KEBAIKAN TUHAN

Picture courtesy of https://www.rjstevensmusic.com/product/god-is-so-good/

Setiap bulan Agustus, saya selalu mengingat kebaikan Tuhan dalam salah satu babak penting kehidupan saya: hari pernikahan.  Mengingat penyertaan Tuhan yang luar biasa saat saya bersama istri mulai membangun fondasi sebuah keluarga—menjalani hidup dengan “modal” seadanya (hanya mengandalkan gaji yang sudah kena potongan sana sini), benar-benar tidak punya apa-apa—semakin membuat saya merasa bahwa Tuhan itu nyata, bukan sekedar dongeng atau retorika agama.  Kebaikan Tuhan dalam menyertai kehidupan rumah tangga kami dari benar-benar nol hingga saat ini hanyalah rangkaian dari kebaikan Tuhan yang tidak pernah berhenti mengalir sejak saya hadir ke dunia sekitar 48 tahun silam.  Kebaikan itu terasa makin sempurna ketika Dia menitipkan kepada kami dua buah hati yang ganteng (Si Sulung) dan cantik (Si Bungsu).  Tuhan juga menghadirkan orang-orang baik di sekeliling keluarga kami, antara lain asisten rumah tangga kami (Si Mbak).

Agustus tahun 2023 ini, saya merasa ada beberapa sentuhan emosional yang lebih istimewa…

Si Bungsu

Kebaikan Tuhan itu datang lagi dan lagi.  Kali ini, sebuah berita baik bagi keluarga kami karena anak kami yang kedua (si bungsu) diterima di sebuah universitas ternama di Malang, Jawa Timur.  Itu adalah perguruan tinggi negeri (PTN) favoritnya, kotanya juga kota yang ia suka.  Yang menyentuh bagi saya adalah, keberhasilannya masuk PTN ini diperoleh setelah serangkaian kegagalan yang dia alami dalam beberapa ujian masuk PTN sebelumnya (mungkin ada empat atau lima PTN, baik lewat jalur rapor, UTBK maupun mandiri).  Rangkaian ketidakberhasilan itu sempat membuatnya “down” dan saya bahkan harus setengah memaksanya untuk mengambil kesempatan terakhir yang terbuka saat itu, dan ternyata di sanalah Tuhan memberi jawaban yang melebihi harapannya: fakultas dan jurusan yang menjadi passion-nya, dan di kelas internasional.

Karena hal ini, istri bersama anak sulung saya harus menghabiskan waktu beberapa hari berada di Malang untuk mempersiapkan banyak hal, terutama kost dan kelengkapannya.  Naluri seorang Ibu yang sangat mengkhawatirkan anak perempuannya membuat mereka bolak balik kesana kemari mencari kelengkapan sehari-hari untuk si bungsu. Istri saya dibantu juga oleh seorang temannya yang ikut dari Bogor dan tidak kalah capeknya menyiapkan ini itu untuk anak saya.  Saya sempat menyusul di akhir pekan (Sabtu dan Minggu) untuk sedikit membantu mereka, dan harus kembali Minggu malam ke Jakarta karena masuk kantor lagi hari Senin-nya.  Saya dapat melihat raut kebahagiaan di wajah anak saya karena ia mendapatkan lebih dari yang ia harapkan.

Si Sulung

Agustus ini juga, anak sulung saya sudah sekitar empat bulan berada di rumah, setelah menyelesaikan kuliahnya di sebuah kampus di Australia.  Dia harus kembali ke Australia, karena ia harus mengurus visa baru setelah ia selesai kuliah ini (graduate visa).  Saya bersyukur, sebelum ia kembali ke sana, ia sudah sempat menemani ibu dan adiknya mempersiapkan kuliah si adik di Malang.

Seminggu sebelum ia kembali ke Australia, saya mendapat perintah (mendadak) untuk mendampingi pimpinan dalam sebuah kunjungan dinas ke Amerika Serikat.  Bagi saya, ini bukan timing yang tepat karena saya ingin menghabiskan satu minggu ke depan untuk banyak berbincang dengan si sulung, sebelum ia terbang ke Australia dan tidak tahu berapa lama lagi kami akan bertemu dengan dia secara langsung.  Tapi saya adalah seorang prajurit, dan sebuah perintah tetaplah sebuah perintah, apapun kondisinya.

