin sekalipun dapat kita wujudkan, selama kita kompeten secara moral.  Apa yang dimaksud “kompeten secara moral” itu?  Kompeten secara moral, atau kompetensi moral, adalah sebuah kondisi kecakapan mentalitas yang berisikan nilai-nilai semangat pejuang, kecintaan kepada tanah air, kesediaan mengorbankan diri sendiri demi kepentingan bersama, mengedepankan kemaslahatan orang banyak di atas kepentingan sendiri, dan tidak pernah berpikir untung rugi dalam memperjuangkan cita-cita bersama.

Nilai-nilai itu yang ada dalam kepribadian figur-figur yang kita kenal dengan nama Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, bahkan dalam figur seorang Ibu Fatmawati, yang menjahit sendiri bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat pembacaan naskah proklamasi.  Kompetensi moral itu pulalah yang memenuhi diri seorang Jenderal Soedirman, yang dalam keadaan sakit tetap berada di tengah-tengah anak buah ketika Belanda mencoba mengganggu kemerdekaan Indonesia yang masih berusia dini.  Juga pada diri Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang merelakan Jogjakarta menjadi Ibukota negara saat Jakarta kembali diduduki Belanda, dan dengan dana daerah yang terbatas bersedia membiayai roda pemerintahan Indonesia.  Masih banyak lagi tokoh-tokoh besar yang dapat kita sebutkan untuk menggambarkan bahwa dalam diri mereka, tidak ada yang lebih penting daripada kemerdekaan dan kemajuan bangsanya.  Diri dan keluarga merekapun berada di prioritas kesekian ketika berbicara tentang apa yang terpenting bagi mereka.

Tujuan pembangunan negara adalah untuk mewujudkan cita-cita nasional seperti yang dinyatakan dalam Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 (melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial).  Dalam implementasinya, pembangunan itu kita jalankan dalam berbagai aspek: ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan serta keamanan.

Cita-cita nasional hanya dapat diwujudkan di atas kompetensi moral yang kuat.  Bangsa ini tidak sekedar butuh menjadi lebih modern, namun yang tidak kalah penting adalah menjadi lebih berkarakter.  Benchmark dari karakter bangsa ini sebenarnya sudah diperlihatkan oleh para pendiri bangsa kita di awal-awal kemerdekaan, yang tergambar dalam lima sila Pancasila yang menjadi dasar kita bernegara.  Artinya, kita perlu kembali lagi pada sejarah bagaimana bangsa ini terbentuk, untuk dapat memahami bagaimana kita harus melangkah ke depan.  Akibat dari sikap abai pada sejarah dan pada karakter kebangsaan dapat kita lihat dari apa yang terjadi dengan Uni Soviet tahun 1991 dan Yugoslavia tahun 2003.

SEBERAPA KOMPETENKAH BANGSA INI SECARA MORAL?

Di tengah kemajuan teknologi informasi yang kita rasakan saat ini, tidak sulit untuk memperoleh gambaran obyektif tentang kecakapan moral bangsa ini di usianya yang sudah 75 tahun. Kita bisa melihat betapa susahnya memberantas korupsi pada saat jumlah peraturan perundang-undangan Indonesia mungkin salah satu yang terbanyak di dunia, dan berbagai lembaga penegakan hukum sudah dibentuk.  Tidak sulit juga untuk melihat perilaku tokoh-tokoh publik yang jauh dari kata teladan, yang bahkan dengan bangganya dipertontonkan kepada masyarakat.  Tidak sulit pula untuk melihat betapa masih tertatih-tatihnya kita membuat kebijakan publik yang konsisten, sinergi satu sama lain, sinkron antara pusat dan daerah, dan sebagainya.

Kita bangga dengan pencapaian pelajar-pelajar kita di berbagai even internasional, namun tidak sadar bahwa itu adalah buah dari kerja keras mereka sebagai individu, yang ditopang oleh sistem kebijakan internal sekolahnya yang bagus, BUKAN karena sistem pendidikan nasional kita yang sudah maju.  Sebelum pandemi Covid-19, berbagai cerita tentang bagaimana anak-anak di desa-desa terpencil harus bertaruh nyawa untuk sekedar sampai ke sekolah, guru yang harus berjuang antara hidup dan mati untuk bisa mengajar, fasilitas sekolah yang buruk, adalah hal yang umum kita semua ketahui (dan hebatnya lagi, beberapa kondisi itu terjadi di Pulau Jawa, yang nota bene satu pulau dengan Ibukota negara).  Saat pandemi, terlihat pula betapa belum siapnya kita menjalankan skema pendidikan modern yang berbasis internet, ketika di banyak tempat anak-anak harus berkumpul entah di tepi jurang, di balai desa, atau di pinggir kuburan hanya untuk mendapatkan sinyal dan akses internet yang stabil.  Masih banyak lagi cerita miris lainnya, yang daftarnya bisa sangat panjang.

Di saat kita sudah 75 tahun bernegara, kita masih disibukkan oleh hal-hal yang “receh”.  Persoalan-persoalan berlatarbelakang suku dan agama, adalah beberapa contoh bagaimana bangsa ini masih belum cukup cerdas dan modern cara berpikir dan sikap moralnya.  Tidak mengherankan, karena kelompok-kelompok ini mungkin melihat bagaimana cara berpikir dan sikap moral para “panutan” mereka, atau “wakil rakyat” pilihan mereka.  Tidak aneh, karena manusia-manusia “tanpa otak” sekalipun bisa disebut dan dipuja-puja sebagai “tokoh”.

Pencapaian kita memang banyak di 75 tahun ini, tapi ketika berbicara apakah semua pencapaian itu sudah mendekatkan kita pada terwujudnya cita-cita nasional seperti dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945, itu persoalan lain.  Menjawab pertanyaan “seberapa merdekakah kita” tadi, saya bisa mengatakan bahwa pada dasarnya kita bahkan belum merdeka dari diri kita sendiri, ketika para figur publik masih menjadi budak dari ego sektoral dan hasrat individu akan kekuasaan serta kepuasan diri sendiri.

Ada hal yang wajib diingat: bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak meninggalkan sejarah, dan sejarah bangsa ini dibangun di atas kompetensi moral.

Selamat memaknai 75 tahun perjalanan, negeriku!

Dirgahayu, tanah airku!

LAYANG KAGEM MAS DIDI KEMPOT

Ilustrasi dari musikan.net

Sugeng sonten Mas Didi Kempot yang sangat saya hormati dan kagumi,

Mau memberitahu sampeyan aja bahwa pagi ini saya syok banget membaca berita tentang kepergianmu.  Baru kemarin saya menyaksikan video klip Anda “Ojo Mudik” yang berisi himbauanmu untuk tidak mudik di tengah pandemi Covid-19 ini.  Belum lama juga saya menambahkan beberapa lagumu di playlist Youtube Music saya.  Lalu juga belum hilang dari ingatan saya menonton konser amal Anda di Kompas TV yang menghasilkan 7,5 miliar rupiah hanya dalam 3 jam untuk disumbangkan bagi penanggulangan wabah saat ini.

Sejauh ini Mas Didi, tulisan ini adalah tulisan pertama yang saya buat dengan mata berkaca-kaca, bahkan saya sudah beberapa kali menyeka air mata saya.  Ngga tau kenapa, tapi yang jelas Anda adalah selebritis Indonesia pertama yang saya kagumi.   Memang saya sudah kenal lagu-lagu lama Anda seperti “Stasiun Balapan” atau “Sewu Kuto” sejak dulu, bahkan itu lagu-lagu favorit saya kalau berkaraoke bersama keluarga.  Tapi sejak anak laki-laki saya mengenalkan beberapa lagu Anda lagi yang dia suka seperti “Kalung Emas”, “Layang Kangen”, “Banyu Langit”, “Cidro” dan tentu saja “Pamer Bojo” yang selalu bikin heboh itu, saya menjadi lebih intens mengikuti karya-karya Anda.

Lalu saya menjadi salah satu subscriber channel Youtube Anda, dan lagu serta suara Anda seolah bagian dari hidup saya sehari-hari sekarang.  Perjalanan saya di mobil ke manapun selalu diisi suara Anda.  Bekerja di kantor juga diiringi suara Anda.  Menunggu istri belanja juga diisi suara Anda di earphone saya.  Di rumah, buka Youtube ya cuma untuk mencari lagu Anda.  Anda memberi keceriaan, hingga pagi sebelum saya tulis surat ini, di mana untuk pertama kalinya berita tentang Anda menghadirkan kesedihan yang mendalam.

Saya belum pernah bertemu Anda.  Juga belum sempat nonton konser Anda.  Saya baru meniatkan untuk menonton konser Anda secara live, berdua dengan anak laki-laki saya, tapi Anda telah lebih dulu berpulang.   Meski demikian, bagi saya Anda sangat istimewa, seperti halnya bagi “Sobat Ambyar” yang lain.  Semakin mengikuti karya-karya Anda, semakin banyak alasan saya untuk memandang Anda sebagai sebuah sosok yang berbeda.  Anda bukan sekedar selebritis, bukan sekedar artis atau penyanyi biasa.   Anda adalah idola, inspirasi, dan pendobrak.  Tak heran meski usia Anda berjarak cukup jauh dengan sebagian besar generasi milenial penggemar Anda, Anda bisa begitu dekat dengan mereka.

Saya pernah menonton wawancara Anda yang dipandu oleh Gofar Hilman, penyiar radio Hard Rock FM Jakarta.  Itu saat Anda banyak bercerita tentang masa lalu Anda, bagaimana Anda menciptakan lagu-lagu Anda, dan bagaimana sikap Anda ketika banyak penyanyi lain mengambil keuntungan dari lagu-lagu yang Anda ciptakan.  Semua cerita Anda itu adalah “Wow” buat saya.  Banyak lagi cerita-cerita yang Anda sampaikan di berbagai kesempatan, kepada berbagai presenter, yang semuanya menggambarkan satu hal di mata saya: Anda adalah orang yang apa adanya.

Kostum Anda selalu sederhana.  Kaos, kemeja atau batik, itu yang paling sering saya lihat.  Paling mewah ya busana Jawa lengkap dengan blangkon­-nya.  Gaya Anda tidak dibuat-buat, entah itu saat manggung atau saat interview.  Anda berbicara sebagaimana Anda berbicara sehari-hari.  Logat Jawa Anda sangat kentara, dan itu tidak berusaha Anda tutupi.  Boso londone: “genuine”.  Seandainya waktu bisa diputar dan kita bisa melihat Anda di masa lalu, saya yakin tidak akan melihat banyak perbedaan dengan apa yang saya lihat dari Anda saat ini.  Seorang Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot yang orang-orang sekitar Anda kenal sejak Anda kecil adalah orang yang sama dengan yang dikenal generasi milenial hari ini.

Anda membuktikan bahwa menjadi “apa adanya” tidak akan membuat kita hina.  “Apa adanya” Anda justru menjadi pembeda Anda dari seleb-seleb lain yang cuma sibuk bikin sensasi, pamer ini itu, bikin berita plesir kesana kemari, tapi miskin prestasi.   Seleb-seleb yang—buat saya—cuma bikin sakit mata kalau buka situs berita.  Anda hanya tahu bagaimana berkarya, bikin lagu-lagu yang bertema sederhana dengan bahasa yang sangat gampang dicerna, yang menggambarkan hal-hal realistis dalam hubungan antar umat manusia.  “Apa adanya” Anda membuat musik Anda tidak lekang oleh modernisasi jaman.

Anda tidak sibuk mencitrakan diri Anda, meski Anda tahu penggemar Anda jutaan, tidak hanya di dalam tapi juga luar negeri.  Anda mungkin tidak kepikiran bikin channel Youtube kalau tidak ada yang memberi masukan dan membuatkannya untuk Anda (itu feeling saya lho Mas).  Anda tidak pernah memposisikan diri Anda di atas yang lain.  Anda penuh dengan empati dan apresiasi terhadap orang lain.  Gaya Anda di panggung juga “begitu-begitu saja”.  Tapi itulah hebatnya Anda, Mas Didi.  Anda memang tidak perlu membuat yang “aneh-aneh” di panggung atau di luar panggung, karena Anda sudah ditakdirkan membawa perbedaan dalam diri Anda sendiri.

Ketika karya Anda dijadikan bahan mencari keuntungan oleh orang lain, Anda hanya senyum-senyum saja.  Tapi Anda terus berkarya dan berkarya.  Anda meyakini bahwa keuntungan yang didapat orang lain dengan karya Anda adalah amalan untuk Anda.  Suatu sifat yang hanya dimiliki oleh orang-orang hebat, orang-orang besar.  Sebuah karakter yang orang-orang dengan label atau atribut “pejabat”, “orang penting”, “wakil rakyat” bla bla bla sekalipun belum tentu memilikinya.  Karakter yang menunjukkan bahwa Anda adalah seorang pemenang.

Anda dibesarkan dengan karya Anda.  Anda dididik oleh kehidupan Anda sendiri, yang keras dan penuh pahit getir.  Mengamen di jalanan, di bis kota, mengadu nasib dan ngekos di kamar sempit di Jakarta, ditolak label rekaman, dan berbagai cerita pahit lainnya.  Itu yang membesarkan Anda, dan menjadikan Anda seperti sekarang.  Didi Kempot yang sederhana, apa adanya, penuh empati, merakyat dan bisa dekat dengan siapa saja meskipun ngetop-nya sudah ngga ketulungan.

Dari Anda, saya semakin yakin bahwa menjadi diri sendiri adalah yang utama bagi setiap orang, karena kita tidak akan pernah menjadi sama dengan orang lain, sekeras apapun kita mencobanya.  Dan kita memang tidak perlu mencoba menjadi seperti orang lain.  Tuhan menciptakan diri kita berbeda dengan yang lain, dan di dalamnya Tuhan menanam benih-benih talenta, berkat, dan kelebihan sejak kita dilahirkan.  Tidak perlu mengeluhkan apa yang tidak kita punya, karena pada dasarnya orang lainpun banyak yang tidak memiliki apa yang kita miliki.  Menjadi diri sendiri adalah tentang bagaimana kita menghargai dan mensyukuri apa yang Tuhan sudah berikan untuk kita, dalam wujud lahir dan bathin kita.

Anda memberi teladan bagaimana mencintai apa yang kita kerjakan.  Anda memberi jiwa di setiap lagu Anda, bukan sekedar rangkaian nada dengan lirik yang hampa.  Anda mengangkat hal-hal yang sehari-hari ada dalam kehidupan kita, sehingga tidak sulit bagi siapapun untuk mencernanya.  Lirik, nada, dan musik-musik Anda simpel, tidak rumit, dan sekalipun sebagian besar dalam Bahasa Jawa, semua orang bisa memahaminya.  Itu karena musik adalah sesuatu yang Anda tekuni dengan cinta, passion, sehingga siapapun yang mendengar lagu Anda serasa sedang mendengarkan sebuah seruan hati, bukan sekedar rangkaian kata-kata. Tidak aneh bila anak-anak muda sekalipun bisa menangis di konser Anda, dan tidak aneh pula bila karya-karya Anda bisa diterima berbagai kalangan, mulai kaum elite sampai masyarakat kebanyakan, menerjang batas usia, suku, etnis, agama, bahkan batas negara.

Anda memberi contoh bagaimana membangun hidup yang bermanfaat bagi banyak orang.  Musik Anda sendiri sudah menjadi sumber hiburan jutaan manusia.  Ditambah lagi empati Anda yang luar biasa bagi mereka yang berkekurangan.  Anda mengadakan konser amal dari rumah untuk mereka yang terdampak wabah belakangan ini, dengan “menawarkan” suara dan lagu-lagu Anda.  Anda bahkan “membiarkan” orang lain memanfaatkan lagu Anda untuk keuntungannya sendiri, tanpa minta ijin atau memberi tahu Anda.  Lagu-lagu Anda adalah representasi suara banyak orang, corong untuk berbagai jeritan.

Dari Anda pula saya memiliki optimisme akan generasi muda kita, yang dengan bangga melabelkan diri mereka sebagai “Sadbois” dan “Sadgirls” dalam komunitas besar “Sobat Ambyar”.  Mereka adalah perlambang bahwa musik kita, sekalipun dengan genre tradisional kedaerahan, masih mendapat tempat istimewa di hati kalangan muda.  Saya selalu takjub melihat setiap video konser Anda, di mana anak-anak muda itu tidak hanya berjoget, melainkan hafal setiap kata di lagu yang Anda nyanyikan.  Mereka luar biasa, dan itu karena Anda.

Sekarang, mendengarkan lagu-lagu Anda tak akan terasa sama lagi.  Kalau dulu mendengarkan lagu-lagu Anda adalah keceriaan, atau tangisan suara hati, kini mendengarkan lagu-lagu Anda akan terasa seperti merangkai mozaik kenangan.  Kenangan yang Anda tinggalkan di setiap lirik lagu Anda, kenangan akan seseorang yang sederhana yang mencintai pekerjaannya, dan membaktikan hidupnya untuk kemaslahatan banyak orang.  Ya, sekarang mendengarkan lagu Anda adalah sebuah kilas balik mengenang seorang legenda, seorang “Maestro”, seorang musisi hebat yang setia menjadi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Sang Pencipta yang sangat mencintaimu lebih memahami apa yang terbaik.   CintaNya jauh lebih besar dari cinta para penggemarmu.  Bila kemarin orang menangis karena lirik lagu Anda, sekarang orang menangis karena Anda.   Terima kasih, Mas Didi.  Selamat jalan dan selamat beristirahat dalam kedamaian, The Godfather of Broken Heart.