Istri dan anak sulung saya mengantar saya ke bandara Soekarno-Hatta, dan saya menyampaikan beberapa pesan secara singkat untuk anak saya sebelum ia kembali ke Australia minggu depannya.  Ada sebuah keengganan untuk beranjak ke dalam terminal bandara, ketika saya merasa bahwa seminggu terakhir bersama anak sulung saya “terenggut” dari kehidupan saya.  Tapi saya sadar, ini mungkin salah satu bentuk pengabdian saya kepada negara, meski mata saya terus melihat keluar ketika sudah berada di dalam terminal keberangkatan, memastikan bahwa mobil yang membawa istri dan anak sulung saya sudah meninggalkan titik penurunan penumpang (drop-off point).

Si “Mbak”

Karena perjalanan ke Amerika Serikat adalah sebuah perjalanan yang panjang, saya membeli paket Wi-Fi di pesawat yang saya tumpangi, sehingga saya tetap bisa berkomunikasi selama penerbangan yang panjang itu.  Lalu saya sempatkan membuka WhatsApp (aplikasi percapakan favorit banyak orang hehehe…) dan saya melihat story atau status WhatsApp si “Mbak” yang sehari-hari membantu kami membersihkan dan beres-beres di rumah.  Si “Mbak” mengunggah sebuah foto dirinya dan kakaknya (yang sehari-hari ikut membantu dia di rumah kami) yang mengapit anak bungsu saya.  Foto itu saya yakin diambil sesaat sebelum istri dan kedua anak saya berangkat ke Malang untuk mempersiapkan keperluan kuliah si bungsu.

Dalam keterangan (caption) di bawah fotonya, si “Mbak” menulis kalimat yang kurang lebih berbunyi begini: “Sudah ngga ada lagi yang minta rujak sama mie goreng. Ngga lagi menyiapkan bekal. Kehilangan, karena kuliahnya jauh. Semoga sehat-sehat selalu, dikelilingi sama orang-orang baik, dimudahkan segala urusannya, dan kelak bisa jadi orang (sukses). Amin…” Anak bungsu saya memang hobi makan, dan rujak serta mie goreng adalah favoritnya, dan ia selalu minta si “Mbak” untuk membuatkan untuknya.  Setiap pagi selama si bungsu sekolah di SMA, si “Mbak” setia menyiapkan bekal makanan untuk dibawa ke sekolah (dan anak saya pernah bercerita bahwa bekalnya adalah yang “terlengkap” dibandingkan bekal teman-temannya karena selalu ada lauk, sayur dan buah selain nasi. Lauknya bahkan bisa lebih dari satu macam).  Si “Mbak” sudah memperlakukan dia seperti anaknya sendiri.

Tuhan

Status atau story WhatsApp si “Mbak” itu memicu rangkaian ingatan saya akan momen-momen di bulan Agustus 2023 ini: penyertaan Tuhan dalam kehidupan pernikahan dan keluarga kami, kebaikanNya untuk anak bungsu saya, waktu yang Dia berikan untuk berbagi kebersamaan dengan anak sulung saya, serta orang baik dan tulus yang ada bersama keluarga kami sehari-hari.  Mengingat kembali semuanya itu membuat saya meneteskan air mata di tengah gelapnya kabin pesawat A-380 yang membawa saya ke Amerika Serikat.  Saya meneteskan air mata bukan sekedar karena teringat akan kedua anak saya atau membaca status WhatsApp si “Mbak”, namun lebih dari itu, karena mengingat begitu luar biasanya kebaikan Tuhan dalam hidup saya.

Tuhan menyertai dan memelihara keluarga kami, yang kami rintis dengan tertatih-tatih dalam segala keterbatasan dan ketidakpunyaan.  Kami dapat membuktikan kasih setia Tuhan yang nyata, yang tanganNya tidak membiarkan kami terjatuh serta membawa kami dapat hidup seperti sekarang ini.  Tuhan baik dalam kehidupan anak-anak kami: menyertai si sulung menyelesaikan kuliahnya di Australia dengan predikat “First Class Honours” (setara cum laude), membuka pintu bagi si bungsu untuk belajar di kampus dan kota favoritnya. Yang tidak kalah penting, Tuhan sangat baik dalam kehidupan keluarga kami dengan menghadirkan orang-orang baik seperti teman istri saya dan si “Mbak” yang membuat banyak urusan keluarga kami menjadi mudah.