Ati sing ambyar sak ambyare, 5 Mei 2020

MENDIDIK INDONESIA

Ilustrasi dari siedoo.com

Ketika saya berkesempatan menempuh pendidikan S-2 di Australia tahun 2008, anak sulung saya berkesempatan pula bersekolah di sebuah sekolah dasar (primary school) di kota Queanbeyan, NSW.  Sebuah kota kecil yang tenang tempat kami sekeluarga tinggal, hanya sekitar 15 menit berkendara dari ibukota Australia, Canberra.  Dia berada di kelas IV (4th grade) di sekolah itu.  Jam sekolahnya dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore.  Siswa di situ selalu mendapat PR setiap hari Senin, dan “dikumpulkan” hari Jumat setiap minggunya.

Saya selalu membaca lembar kertas PR yang dibawa anak saya setiap hari Senin itu, dan isinya sangat menarik perhatian saya.  PR itu hanya berupa 1 lembar kertas yang di dalamnya berisi tugas-tugas sederhana untuk diselesaikan siswa selama seminggu; ada matematika, ada Bahasa Inggris, dan beberapa pelajaran lain.  Matematikanya sangat gampang untuk ukuran siswa dari Indonesia—anak saya sudah mempelajari materi-materi itu di kelas II dan III di sekolahnya di Bogor.  Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya.

Setiap minggunya, selalu ada pelajaran yang isi PR-nya berbunyi kira-kira begini: “Buka website bla bla bla dot co dot au.  Jawab semua pertanyaan di dalamnya.  Bila ada yang tidak bisa kamu jawab, sampaikan di depan kelas pada hari Jumat”.  Saya pernah mengikuti anak saya mengerjakan soal sesuai petunjuk lembaran PR-nya itu; sebagian besar bisa dia jawab, tapi ada juga yang tidak.  Semula anak saya meminta bantuan saya untuk menjawab soal yang dia tidak bisa jawab itu, tapi saya katakan padanya untuk mengikuti petunjuk dalam lembar PR-nya: catat yang tidak bisa kamu jawab, sampaikan di depan kelas hari Jumat.

Karakter, Bukan Sekedar Ilmu Pengetahuan

Suatu hari ketika menjemput anak saya di sekolahnya, saya berkesempatan berbincang dengan gurunya, dan menyampaikan ketertarikan saya dengan model PR yang diberikan sekolah kepada siswanya.  Guru tersebut mengatakan: “Kami paham bahwa soal-soal yang ada di lembar PR itu sangat mudah untuk ukuran siswa dari Asia seperti anak Bapak.  Tapi dalam keyakinan kami, mendidik bukan sekedar soal membuat anak-anak ini bisa membaca, menulis, dan berhitung.  Kalau cuma itu, selama anak-anak ini diberi buku pelajaran, diajari dan dilatih dengan soal-soal, mungkin cukup 6 bulan mereka sudah pandai membaca, menulis, dan berhitung.  Itulah yang diberikan sekolah.  Tapi ketika membangun karakter, kita harus mulai sejak dini, dan itu yang kami lakukan di sini.  Kami tidak sekedar membangun sekolah, kami membangun tempat mendidik”.

“Maksudya?”, tanya saya.

“Coba Bapak perhatikan bagian soal yang berisi tugas untuk membuka sebuah website dan menyampaikan di depan kelas soal-soal di website itu yang tidak bisa dijawab siswa”, jawab Guru tersebut.

“Ya, saya melihat itu”

“Nah, itulah sebenarnya intinya”

“Maaf, saya kurang paham maksud Anda”

“Negara kami merancang model tugas yang seperti itu sebagai bagian dari pendidikan karakter anak.  Anak akan dituntut untuk jujur pada dirinya sendiri.  Dia harus mengerjakan sendiri sebatas yang dia mampu.  Ketika ada hal-hal yang tidak bisa dia jawab, maka dia harus punya keberanian untuk mengakuinya, dengan cara menyampaikan di depan kelas.  Di sisi lain, anak-anak yang mampu menjawab soal itu harus mau berbagi ilmu dengan temannya, dengan cara menceritakan bagaimana dia menjawab soal itu”

“Bagaimana bila tak ada satupun yang bisa menjawab soal itu?”

“Di situlah peran saya sebagai Guru”

Kejujuran, Empati dan Kohesi Dari Ruang Kelas

Karena penasaran, di suatu hari Jumat saya luangkan waktu untuk melihat apa yang dikatakan Bu Guru tadi.  Kebetulan setiap kelasnya memiliki jendela yang cukup bagi saya untuk mengintip bagaimana kelas anak saya berjalan.  Yang saya lihat betul-betul membuat saya kagum.

Di dalam kelas seorang teman anak saya sedang menyampaikan apa yang dia tidak bisa kerjakan di website yang sudah ditugaskan.  Lalu seorang anak lain mengacungkan tangan, kemudian ikut maju ke dapan kelas menyampaikan bagaimana dia menjawab soal itu.  Seorang anak lainnya ikut nimbrung menjelaskan versinya sendiri dalam menjawab soal itu.  Akhirnya muncul diskusi di seluruh kelas, dan sepanjang diskusi berlangsung, Bu Guru hanya duduk saja dan mengamati dari sudut belakang kelas.

Setelah diskusi selesai, semua siswa kembali duduk.  Lalu Bu Guru menjelaskan hal-hal yang dia amati dari diskusi tadi.  Dia menyampaikan penghargaannya atas kejujuran siswa yang tidak bisa menjawab soal, dan juga kepada siswa yang mau membagikan pengetahuannya dalam menjawab soal itu, serta kepada seluruh kelas atas partisipasinya dalam diskusi.  Tidak ada satu katapun dari mulutnya yang menyalahkan si A atau si B, sekalipun model pendekatan yang disampaikan beberapa siswa dalam menyelesaikan soal itu berbeda-beda.  Semua dihargai.

Satu hal menarik lagi adalah bahwa model bangku di sekolah anak saya tidak “klasikal” seperti umumnya di sekolah-sekolah Indonesia: semua meja dan kursi menghadap ke depan, ke arah papan tulis dan meja/mimbar Guru.  Di sekolah anak saya, susunan bangku dibuat berkelompok: satu meja 4-5 orang.  Susunan yang demikian membuat anak-anak saling melihat rekan-rekan satu kelompoknya, memudahkan diskusi, dan membangun kohesi satu sama lain.  Menurut anak saya, kelompok-kelompok itu diubah setiap dua minggu.

Pendidikan Bukan Soal Angka, Nilai, atau Skor

Guru lebih banyak berada di belakang kelas, membiarkan para siswa membangun diskusinya sendiri, menyelesaikan masalah sejauh kemampuan mereka, dan mengembangkan interaksi serta keterbukaan satu sama lain.  Tapi ini bukan berarti Guru tidak memantau perkembangan murid-muridnya.  Hal itu dapat saya buktikan setiap anak saya menerima rapor.

Rapor di sekolah anak saya selalu berisi “word picture”.  Intinya adalah menggambarkan pencapaian si anak dalam kata-kata: apa keunggulan/kelebihan si anak, apa kelemahan/kekurangannya, potensi apa yang dapat dikembangkan dari si anak, saran kepada orang tua, dan lain lain dengan detail yang sangat jelas.  Ini berarti Guru harus memiliki pemahaman yang personal terhadap murid-muridnya, satu demi satu.  Tanpa itu, tidak mungkin bisa membuat isi rapor dengan gambaran yang sebegitu detailnya, berbeda-beda untuk tiap murid.

Substansi rapornya pun sangat menggugah.  Sekolah selalu menghargai potensi anak, apapun itu.  Saya jadi teringat obrolan dengan Bu Guru, bahwa yang terpenting adalah mendidik, bukan sekedar bersekolah.  Itu sebabnya di lembar rapor tidak pernah ada angka, dan tidak ada ranking.  Aspek kualitatif lebih penting ketimbang sekedar skor, nilai, angka, ranking, dan sebagainya.

Setiap anak punya potensinya sendiri, dan setiap potensi pasti bermanfaat tidak hanya buat si anak, tapi buat masyarakat di kemudian hari.  Anak yang susah memahami matematika misalnya, apakah berarti dia bodoh?  Mungkin memang potensinya bukan di hitung-menghitung, melainkan di seni misalnya, atau linguistik, atau ilmu sosial (humaniora).  Apakah ilmu-ilmu itu tidak bermanfaat?  Anda tahu jawabannya.