Saya melihat sesuatu yang luar biasa dalam kehidupan saya, sesuatu yang sebenarnya bukan hal baru karena sudah ada sejak saya lahir ke dunia: kebaikan Tuhan.  Mulai dari kedua orang tua yang luar biasa, adik-adik yang baik, dan banyak kebaikan lagi sepanjang hidup saya bersama orang-orang terkasih.  Meskipun bukan hal baru, tetap saja saya terkesima dengan begitu baiknya Tuhan dalam kehidupan saya.  Sang Pencipta Yang Maha Kasih, yang selalu baik dengan caraNya, yang menjawab harapan saya pada waktuNya, dan memberi saya lebih dari apa yang layak saya terima.

Jakarta, 29 Agustus 2023, 17.27

MERASAKAN DIA (SEBUAH KESAKSIAN)

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.  Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu bagiku bekerja memberi buah.  Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.”
(Filipi 1:21-22)

(Foto dari https://media.beliefnet.com)

Aku percaya bahwa semua keyakinan mengajarkan kita banyak hal yang sama, salah satunya adalah bahwa Tuhan (apapun kita menyebutnya) berkuasa penuh atas hidup kita, seperti soal rejeki, jodoh, umur, dan semua hal lainnya.  Namun, kita melihat bahwa meyakini dengan sepenuh hati kekuasaan Tuhan atas hidup kita, dalam banyak contoh, bukanlah hal mudah.  Ada kesenjangan kebijaksanaan yang sangat besar antara manusia dengan Penciptanya di sini, sehingga keterbatasan pengetahuan kita membuat kita tetap merasa cemas, khawatir, atau takut seiring banyaknya “ketidakpastian” yang kita rasakan dalam kehidupan kita.

Saat duduk di bangku SMP, salah seorang guru pernah berkata kepadaku: “Jon, setiap orang sudah punya ‘jatah’ umurnya masing-masing.  Ketika ‘jatah’ itu habis, maka selesailah kehidupan dunianya”.  Dalam satu hal inipun, aku yakin bahwa secara umum pandangan semua keyakinan atau agama juga sama, yaitu bahwa perjalanan hidup yang kita tempuh hari demi hari itu pada hakekatnya adalah perjalanan menuju sebuah akhir, sekaligus sebuah awal.  Akhir dari kefanaan di dunia, dan awal dari sebuah keabadian.

Kita melihat hari ulang tahun sebagai rangkaian perjalanan dari titik awal kefanaan, yaitu berapa lama kita “sudah” berjalan sejak kita dilahirkan ke dalam dunia ini.  Itu karena tidak ada satupun manusia yang tahu kapan perjalanan itu akan berakhir, atau seberapa jauh lagi “garis finish” itu.  Ketika ada yang berulang tahun, kita selalu mengatakan “Semoga panjang umur”, yang sebenarnya kita mendoakan agar “garis finish”-nya masih jauh.  Namun, seberapapun masih jauhnya garis akhir itu, kita tetap berjalan mendekatinya, tanpa pernah tahu kapan kita akan tiba di sana, apakah lima menit lagi, satu hari lagi, tiga bulan lagi, sepuluh tahun lagi, atau kapan.  Di situlah Tuhan menggenggam erat dan menguasai rahasiaNya, sebuah rahasia Ilahiah.

Kebetulan aku adalah orang yang memilih untuk melihat bertambahnya usiaku sebagai perjalanan yang semakin mendekatkanku pada keabadianku, dengan peti matiku sebagai “garis start”-nya.  Kalaupun itu kulakukan dengan melihat ke belakang, kepada semua ingatanku akan apa yang terjadi dan kualami di masa-masa lalu sepanjang hidupku, itu lebih merupakan upayaku agar keyakinanku semakin kuat bahwa hingga akhir hidup duniaku kelak (yang aku tak tahu kapan), Tuhan akan tetap setia bersamaku, menjagaku, memeliharaku, dan menopangku.  Puji Tuhan, setidaknya hingga hari ini ketika sudah 47 tahun kutempuh langkah hidupku, aku dapat merasakan semakin tumbuhnya keyakinan akan kesetiaan Tuhan dalam hidupku.

Menceritakan kebaikan Tuhan dalam hidupku bisa menjadi sebuah kisah panjang yang tidak berkesudahan, bahkan bisa lebih panjang daripada soal kehidupan itu sendiri.  Mengingat semua kemurahan Tuhan dalam perjalanan hidup ini bahkan bisa menjadi menit-menit hening yang penuh air mata dan rasa haru, karena semakin kuingat, semuanya terasa semakin luar biasa.  Hingga akhirnya aku sadar, bahwa mujizat itu dekat, hanya sejauh doa; keajaiban itu tidak jauh, hanya sejauh seruan hati.

Kesetiaan Tuhan nyata dan teruji dalam hidupku, meskipun dalam banyak hal, perlu waktu bagiku untuk menyadari kesetiaanNya itu. Sering sekali terjadi aku kecewa ketika sesuatu berjalan tak sesuai harapan, tapi Dia dengan caraNya yang luar biasa selalu menyingkap perlahan-lahan semua rahasiaNya.  Ketika tiba waktuNya (bukan waktuku), Dia membukakan tirai itu sehingga aku dapat melihat alasanNya untuk membiarkan sesuatu terjadi padaku, alasanNya membawaku melalui jalan berbatu dan penuh duri, atau mendaki bukit terjal yang tak pernah kukehendaki, atau melalui malam kelam yang penuh kejahatan.  Setelah tirai itu Dia buka, yang kulihat di depanku adalah sebuah terang yang hangat bersahabat, penuh limpahan berkat dan kebaikan.

Ketika kehidupan tidak selalu bersahabat dan menawarkan perjalanan yang sering kali terasa terlalu keras untukku, aku dapat merasakan tanganNya menopang kakiku sehingga aku tidak jatuh.  Ketika aku terlihat begitu lemah di hadapan sebuah badai ganas, aku dapat merasakan pelukanNya yang mendekapku erat dan badai itu hanya berlalu begitu saja.  Ketika jurang terlihat terlalu curam untuk kuturuni, aku dapat merasakan tanganNya menggenggam tangan lemahku sehingga aku tidak tergelincir.  Aku selalu merasakan Dia ada, hadir, bekerja dan melakukan campur tanganNya tanpa henti, dan tidak pernah terlambat.  Dalam banyak hal, Dia melakukan semua itu bahkan sebelum aku meminta.

(Foto dari https://wallpapers.com)

Aku bersyukur bahwa masa laluku membuat semua kebaikanNya itu begitu mudah untuk dilihat.  Ketika masa kecil harus dijalani dengan penuh kekurangan dan keterbatasan, dari satu titik rendah ke titik rendah yang lain, dari satu kesusahan ke kesusahan yang lain, Dia memeliharaku dan semua orang terkasihku, menjaga kami, menganugerahkan kami kesehatan, sehingga kami dikuatkan melalui semuanya. [Aku nyaris tidak bisa merasakan bangku SMA karena keadaan ekonomi keluarga, dan Dia menjawab doa-doa kami bukan dengan memberi keluarga kami uang, melainkan dengan memberiku SMA terbaik di Indonesia—saat itu—tanpa harus membayar alias gratis]

Masa remaja di SMA, Akabri hingga awal karier sebagai Perwira TNI juga bukan masa-masa yang berisi kemudahan-kemudahan.  Aku tidak punya “darah biru” atau “balung rojo”, dan semuanya harus kuusahakan sendiri.  Gaji—yang tidak seberapa—adalah satu-satunya penghasilan.  Membangun keluarga di usia yang masih amat muda juga merupakan bukit terjal lainnya.  Istriku dan aku hanyalah orang-orang biasa yang memperjuangkan segalanya sendiri, dan tak bisa berharap atau mengandalkan siapapun, termasuk keluarga besar kami, karena kami semua bukan berasal dari keluarga berada.  [Suatu hari saat jam istirahat siang di kantor, aku pernah pulang ke mess tempat kami berdua tinggal, dan hanya ada semangkuk mie instan yang bisa dimasak istriku yang saat itu sedang hamil anak pertama kami, karena gajiku sudah habis sebelum bulan berakhir]