Nah, masalahnya sistem pendidikan kita menuntut anak untuk menguasai ilmu-ilmu pelajaran di sekolah secara seragam.  Nilai matematika minimal harus 75 misalnya, kalau tidak si murid harus ikut ujian ulang, bahkan tidak naik kelas.  Padahal potensinya memang bukan di situ.  Ketika dituntut sedemikian rupa, demi bisa bertahan di sekolah, si murid bisa saja menghalalkan segala cara, yang penting skornya nanti bagus.  Dia akan menyontek, mencuri soal, minta bocoran soal ke Guru (melalui orang tua misalnya), dan lain-lain.

Di sisi lain, model pemeringkatan sekolah oleh kementerian atau otoritas pendidikan kita juga membuat sekolah-sekolah saling berlomba untuk mendapatkan “predikat yang baik”.  Siswanya harus lulus semua, naik kelas semua, nilai rata-rata sekolahnya harus tinggi di kabupaten/kota/provinsi, dan seterusnya.  Lagi-lagi, ini membuat sekolah-sekolah melakukan berbagai upaya, termasuk cara-cara haram seperti memberi bocoran kepada siswanya, menyuap otoritas, dan lain-lain.

Pada akhirnya kita melihat sekolah justru menjadi tempat yang mengajarkan hal-hal yang tidak baik.  Menyontek atau mencari bocoran adalah bentuk lain dari mencuri.  Kebiasaan mencuri yang tanpa sadar ditanamkan oleh sekolah akhirnya menjadi bibit-bibit kebohongan yang seiring waktu tumbuh subur di dalam diri para murid.  Maka jangan heran ketika si murid ini suatu hari menjadi seorang koruptor, penyebar informasi palsu, perundung, atau bahkan pembunuh.  Itu karena sejak dia sekolah, dia sudah “diajari” hal sederhana: berbohong, tidak jujur pada dirinya sendiri, dan tidak mau mengakui kekurangannya.  Diajari untuk abai terhadap kualitas internal dirinya, yang penting kelihatan “mentereng” di luar.

Pendidikan Adalah Investasi Bangsa, Bukan Proyek

Anggaran pendidikan kita dialokasikan 20% dari APBN setiap tahunnya, sesuai amanat Amandemen UUD 1945.  Ini bukan angka yang kecil, dan bila dikelola dengan benar, semestinya pendidikan kita sudah maju pesat sekarang.  Sayang sekali, dunia pendidikan kita “masih di situ-situ saja”.

Alokasi APBN yang besar dan berasal dari uang rakyat itu semestinya bisa membangun sebuah sistem pendidikan yang mengutamakan pembentukan karakter bangsa, bukan sekedar menjejalkan ilmu-ilmu pengetahuan.  Karakter yang berisi kepribadian yang jujur, penuh empati, mengedepankan kepentingan bersama, dan mencintai bangsanya.  Pendidikan karakter jelas bersifat lebih kualitatif ketimbang kuantitatif.   Prosesnya juga butuh seumur hidup, dan harus dimulai sejak dini.

Kurikulum harus disusun sedemikian rupa agar peserta didik di berbagai strata, mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, menyadari arti penting kejujuran, empati, dan nasionalisme.  Membuat model pendidikan yang seperti itu jelas tidak gampang, tapi itulah yang harus dilakukan setiap bangsa yang ingin maju.  Jadi anggaran pendidikan tidak habis hanya sekedar untuk sebuah kurikulum yang asal ada, yang penting bisa cetak buku atau modul baru secara nasional.  Lalu kalau nanti ada yang harus diperbaiki ya tinggal bikin proyek baru lagi, ajukan anggaran lagi dan seterusnya dan sebagainya.

Memberikan gaji atau tunjangan lebih besar kepada para guru harus diikuti dengan peningkatan kualitas guru atau tenaga pendidik.  Jadi penambahan kesejahteraan materiil para guru juga harus menjamin peningkatan tanggung jawab mereka sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.  Bukan sebaliknya, sudah digaji lebih malah mengajar asal-asalan, tidak peduli muridnya bisa atau ngga, yang penting jamnya mengajar ya mengajar, beri tugas ke murid, setelah itu pulang.

Anggaran pendidikan yang besar juga harus menjamin pendidikan menjangkau semua lapisan masyarakat, sampai pulau-pulau terluar di negeri ini.  Pendidikan harus murah—kalaupun tidak gratis, dan semua orang harus punya kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan yang baik, di manapun mereka berada.  Infrastruktur harus tersedia secara memadai, jadi murid dan guru tidak perlu was-was sekolahnya roboh atau bocor ketika ada hujan atau angin besar.  Infrastruktur itu harus menjangkau masyarakat yang terpencil sekalipun, sehingga mereka tidak perlu berjuang meniti tali menyeberangi sungai deras hanya untuk bisa sekolah, atau menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai di ruang kelas.

Kita mempertaruhkan nasib bangsa ini di masa depan dengan membangun sistem pendidikan kita.  Ketika hari ini kita membangun pendidikan dengan ala kadarnya, jangan kaget kalau suatu hari nanti Indonesia hanyalah sebuah nama di buku-buku sejarah dunia, sebagai sebuah bangsa yang pernah ada, tapi hancur oleh dirinya sendiri.

Selamat memaknai Hari Pendidikan Nasional, Indonesia!

Bogor, 2 Mei 2020

PERSPEKTIF

Foto koleksi pribadi.

Gegara COVID-19, sudah sekitar 3 minggu saya bekerja dari rumah alias Work From Home (WFH), meski sempat beberapa kali ke kantor karena ada hal yang mengharuskan kehadiran fisik di tempat kerja.  Saat sedang tidak ada pekerjaan dari kantor yang harus saya kerjakan di rumah, salah satu kesibukan yang saya pilih adalah belajar menggambar 3-dimensi (3D drawing).  Di Youtube, channel yang mengajarkan cara menggambar 3D kebetulan banyak, jadi ngga susah buat belajar.

Manfaatnya lumayan juga.  Selain sebagai pengisi waktu luang, kemampuan kognitif dan motorik saya terjaga, lalu dengan goresan-goresan pensil dan spidol di secarik kertas polos saya bisa belajar sesuatu yang baru, dan hasilnya cukup bisa memuaskan mata untuk ukuran seorang pemula yang masih sekedar menirukan apa yang dikerjakan oleh para ahli di berbagai channel itu.   Bisa sedikit “pamer” juga ke anak-anak dan memperoleh apresiasi mereka (walaupun mungkin terpaksa karena itu bikinan Bapaknya hehehe…).

==========================

Mereka yang paham atau minimal pernah menggambar 3D tentu mengerti bahwa ilusi 3 dimensi dari sebuah gambar yang sebenarnya 2 dimensi dan dilukis di atas sebidang kertas itu diperoleh ketika gambar tersebut dilihat dari satu sudut padang tertentu.  Artinya, gambar itu akan terlihat 3 dimensi hanya dari satu perspektif yang tepat.  Sebuah huruf yang mengambang misalnya, hanya akan terlihat mengambang dari satu angle.  Dari angle yang lain, ia hanya akan terlihat seperti gambar sebuah huruf biasa dengan sedikit arsiran di dekatnya (yang menjadi “bayangan” huruf itu ketika terlihat 3 dimensi).  Ilusi yang dimunculkannya adalah persoalan perspektif.

“Perspektif” sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi manusia dan kehidupan yang sudah ribuan tahun ada di bumi ini.  Setiap hari kita lekat dengan perspektif.   Apa yang kita pikirkan tentang sesuatu sebenarnya adalah perspektif kita, yang berbuah pada tindakan kita atas sesuatu itu.  Ketika sesuatu yang sama dilihat oleh orang lain secara berbeda, artinya perspektif orang itu juga berbeda.  Dengan kata lain, ia melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.  Alhasil, tindakannya atas sesuatu itu juga tidak akan sama dengan tindakan kita.

Dalam konteks sosial, perspektif layaknya pelangi.  Ia berpola sama, tapi warnanya macam-macam: merah, jingga, kuning, hijau, dan sebagainya.  Artinya, semua orang punya perspektif terhadap satu hal yang sama, tapi hasilnya bisa berbeda.  Perspektif adalah sebuah heterogenitas yang abstrak, ngga keliatan di mata tapi terasa dampaknya.  Perspektif bukan sebuah keragaman yang bisa dilihat kasat mata seperti suku, agama, warna kulit, etnis, pangkat, jabatan dan sebagainya.   Sangat abstrak, tapi tidak semu.

Kembali ke contoh gambar huruf mengambang tadi (yang saya jadikan ilustrasi tulisan ini), dari sudut mana seseorang melihat gambar itulah yang akan menghasilkan interpretasi di pikirannya.  Tindakan yang mungkin muncul adalah sebuah kesimpulan verbal ketika seseorang akan berkata “Ah, itu gambar huruf biasa” atau “Oh, itu huruf yang mengambang di udara”.