Tapi itulah Tuhan, yang dengan kebaikanNya yang tidak pernah habis, setia menemani setiap hari perjuanganku, upaya-upayaku, jerih lelahku sekalipun hari-hari itu penuh air mata.  Ketika aku mulai mempertanyakan kebenaran jalan yang kupilih, Tuhan pada saat yang menurutNya tepat selalu bisa membuka mataku bahwa Dia ada bersamaku, tidak pernah meninggalkanku sendirian, atau berpaling dariku.  Dengan caraNya Dia membimbingku untuk melihat cahaya terang itu pada waktunya, menyingkap rahasia yang selama itu Dia simpan hingga aku melihat sendiri bahwa jalan yang Dia pilihkan tidak salah, bahwa rancanganNya bukanlah rancangan kegagalan, melainkan rancangan masa depan yang berlimpah kebaikan.

Gejolak-gejolak dalam hatiku tetap ada, semata-mata karena keterbatasan hikmatku sebagai manusia biasa.  Ketika kenyataan di hadapanku tidak seperti harapanku, pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran jalan Tuhan itu selalu muncul.  Ketika waktuku tidak sama dengan waktuNya, ketika jalan berbatu dan badai kelam itu tetap muncul dalam wujud-wujud barunya, ketika pintu yang sudah terbuka tertutup lagi, aku selalu bertanya dan bertanya kembali: “apakah ini memang jalan yang tepat untukku?”, “mengapa Engkau membawaku ke sini?”, “mengapa tak Engkau ijinkan aku ke sana?” dan seterusnya.

Namun sekali lagi, Tuhan baik.  Sangat baik.  Ketika Dia mengatakan “tidak”, atau “nanti dulu” untuk sebuah doa dan permintaan, Dia akan tunjukkan alasannya, dengan cara dan waktuNya sendiri, dan aku selalu melihat bahwa waktuNya tidak pernah salah, rencanaNya tidak pernah gagal.  Aku berkali-kali dibohongi oleh manusia, diberi harapan-harapan palsu, janji-jani bodong, tapi Dia tidak pernah berbohong atas janji-janjiNya.  Aku tahu bahwa Dia tidak menjanjikan langit yang selalu biru, atau jalanan yang selalu tanpa hambatan.  JanjiNya adalah bahwa dalam langit yang paling kelam atau jalanan paling terjal sekalipun, Dia tidak akan meninggalkanku, selalu ada bersamaku, menyertaiku, menjagaku, memeliharaku, dan membimbingku hingga kuraih kemenanganku.

Empat puluh tujuh tahun perjalanan, tepat tanggal 13 Februari ini, telah semakin lebar membuka mataku akan kasih setiaNya yang tak berkesudahan, akan mujizatNya yang ada di setiap langkahku, akan dekapan hangatNya dalam setiap takutku, akan genggaman tanganNya dalam setiap lemahku, dan kuasa perlindunganNya yang bagaikan benteng pertahanan maha kokoh sehingga kejahatan-kejahatan tidak dapat menyentuhku.  Satu-satunya sahabat setia yang selalu dapat kuandalkan dan kupercaya.  Sumber segala berkat dan kebaikan dalam hidupku, segala karunia yang aku terima dan rasakan.  Penguasa Kehidupan yang kuasaNya tak berbatas, melampaui segala akal dan pengetahuan.  Aku berhutang terlalu banyak padaNya, hutang yang tidak pernah bisa aku bayar, sekalipun aku tahu cintaNya adalah cinta yang tak bersyarat.  Cinta yang tetap Dia berikan bahkan dalam keadaanku yang paling hina sekalipun.

(Foto dari https://www.messagemagazine.com)

Hari ini, aku kembali mengingat itu semua dalam ungkapan syukur, seraya berdoa padaNya agar Dia berkenan memberiku waktu yang lebih panjang di kehidupan sementara ini, sehingga aku punya ruang lebih banyak untuk dapat menyatakan kemuliaanNya di hadapan dunia, menjadi saluran berkatNya untuk lebih banyak orang, dan meninggikan Dia melalui kebaikan-kebaikan dalam setiap ucapan dan perbuatanku.  Itu permintaanku, yang mungkin akan Dia jawab dengan kata “tidak”.  Kalaupun itu yang terjadi, aku yakin bahwa semua adalah yang terbaik bagiku, dan bagi semua yang mengasihiku.  Aku hanya memohon bahwa ketika tiba waktuku untuk kehidupan abadiku, aku sudah layak di hadapan Dia.

Terima kasih Tuhanku, Sahabatku, Penolongku Yang Setia.

Bogor, 13 Februari 2022

NATAL YANG MEMBERI

Photo courtesy of https://www.2ndcongregationalchurchvt.org/

Circa 1985-1990.

Sebuah keluarga kecil menghabiskan satu hari di tanggal 25 Desember sebagaimana mereka menjalani hari-hari lainnya.  Bedanya, tiga anak dalam keluarga tersebut tidak ke sekolah sekalipun itu bukan hari Minggu (saat itu hari sekolah adalah Senin sampai Sabtu).  Sang Ayah tetap pergi ke kebun sejak pagi.  Sang Ibu menyiapkan makanan untuk dibawa ke kebun buat sarapan Sang Ayah.  Ketiga anaknya membersihkan rumah sambil membantu Ibu menyiapkan makanan ke dalam rantang susun, kopi hitam panas ke dalam termos, dan radio transistor untuk dibawa ke kebun.

Rumah kecil keluarga ini berdinding papan, beratap jerami, dan beralaskan tanah, persis seperti lirik sebuah lagu dari kelompok “God Bless”-nya Ahmad Albar.  Hanya ada tiga ruangan di rumah kecil itu: ruang depan untuk makan, belajar anak-anak sekaligus menerima tamu, kamar dengan dipan kayu panjang untuk tidur berlima, dan dapur sekaligus gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian Sang Ayah termasuk untuk menyimpan pupuk.  Tidak ada toilet ataupun kamar mandi.  Mereka mandi di sumur yang digali Sang Ayah sekitar 30 meter dari rumah.

Pada saat libur sekolah, anak-anak selalu ikut membantu orang tua mereka di kebun.  Membersihkan rumput-rumput liar di sekeliling tanaman cabe atau semangka (tergantung musim saat itu), memupuk tanaman di lubang-lubang yang sudah digali Sang Ayah atau Ibu lalu menimbunnya kembali, atau menyiram tanaman dengan air yang disedot oleh pompa dari sungai, berteman sebuah radio transistor bertenaga enam baterai yang sesekali dipindah sesuai lokasi mereka bekerja di kebun.  Itu rutinitas libur mereka, termasuk ketika libur Natal 25 Desember, saat keluarga Kristiani lainnya pergi ke gereja dan setelahnya merayakan Natal bersama keluarga.

Bagi keluarga ini, 25 Desember hanyalah sekedar tanggal merah biasa seperti tanggal merah lainnya di kalender.  Hari ketika anak-anak tidak perlu pergi ke sekolah dan bisa membantu orang tuanya di kebun.  Tidak ada perayaan, tidak ada baju baru, tidak ada kado, tidak ada pohon terang.  Gereja terdekat berjarak cukup jauh untuk ditempuh berlima, ketika alat transportasi yang mereka miliki hanya sebuah sepeda motor tua dan sepeda onthel.  Kadang-kadang ada tetangga yang datang untuk mengucapkan selamat Natal, dan setiap ditanya mengapa tidak ke gereja atau jalan-jalan, Sang Ayah selalu memiliki jawabannya sendiri.

Bagi keluarga ini, hidup sudah terlalu berat untuk dijalani bahkan dengan standar sekedar “normal”.  Bisa makan tiga kali sehari dan anak-anak bisa tetap bisa sekolah sudah menjadi sebuah pencapaian besar bagi Sang Ayah sebagai kepala keluarga.  So, 25th of December is just another day, another day-off.

========================================

Keluarga di atas adalah keluarga pemilik website ini, penulis tulisan ini.  Keluargaku di Jambi.  Aku adalah anak tertua dari tiga anak di atas, dengan satu adik perempuan dan satu adik laki-laki (adik termudaku sekarang belum lahir saat itu).