==========================

Sejarah umat manusia pada dasarnya juga dibentuk dan ditentukan oleh perspektif-perspektif.  Adam dan Hawa menjadi berdosa dalam perspektif Tuhan karena mereka melihat sesuatu dari sudut pandang iblis, sehingga Tuhan marah dan menghukum mereka (setidaknya itu yang diajarkan dalam keyakinan yang saya anut).  Perang Dunia II dipicu oleh perspektif seorang Adolf Hitler terhadap bangsa Yahudi.  Kebangkitan nasional Indonesia tahun 1908 didasari pada sebuah perspektif kebangsaan dari seorang Dr. Soetomo, begitu pula Sumpah Pemuda 1928 oleh kelompok-kelompok pemuda Indonesia.

Perspektif membentuk cara berpikir.  Cara berpikir membentuk cara bertindak atau melakukan sesuatu.  Cara bertindak membentuk budaya, dan budaya membentuk peradaban.  Perspektif pada dasarnya adalah akar dari semua mekanisme, metodologi, dan cara-cara kita menjalani kehidupan hari ini, mulai dari yang paling simple sampai yang paling rumit.  Perspektif jugalah dasar dari segala keputusan yang kita ambil; dengan perspektif yang tepat, keputusan kita pasti tepat.  Demikian juga sebaliknya.  Perspectives make what we are today.

Apa yang manusia lihat dalam kehidupan saat ini mungkin sudah baik dan memuaskan, dalam arti kita memperoleh banyak kemudahan, keleluasaan, dan lain-lain.  Sebaliknya, sebagian orang masih melihat banyak yang belum ada, yang perlu diubah, diperbaiki, dan sebagainya.  Itulah yang menghasilkan perbedaan di antara umat manusia.  Perbedaan yang oleh sebagian orang dimaknai sebagai keragaman, kekayaan, atau warna kehidupan, tapi oleh sebagian yang lain dipahami sebagai pertentangan.

==========================

Perspektif adalah bagian yang melekat atau inherent dengan manusia dan kehidupan itu sendiri.  Perspektif adalah salah satu anugerah terbesar Tuhan karena itulah yang membentuk kemanusiaan kita.  Manusia tanpa perspektif hanyalah seonggok daging yang bernyawa, tapi sejatinya tidak “hidup”.  Jadi, bersyukurlah ketika sebagai seorang manusia, anda punya perspektif terhadap sesuatu, sekalipun itu berbeda dari perspektif orang lain.

Kehadiran perspektif tidak pernah salah.  Yang salah—dan berbahaya—adalah ketika perspektif itu menjadi sebuah “keyakinan” yang mati.  Perspektif yang seperti itu yang kita lihat dalam bentuk “fanatisme” yang justru menghasilkan kerusuhan, keributan, pertikaian, bahkan perang.  Sejarah kita juga sudah membuktikan dengan banyak contoh: dua kali perang dunia, perang lokal di berbagai negara atau wilayah negara, terbunuhnya pemimpin negara, pemberontakan-pemberontakan, sampai kerusuhan antar kampung yang kerap terjadi.

Perspektif itu sendiri dinilai atau ditakar kebenarannya oleh karakteristik sosial masyarakat tempat manusia itu berada.  Artinya begini: perspektif si A bisa dikatakan “salah” ketika norma-norma dalam karakteristik sosial di tempat si A berada tidak bisa menerima perspektif itu.  Di tempat lain dengan karakteristik sosial yang berbeda, mungkin perspektif si A bisa diterima atau dianggap benar.  Begitulah kira-kira.

==========================

Perspektif yang “salah” atau “tidak sehat” itu bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor.  Namun, seperti apapun anatomi sosial masyarakat, saya melihat faktor keterdidikan masyarakat menjadi hal terpenting agar perspektif yang “salah” bisa diminimalisir atau bahkan ditiadakan.  Kalaupun ada, ya masih bisa dikendalikan.  Keterdidikan yang saya maksud adalah keterdidikan yang bersifat holistik, madani, membangun moralitas, dan membentuk kemanusiaan manusia.  Bukan keterdidikan yang semata-mata disimbolkan dengan gelar akademis atau riwayat sekolah yang panjangnya dari Kutub Utara sampai Kutub Selatan.

Kejadian penolakan terhadap jenasah seorang perawat yang meninggal karena terinfeksi Covid-19 setelah ia berjuang menyelamatkan sekian pasien yang sudah terjangkit di sebuah rumah sakit di Jawa Tengah misalnya, adalah contoh bagaimana tingkat keterdidikan menjadi penentu terbentuknya sebuah perspektif yang “salah”.  Para provokator yang sudah jadi tersangka itu adalah tokoh masyarakat di desa tersebut, yang saya yakin pendidikan akademisnya lumayan lah.  Alasan mereka (tindakan verbal menyatakan penolakan) lahir dari satu perspektif: jenasah tersebut terjangkit virus Corona.

Keterdidikan yang dibentuk dari pengetahuan yang minim tentang wabah ini membutakan mata mereka terhadap pemahaman yang tidak sekedar bersifat medis (bahwa jenasah positif Corona yang sudah diperlakukan dengan protokol penanganan virus tersebut tidak berbahaya bila sudah terkubur) namun juga terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.  Orang-orang bodoh itu telah melihat dari perspektif yang salah.  Seandainya mereka melihat dari angle yang lain, misalnya bahwa di perawat ini sudah berjasa besar menyelamatkan nyawa orang-orang yang dinyatakan terjangkit—yang mungkin juga berasal dari kampung mereka—maka penilaian verbalnya akan mengatakan “Dia seorang pahlawan, mari kita sambut dan doakan agar dia beristirahat dalam damai”.  Perspektif konyol mereka telah membunuh moralitas, nilai kemanusiaan, dan pada akhirnya “mengorbankan” masyarakat mereka sendiri.

==========================

Bagaimana kita membiasakan diri memanfaatkan perspektif atau cara memandang sesuatu dalam hidup kita pada akhirnya menjadi benih yang membentuk diri, derajat, martabat, dan kehormatan kita.  Orang-orang yang bijaksana dan luhur budi pekertinya pastilah orang-orang yang terbiasa melihat sesuatu dari berbagai perspektif berbeda.  Mereka adalah orang-orang yang ingin mendapatkan gambaran utuh tentang suatu hal, dan selalu percaya bahwa ada sesuatu yang baik dari apa yang terlihat tidak baik.  Orang-orang yang selalu positif, optimis, namun tetap menjejakkan kakinya di atas realitas.  Yang jelas, mereka pasti bukan para perundung, pengeluh, atau pencaci, melainkan orang-orang yang hidupnya dipenuhi ungkapan syukur kepada Sang Pencipta Kehidupan.

Seperti gambar 3D tadi, dari satu sisi ia hanya terlihat seperti sebuah huruf biasa yang tidak istimewa, yang bisa dibuat siapa saja.  Tapi ketika dilihat dari sisi yang berbeda, ia akan terlihat sebagai sebuah karya seni, yang perlu waktu, tenaga serta keterampilan untuk membuatnya.  Di tengah situasi sulit akibat pandemi Covid-19 seperti sekarang, ketika segala sesuatu seolah memudar dan suram, mari kita melihat dari perspektif yang lain, dari sudut pandang yang berbeda.  Saya yakin, ada maksud Tuhan yang masih tersembunyi untuk kita ungkap…….tentu saja melalui perspektif yang tepat.

Di rumah aja, 15 April 2020

NOT THE SAME AGAIN

Courtesy: getrealphilippines.com

Coronavirus disease (Covid-19) outbreak.

One of or all those above words might be used by future generations to mark one among many that has happened in human civilization. Later in our grandchildren or grand grandchildren school books, those words will refer to “a milestone” marking a change in how life is run up to their time.

Well, our world is no stranger to change.  Our civilization evolves from time to time for various reasons: war, disease, and technology are among others.  Every generation has its own way of living, and some “lucky” generations like us—aged 40 to 60 years today—have gone through more than one living style.

What has changed today?

This Covid-19 outbreak has by far changed some parts of our life.  Now everyone is forced to get even closer to their gadgets.  We recently avoid shaking hands, and introduce new styles of saying hello to others.  Students and office workers are more familiar to teleconference, remote classes, and many more.  Lately also, we are getting used to keep physical distance with others.  Things we never thought before that we will have to go through those today.

Historically, this phenomenon is not strange, once again, but the ratio between the scale versus the speed of the spread is.  Our new “habits” are formed in just a matter of months, instead of years or generations.  Driven by panic and little knowledge of what actually happens and how to deal with it, we tend to accept what is told, be it by authorities, friends, or even somebody we only know in our social media.  “We have to change things”, that’s all we know…and then do.