Aku—dan kami semua—sangat akrab dengan semua lagu Natal sejak kecil, termasuk saat kami menjalani kehidupan di tengah kebun (lebih tepatnya di tengah hutan karena secara harfiah, rumah kami memang dikelilingi hutan, yang sebagian di antaranya sudah dibuka oleh Ayahku untuk menjadi kebunnya).  Saat itu, lagu Natal hanyalah kumandang yang kami dengar di radio, sambil membayangkan pohon Natal yang dihujani salju ala Eropa.  Lamunan kami yang tipikal ini membawa kami pada bayangan-bayangan lainnya: keluarga yang sedang berkumpul di bawah pohon terang, membuka kado dari orang-orang tercinta, mengenakan topi Sinterklas, lalu menikmati makanan dan minuman istimewa bersama keluarga mereka.  Sekedar lamunan, yang kami tidak tahu kapan akan merasakannya.

24 Desember 2021.

Aku tiba di kantorku di Jakarta sekitar pukul 06.00, berdoa sebentar seperti biasa, lalu menyalakan smart TV mencari lagu-lagu Natal di Youtube.  Aku melamun lagi, tapi bedanya, aku tidak membayangkan pohon terang yang dihujani salju (aku sudah beberapa kali merasakannya di beberapa negara Eropa dan Amerika hehehe…).  Lamunanku jauh ke masa lalu ketika Natal selalu kami isi dengan membantu Ayah dan Ibu di kebun.  Ketika Natal hanyalah sebuah tanggal merah biasa yang membebaskan kami dari sekolah.

Masa lalu itu telah membangun bagiku sebuah perspektif baru tentang Natal.  Aku tahu bahwa hingga saat ini, masih ada ribuan keluarga Kristiani yang melihat Natal sama seperti kami melihat Natal di sekitar tahun 1985 sampai 1990-an itu.  Mereka yang masih berjuang dengan hidupnya, yang bahkan belum tahu apakah mereka bisa makan tiga kali hari ini, atau apakah mereka bisa makan besok, dan seterusnya.  Natal yang mungkin saja jutsru menjadi “derita” bagi mereka karena tidak bisa merayakan, tidak bisa pulang ke kampung halaman karena tidak punya uang, dan pada saat yang sama mereka melihat banyak keluarga bergembira dengan segala kecukupannya.

Aku bersyukur karena dari masa lalu Tuhan mengingatkanku tentang makna Natal yang sesungguhnya.  Tentang sukacita yang dibawa oleh Tuhan ke bumi melalui bayi kecil bernama Yesus Kristus.  Masa lalu telah membangun pemahamanku saat ini bahwa Natal adalah tentang berbagi cinta kasih, berbagi sukacita, dan berbagi damai sejahtera.  Itulah yang dilakukan oleh Tuhan sendiri ketika Dia memberi sukacita, cinta kasih dan damai sejahtera kepada mahluk ciptaanNya melalui seorang anak yang dikirimkanNya ke bumi, agar mereka semua terbebas dari dosa, dan bisa merasakan kerajaan Surga.

Bagiku, Natal adalah tentang memberi, karena Natal itu sendiri adalah wujud pemberian Tuhan berupa keselamatan untuk semua umat manusia dari segala kuasa dosa dan kegelapan.  Natal adalah tentang empati atas penderitaan orang lain, atas kekurangan mereka, atau rasa kehilangan mereka.  Natal bukan tentang kemewahan, kado, pohon terang, baju baru atau jalan-jalan.

Yesus Kristus lahir di sebuah palungan di kandang domba, dan yang menjenguk bayi Yesus pertama kali adalah para gembala.  Kisah itu saja sudah cukup menggambarkan bagaimana Natal sangat lekat dengan kesederhanaan, kebersahajaan, dan ketulusan.  Natal adalah milik semua orang, seperti para gembala yang nota bene masyarakat biasa ikut bersukacita menyambut hadirnya Sang Juru Selamat ke dunia.

Di tengah alunan lagu Natal yang kudengar saat menulis ini, aku mengingat mereka semua yang tengah berduka, yang tengah bersedih, yang sedang berjuang untuk hidupnya, sama seperti yang kami sekeluarga rasakan setiap mendengar lagu Natal di tahun 1985 sampai 1990-an. Aku mengingat semua yang merasa termarjinalkan karena keadaan, terpinggirkan karena status sosial, dan terasing karena kemiskinan.  Percayalah, Natal ini juga hadir untuk kalian semua, maka bersukacitalah.  Ingatlah bahwa kita semua punya alasan yang sama untuk bersukacita, bukan karena kita punya baju baru, mendapat banyak kado atau bisa jalan-jalan, melainkan karena Tuhan memberikan kepada kita semua keselamatan melalui anakNya.