Let’s look deeper at a simple instance.  By working from home, parents will get closer to children—who are also studying from home.  This will elevate the quality as well as quantity of interaction, and in turns give parents new perspectives on how their children struggle in their studies.  Also resulted from this so called “WFH” is necessity for parents to understand a little deeper how social media work, otherwise they will not be able to perform their job.  Fathers will go more frequently to kitchen—at least now they do dishwashing even better than mothers do.

The use of network data increases significantly, so does consumption of clean water.  The use of bio-fuel, on the other hand, declines as cars are retreated home.  Neighborhoods become cleaner and quieter, since people stay at home.  However, level of anxiety raises: anxious of being infected, worry of not having enough daily supplies, and of course, anxious of how life can be sustained when you stop working.

What will this outbreak bring for our future?

Despite all the hardships humankind have to get through these days, this unexpected outbreak might lead us to many good deeds in the future.  Healthy living is just one example: hand-washing habit, greater care to environment and personal cleanness, and many more.  The rise of empathy to others is also a good value this outbreak brings.  Stronger family ties is another one to mention.  Anyone of you might have your own to say to make this a long list to read.

We can also expect to have some new models in doings things.  Some offices might find working from home is quite effective: it reduces daily operational cost, saves electricity consumption, etc.  Some schools might also find studying from home is not a bad idea.  One challenge in doing so, perhaps, is availability of network.  A network not only sufficient to support connection from different distant places, but also with good sustainability.

The mankind will also find an increasing need of clean water.  This will raise nation awareness, as well as global challenge, of sustaining clean water resources for the future.  Consequently, researches on natural resources will also be broaden to find alternatives of providing clean water for people.  Rivers will be cleaned up, and reservoirs will be built more or widened.  Cities will also be built with better guarantee to clean water access.

Will the change be always good?

Basically, a new civilization replaces the old one.  However, we can find many example on how people can maintain good values from time to time, regardless how civilization changes for ages.  In Indonesia for example, there are many areas in which we can see local wisdoms are maintained while at the same time we trust our mobile phones more than we do to ourselves.  Japan is also a good example in how modern technologies live side by side with traditional philosophy or belief that has last for thousands of years.

My highlight is this: we expect changes in many aspects of our life.  However, this Covid-19 is something different in terms of changing how people can mingle with each other.  We might see that handshaking will not be common anymore, let alone cheek-kissing and hugging.  Greeting someone with “Namaste” style gesture might be more visible in the future.  We might also find keeping reasonable physical distance during talks or meetings makes us feel safer, even with someone we know in day-to-day basis.

Is it good?  It depends, I believe.  Moreover, the more substantial issue is not whether it is good.  The challenge for us is how to maintain good spirit in social relationship regardless how we should or would behave in physical terms.  Yes, the danger this outbreak can bring for us is negativity in seeing others.  When we see people sick for example, we might easily think “Be careful, he might be infected!”  Negativity is what we have to deal with—and overcome—when we live post this outbreak.

Well, we might have a stronger internet connection as we will work more from home than from office, or better water supplies, or better network-based methodologies in doing things, or many other things.  But when our thoughts are occupied with negativity, our core of civilization i.e. social cohesion will be in danger.  I have written before (in Bahasa Indonesia) that when we are mistaken in dealing with this issue, it is not simply human fatalities that we have to face, but more importantly, the death of civilization.

Humans are created social beings.  That’s what makes communities, societies, and nations.  That’s what makes the world we are living in.  That’s what makes us today.  Cohesion among individuals is what forms the way we live, the way we behave, the way we treat ourselves and others.  That’s what this outbreak will hit and defeat, if we welcome negativity to our minds.

Now, it’s time to learn to appreciate life, and what it has given to us.  Time to learn to support and care of each other, or to do so more than before.  Indeed, everything will not be the same again, but let’s stay positive.  That’s what makes us still human beings.

Home, 31 March, 2020

(BUKAN) SOAL CORONA

(Courtesy: scdn.slashgear.com)

Wabah virus Corona (COVID-19) sudah tidak asing lagi di mata dan telinga kita belakangan ini.  Sekarang semua orang melihat bahwa wabah yang oleh WHO sudah ditetapkan sebagai pandemik ini benar-benar tak pandang bulu.  Mulai dari orang kebanyakan, dokter, pejabat negara, perwira militer, atlet profesional sampai selebriti Hollywood sudah ada dalam daftar panjang mereka yang positif terinfeksi.  Sebuah kasus yang luar biasa.

Saya tidak akan bicara soal wabah ini, karena jelas ini bukan kompetensi saya.  Sayapun tidak akan menyodorkan statistik-statistik, data apalagi analisa akademis soal COVID-19.  Jelas saya awam sekali soal itu.  Saya—seperti biasa—hanya akan melihat ini dari perspektif psikologi sosial, dan mengingatkan kita semua bahwa menyikapi isu ini secara tidak terkendali, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, akan membawa kita pada bahaya yang jauh lebih besar dan mematikan.

Wabah ini sudah jelas menimbulkan kepanikan masif di berbagai belahan dunia.  Di Indonesia orang-orang jahat tega menimbun masker untuk dijual dengan harga puluhan bahkan ratusan kali lipat.  Lalu pasar juga kehabisan jahe merah, yang konon bagus untuk menangkal Corona.  Di Australia, orang kehabisan tisu toilet, pasta dan keju.  Di Italia semua kegiatan olahraga (termasuk Serie A yang kesohor itu) dihentikan, atau dimainkan tanpa penonton.  Amerika Serikat sudah melarang pendatang masuk dari Eropa (kecuali Inggris).  Dan masih banyak lagi.

Belum lagi apa yang ada di media sosial (medsos).  Berbagai postingan muncul di berbagai lini massa, apakah itu berupa tips menangkal Corona, meme-meme ngeledek, foto-foto dan video yang belum jelas kebenarannya, hingga berbagai teori konspirasi tentang siapa yang sebenarnya berada di balik wabah ini.  (Saya membayangkan betapa besarnya keuntungan para provider jasa telekomunikasi di tengah wabah dunia ini hehehe…).  Semua soal Corona, Corona, dan Corona.

——————–

Perjalanan sejarah dunia kita sudah tidak asing dengan yang namanya wabah penyakit (sebagai catatan: istilah “quarantine” atau “karantina” justru muncul gegara wabah penyakit pes atau “black death” yang mematikan jutaan orang di Venesia, Italia pada abad ke-13).  Sekarang kita bisa menyebutkan beberapa contoh wabah dengan gampang: kolera, TBC, malaria, demam berdarah, HIV AIDS, Ebola, SARS, MERS, H5N1.  Semuanya sudah membunuh ribuan bahkan jutaan orang.  Artinya, wabah seperti halnya Corona bukan sesuatu yang baru bagi peradaban ini.

Barangkali persoalannya menjadi berbeda ketika penyakit-penyakit itu muncul di jaman atau generasi yang berbeda.  Ketika pes atau kolera muncul, teknologi transportasi dan komunikasi jelas belum seperti sekarang.  Informasi datang dengan sangat lambat dari satu komunitas ke komunitas lain di tempat yang berbeda, sehingga tidak muncul kepanikan di tempat yang jauh dari area yang terinfeksi (karena mereka belum tahu).  Arus migrasi (baik permanen maupun sementara) juga perlu waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa sampai ke kota atau negara yang berbeda (sehingga kalaupun ada yang terkontaminasi, mereka sudah mati di perjalanan dan jasadnya langsung dibuang ke laut).

Mungkin itu sedikit pembenaran untuk kepanikan yang terjadi saat ini, ketika informasi tersebar begitu cepat hanya dengan satu “klik” di ujung jari kita, dan ketika kemajuan teknologi transportasi memungkinkan kita sarapan pagi di negara A, lalu makan siang di negara B, dan menghadiri undangan makan malam di negara C dalam satu hari yang sama.  Hasilnya: ketakutan yang membuat ribuan orang berbondong-bondong menyerbu pusat-pusat belanja, dan sebagian di antara mereka bahkan memanfaatkan untuk kepentingannya sendiri tanpa peduli kesusahan orang lain.  Panik, takut, cemas, khawatir atau apalah istilahnya.

Wabah-wabah ini juga punya era atau jamannya sendiri.  Hingga hari ini, masih banyak orang mati karena TBC, malaria, demam berdarah atau AIDS.  Tapi era wabah-wabah itu sudah lewat, sehingga media tidak tertarik lagi bicara soal wabah-wabah itu (kecuali korbannya luar biasa besar seperti demam berdarah yang sekarang melanda saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur).  Dampaknya, tidak ada kepanikan karena wabah-wabah tadi meskipun masih terjadi.  Ini berarti satu hal: kita merespon apa yang kita ketahui, bukan apa yang sedang terjadi.

Akhirnya kita tiba pada sebuah fenomena bahwa pengetahuan kita akan sesuatu, dan cara kita bersikap atas apa yang kita ketahui itu layaknya dua sisi mata uang.  Di titik inilah kekhawatiran saya mulai muncul, karena dinamika sosiokultural kita pada akhirnya sangat ditentukan oleh apa yang diketahui masyarakat, meskipun pengetahuan itu belum tentu benar …….. dan lebih celaka lagi bila kita bersikap terhadap sesuatu yang sebenarnya bahkan tidak ada sama sekali.

——————–

Dulu, para penemu dan pengembang teknologi informasi dan transportasi mendedikasikan temuannya untuk memperkuat fondasi komunitas kita, yang semakin hari semakin berkembang.  Sekarang, kita melihat sebuah paradoks ketika perkembangan teknologi itu malah menjadi kerentanan terbesar umat manusia.  Bagaimana perkembangan itu berdampak sangat bergantung pada “siapa” yang memegang kendali.  Di tangan orang baik, informasi yang kurang enak didengar pun akan tetap menenangkan; sebaliknya di tangan orang jahat, informasi yang terdengar sejuk pun bisa mematikan.

Peradaban kita menjadi ditentukan oleh bagaimana kita bersikap.  Bagaimana kita bersikap ditentukan oleh seberapa bijaksana diri kita.  Kebijaksanaan kita ditentukan oleh seberapa terdidiknya kita; bukan terdidik dalam artian akademis, namun terdidik secara emosional dan spiritual.  Keterdidikan yang ditentukan oleh seberapa mampu kita mengalahkan diri kita sendiri.

Penderita yang cerdas emosinya akan jujur pada diri sendiri meskipun harus mengakui bahwa mereka terinfeksi, hanya agar semua orang sadar bahwa wabah ini berbahaya dan semua harus waspada.  Penderita yang bodoh akan diam saja karena malu dan takut di-bully, meskipun ketidakjujuran itu akan membahayakan banyak orang.  Pada sisi yang lain, masyarakat yang emosinya cerdas akan berempati, dan masyarakat yang emosinya dangkal akan mencari keuntungan sendiri, lalu menyalahkan sana sini.

Peradaban kita sedang dalam pertaruhan besar, sama seperti yang telah dialami umat manusia berkali-kali sejak ribuan tahun silam.  Berempati bukan berarti abai dan tidak menjaga diri, tetapi perilaku memojokkan dan menyalahkan orang lain atas nama “sikap protektif” atau “menjaga diri” justru akan menghasilkan perpecahan dan kehancuran.  Kita sedang ditunggu oleh bahaya yang jauh lebih besar dari sekedar kematian fisik: matinya sebuah peradaban.

——————–

Saya teringat berbagai teori konspirasi yang merebak di media sosial soal asal muasal virus Corona ini.  Tak peduli apakah itu benar atau tidak, saya hanya berharap dan berdoa bahwa kejadian ini memberi kita hikmah, menjadikan banyak orang semakin bijaksana, dan menyadarkan banyak negara betapa pentingnya mencerdaskan masyarakat secara hakiki.  Masyarakat yang bukan semata-mata cerdas otaknya (karena sejarah dunia membuktikan berbagai kehancuran justru dibuat oleh orang-orang yang hanya cerdas otaknya), melainkan juga cerdas hati dan jiwanya.  Masyarakat yang berisi individu-individu yang mampu mengalahkan musuh terberat mereka: diri mereka sendiri.

Sudah lewat tengah malam rupanya.  Saatnya raga dan jiwa diistirahatkan, dan menjemput mimpi akan sebuah dunia yang penuh damai dan menyejahterakan semua yang ada di dalamnya.

Sumedang, 13 Maret 2020

JOGJAKARTA: KALA KUUNTAI KATA

(Koleksi Pribadi)

Jogjakarta.

Bukan sekedar sebuah nama,

Bukan juga sekedar sebuah kota,

Bukan sesuatu tanpa makna,

Bukan pula sesuatu tak berjiwa.

—–

Lambang damai yang bersahaja,

Pesona dalam paras sederhana,

Seolah Tuhan sedang jatuh cinta,

Ketika menghadirkannya ke dunia.

=====

Jogjakarta.

Ceria kala surya mengangkasa,

Rona indah di temaram senja,

Hadirkan damai yang tanpa paksa,

Bukan intrik dusta ala Jakarta.

—–

Dalam sahajanya kurangkai cerita,

Bingkaian suka duka dalam pesona,

Kudamba selalu lambai tangannya,

Tanpa pernah mau meninggalkannya.

=====

Jogjakarta.

Laksana kini dia menderita,

Serasa kini dia makin renta,

Kala sejauh tatapan mata,

Beton-beton tinggi angkuh berkuasa.

—–

Adalah duka saat dia hilang pesona,

Adalah air mata saat dia tak berjiwa,

Ketika dia tak lagi mengenal dirinya,

Tenggelam dalam palsunya dunia.

=====

Jogjakarta.

Aku mau dia apa adanya,

Labuhan bagi mereka yang hampa,

Lembah surga bagi semua romansa,

Meski bibir tak perlu mengucap kata.

—–

Apalah artinya kata dan bahasa,

Kala semesta telah berbicara,

Kala hati telah beku membuta,

Untuk sebuah nama: Jogjakarta.

=============================

Ruang fana, 10 Maret 2020

SURAT UNTUK DELIS

(Courtesy of kompas.com)

Ananda Delis Sulistina di Surga,

Saya tidak mengenal kamu, atau bahkan sekedar mendengar namamu, sebelum berita kematian tragismu memenuhi media massa.  Perhatian saya semakin menjauh dari penuhnya berita tentang wabah virus Corona saat saya membaca berita-berita lain tentangmu, hidupmu, deritamu, dan sedihnya lagi: cita-citamu……yang pernah kamu tulis dalam catatan harianmu.

Jujur saja, saya membangun kesan tentang kamu sepenuhnya dari media daring yang saya baca.  Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat kematian menjemputmu selain soal uang untuk study tour SMP-mu, apalagi soal keseharian, kondisi keluarga, dan lain-lain tentang kamu.  Semua yang saya tahu tentangmu hanya apa yang berita-berita itu tuliskan, dan saya berharap berita-berita itu tidak menambah atau mengurangi apapun tentang kamu.

Ananda Delis,

Saya menulis surat ini semata-mata karena saya seorang Ayah yang juga punya anak perempuan seumuran kamu.  Anak saya tak jauh beda dengan kamu: punya cita-cita, punya harapan membahagiakan orang tua, ingin punya banyak teman, dan juga pernah minta uang untuk study tour sekolahnya hehehe…

Sebagai seorang Ayah, berita tentang kematianmu di tangan ayah kandungmu sendiri karena uang untuk study tour itu betul-betul merobek hati.  Bukan soal uang yang tidak dapat diberikan ayahmu yang menghancurkan perasaan saya, melainkan apa yang harus kamu alami setelah itu.  Di usiamu yang baru 13 tahun, kamu harus menjemput mautmu dalam perjalananmu menggapai cita-cita mulia yang pernah kamu tulis, di tangan seseorang yang kamu tidak punya kuasa untuk memilih apakah dia layak atau tidak menjadi ayahmu…..dan itu membuat saya menangis.

Ayahmu sama sekali bukan representasi seorang ayah—kamu pasti paham itu.  Saya mungkin juga bukan representasi seorang Ayah yang baik, apalagi sempurna.  Namun dalam ukuran saya yang jauh dari sempurna inipun, apa yang ayahmu perbuat kepadamu adalah sangat biadab; bahkan seekor hewanpun tidak akan melakukan itu pada anaknya sendiri.

Ananda Delis,

Sudahlah…..bagaimanapun kamu sudah berada di alam sana, dan saya berdoa kamu tenang dan damai bersama Sang Maha Pencipta, yang sesungguhnya adalah Ayah sekaligus Ibu kita semua dalam hidup kekal yang akan kita jalani setelah semua kefanaan dunia ini.

Tapi bolehlah kita berbicara sedikit tentang apa yang kamu pernah tulis dalam catatan harianmu atau apapun itu.  Oh iya, saya sempat membaca sebagian tulisanmu di sebuah media daring yang memuat foto penggalan catatanmu (dan itu cukup untuk membuat pilu hati seorang Ayah seperti saya).

Kamu bilang kamu ingin jadi Polwan untuk “memberantas kejahatan sehingga kejahatan berkurang”.  Sebuah cita-cita hebat yang kamu ungkapkan dalam ketulusan dan kepolosanmu yang menyentuh hati.  Dunia kita memang penuh orang-orang jahat, baik dalam arti harfiah maupun dalam artian yang lain.  Kejahatan yang ditunjukkan apa adanya di rumah, di jalan, di berbagai tempat, maupun kejahatan yang dibungkus kebaikan-kebaikan atau kata-kata bijak, yang dilakukan oleh mereka yang merasa dirinya “pintar” atau “penting”.  Seandainya kamu punya kesempatan menggapai cita-cita itu (menjadi seorang Polwan), kamu pasti akan tahu apa yang saya maksud.

Kamu bilang ingin masuk SMPN 6 karena “dekat dari rumah, sehingga tidak perlu buang-buang uang untuk ongkos angkutan umum”.  Betapa mulianya hatimu Nak, yang bisa memahami kondisi orang tuamu (Ibumu) dan tidak mau membebaninya.  Saya melihat kecerdasan emosional yang luar biasa dari seorang anak 13 tahun, yang bahkan mereka yang sudah “dewasa”-pun belum tentu punya.  Saya berdoa kiranya ini kelak bisa membimbing Ibumu menuju surga karena memiliki dan membesarkan anak yang solehah seperti kamu.  Amin…

Kamu bilang bahwa kamu ingin masuk SMPN 6 karena “ingin mendapatkan ilmu pengetahuan dan mendapatkan banyak teman”.  Lalu kamu juga bilang bahwa kamu “akan belajar belajar dengan tekun agar cita-citamu tercapai”, dan “akan mengerjakan tugas dari Bu Guru dengan senang hati agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat”.  Ah….semangat seperti itu yang negeri ini butuhkan sekarang.  Semangat untuk belajar dan bekerja keras, semangat untuk meraih sesuatu yang lebih baik, semangat untuk berbuat semua hal yang bermanfaat.  Entah kamu sempat melihat atau tidak, negeri ini penuh dengan orang-orang yang selalu skeptis, pesimis, atau sebaliknya kelewat optimis dan merasa sudah pintar sehingga tidak perlu belajar lagi.  Saat berbuat, yang diperbuat justru hal-hal yang tidak bermanfaat, mengganggu kenyamanan orang lain, bahkan merusak.

Ananda Delis di Surga,

Berita-berita yang saya baca juga menyebutkan bahwa kamu sering di-bully di sekolah oleh teman-temanmu, yang menyebut kamu “bau lepet (lontong)”, karena Ibumu sehari-harinya berjualan lontong.  Hatimu tidak sendirian merasa sakit, Nak.  Hati sayapun sakit mendengar hal-hal semacam itu.  Tapi itulah potret pendidikan kita selama ini, yang tidak pernah diarahkan untuk membangun karakter, watak serta kepribadian yang baik, dan hanya melulu soal “angka”, “nilai”, “rangking”, “skor” bla…bla…bla…  Dunia pendidikan yang malah mencetak para perundung, penghina, pencaci, bahkan pembunuh.  Begitulah kalau pendidikan semata-mata dijadikan “proyek”.  Yang penting 20% APBN tiap tahun itu terserap; hasil didik nggak penting.

Saya merasa bahwa secara tidak langsung kamu adalah korban dari sistem buruk pendidikan kita.  Selain bully itu, kegiatan-kegiatan seperti study tour—yang akhirnya memicu ajalmu—dalam banyak kasus justru menjadi beban bagi orang tua murid.  Banyak sekolah yang tidak memahami kondisi psikososial murid-muridnya, yang datang dengan latar belakang beragam.  Ujung-ujungnya, banyak sekolah yang justru jadi ajang pamer harta, adu status sosial orang tua, dan di sisi lain menjadi lembah derita bagi mereka yang kurang mampu.  Singkatnya, dunia pendidikan kita belum menjadi tempat yang mendidik manusia secara hakiki dan mampu menjadi dirinya sendiri.

Berita yang saya baca juga mengatakan bahwa kamu adalah siswi yang pintar.  Tidak mengherankan buat saya, karena catatan yang kamu tulis saat kelas 6 SD itu sudah menunjukkan betapa cerdasnya kamu, dan betapa mulianya hatimu.  Tapi Tuhan memiliki rencana lain dalam hidupmu, yang saya yakin semata-mata karena Dia menyayangimu.  Saya membayangkan seandainya kamu punya waktu mewujudkan cita-citamu, kamu pasti akan jadi seorang Polwan yang baik, cerdas, dan kita akan melihat sebuah dunia yang damai karena minimnya kejahatan.  Sekarang saya hanya berharap ada banyak anak lagi dengan semangat yang sama dengan kamu, yang menjalani hidupnya untuk sebuah cita-cita luhur demi kebahagiaan orang tuanya, dan kemaslahatan orang banyak.

Ananda Delis,

Sepertinya tulisan saya sudah terlalu panjang untuk ukuran sebuah surat.  Mohon maaf menyita waktumu untuk membacanya, tapi sekali lagi, saya hanya seorang Ayah dari seorang anak perempuan sebaya kamu yang betul-betul sedih, teriris dan tidak dapat menerima perlakuan orang terhadapmu, terutama ayahmu yang biadab dan tidak bertanggung jawab itu.  Biarlah Tuhan dan alam semesta menghukumnya secara setimpal.

Rasa hormat saya yang tulus untuk Ibumu, yang dengan segala keterbatasannya berusaha yang terbaik untuk membesarkan kamu.  Beliau seorang wanita yang luar biasa.

Semoga kelak dari alam sana kamu akan melihat dunia yang kamu cita-citakan dalam tulisan tanganmu.    Selamat beristirahat dalam damai, Delis.

Jakarta, 28 Februari 2020

*(Tulisan ini merujuk kepada berbagai berita tentang kematian Delis Sulistina, seorang siswi SMPN 6 Tasikmalaya)

UNTUK YANG TERKASIH…

IMG_20150822_105303

Kekasihku,

Di hari istimewamu ini, maafkan aku karena tak berada di dekatmu.  Maafkan aku karena tak dapat mengucapkan selamat ulang tahun tepat di depanmu.  Tapi ketahuilah sebuah fakta sederhana, bahwa tanpa sepatah kata sekalipun, Tuhan tahu betapa aku mencintaimu—tak hanya sekedar mengingat ulang tahunmu.  Dalam setiap doaku ada namamu; dan dalam setiap harapan terbaikku, kamu selalu “the top of the list”.

Sayangku,

Aku bersyukur bahwa Tuhan telah setia memeliharamu 38 tahun ini, dan kini aku tahu bahwa Tuhan melakukan semua itu untukku.  Tuhan hanya ingin melengkapi hidupku yang penuh kekurangan dan kelemahan; itu sebabnya Dia mempertemukanku denganmu.  Kamu adalah seseorang dengan misi yang Tuhan embankan di pundakmu: menyempurnakanku.  Menyadari semua ini, aku patut bersyukur bahwa kamu bersedia mengemban misi yang berat itu…hingga saat ini.

Tentu saja misimu berat, bahkan teramat berat.  Aku adalah manusia dengan berjuta kelemahan, serta penuh keterbatasan.  Ketika seseorang harus melengkapi kekuranganku, dan menutup kelemahanku, maka ia harus seseorang yang luar biasa.  Ia harus luar biasa, karena ada jutaan lubang yang harus ia tutup, dan segudang kekurangan yang harus ia lengkapi.

Wanita hebatku,

Tujuh belas tahun lebih kamu telah membuktikan, bahwa amanat Tuhan itu mampu kamu jalani.  Aku sadar bahwa caraku mencintaimu adalah sesuatu yang berbeda yang sangat sulit kamu pahami, tapi kamu bertahan dalam segala kesulitan itu.  Akupun paham bahwa sangat sulit bagi siapapun untuk memahami caraku memandang hidup, tapi kamu tak pernah berhenti belajar untuk mengerti itu.  Di mataku, kamu adalah seorang pejuang.

Aku hanya dapat berterima kasih: kepada Tuhan, kepadamu, dan kepada kehidupan yang telah mengantarku padamu. Kepada Tuhan kuucapkan syukurku atas pemeliharaannya dalam hidupmu sehingga aku dapat berjumpa denganmu.  Kepadamu aku sampaikan rasa hormatku atas segala kesetiaanmu menemaniku menjalani hari-hari bersama anak-anak kita, dan yang jauh lebih berat adalah atas kekuatanmu untuk mengerti aku.  Kepada kehidupan, aku bersyukur bahwa pintu untukku bertemu denganmu telah dibukakan, dan selalu ada pintu-pintu yang terbuka untuk setiap persoalan yang aku dan kamu hadapi dalam perjalanan kita.

Istriku, sahabatku, wanita terkasihku,

Kamu lebih dari sekedar anugerah buatku.  Kamu adalah sebuah kehormatan, dan aku bangga menjadi orang terdekatmu.  Selamat ulang tahun, Tuhan mengasihimu.

Marseille, 20 September 2015, 16.15