Ketika memaknai Natal sebagai sebuah karunia atau pemberian Tuhan, aku lebih senang untuk menjadikan setiap hariku sebagai hari Natal, ketika hidup kujalani dengan sebuah prinsip bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang dia punya, melainkan oleh apa yang dia perbuat atau berikan bagi sekitarnya.  Menjadi berkat bagi banyak orang.  Berbagi sukacita sehingga siapapun ikut merasakan sukacita kita, dan menguatkan mereka yang bersedih.

Photo courtesy of https://forgodandjesus.wordpress.com/

Pada akhirnya, alunan lagu Natal ini mengingatkanku pada kasih Tuhan yang luar biasa dan tidak pernah habis dalam hidupku.  Aku merenungkan kembali ketika Dia menghadirkan bagiku seorang pria dan seorang wanita hebat dalam wujud Ayah dan Ibuku, adik-adik yang baik, istri dan anak-anak yang setia, dan banyak orang baik yang ada di sekelilingku.  Juga ketika Dia membukakan banyak pintu bagi kehidupanku yang semakin baik dari waktu ke waktu, dan ketika Dia dengan caraNya yang luar biasa membawa kami keluar dari berbagai kesulitan.  Sukacita Natalku adalah karena perjalanan yang kurangkai bersama Tuhan yang tanganNya selalu menuntunku agar aku tidak terjatuh dan merasa terlindungi, serta kasihNya yang setia menjawab semua pergumulanku.  Sebuah sukacita karena aku tahu Tuhan tidak pernah gagal dan tidak pernah terlambat membuktikan cintaNya kepada semua orang.

Selamat Natal, Ayah dan Ibu terkasih.

Selamat Natal, adik-adikku tersayang.

Selamat Natal, istri dan anak-anakku tercinta.

Selamat Natal, semuanya.

JOGJAKARTA: KETIKA KUTEMUKAN RUMAH

(Foto koleksi pribadi)

Pertengahan November lalu saya bersama keluarga berkesempatan menikmati beberapa hari berada di Jogjakarta.  Kebetulan ada suatu keperluan keluarga, plus dua hari keperluan dinas memenuhi undangan dari sebuah instansi Pemerintah.

Bagi saya, Jogjakarta selalu bisa menjadi cerita.  Seperti lirik sebuah lagu, selalu ada sesuatu di sana. Ia mungkin dikenal sebagai kota pelajar, kota perjuangan, atau kota sejarah.  Ia juga mungkin dikenal dengan angkringannya, Keraton-nya, atau Jalan Malioboro-nya.  Bagi saya Jogjakarta lebih dari semua itu.  Jogjakarta juga lebih dari sekedar jutaan kenangan.  Jogjakarta adalah sebuah filosofi, kehidupan, dan jiwa.

(Foto koleksi pribadi)

Meskipun “resminya” saya hidup di kota ini hanya sekitar tiga tahun (selama saya menjadi Taruna Akademi Angkatan Udara), tapi pesona dan aura kota ini telah membuat saya jatuh hati. Saya medapatkan banyak hal dari tempat ini, terlebih ketika saat ini hari-hari saya dihabiskan dengan suasana yang penuh kepalsuan, basa basi, pemenuhan ego, dan “kasak kusuk” para pemburu ambisi. Jogjakarta selalu bisa memberi saya kepuasan atas dahaga saya akan ketenangan, kedamaian, kesejukan jiwa, dan perenungan untuk “kembali pada diri sendiri”.

Sebagian besar orang yang pernah ke kota ini pasti merasakan bagaimana tempat ini begitu bersahabat, bersahaja, dan menenangkan di setiap sudutnya.  Keramahan adalah jiwa dari kota ini.  Persahabatan adalah roh yang melekat di tiap denyut nadinya.  Itulah sebabnya saya sanggup menghabiskan waktu berjam-jam hanya sekedar duduk sambil menikmati wedang jahe, kopi, atau gorengan di angkringan yang bertebaran di sana, sembari menyaksikan bagaimana kebersahajaan itu lalu lalang di hadapan saya: dalam diri para penjual angkringan, para penarik becak atau delman, atau para penjaja gudeg dan sate dengan bakul dagangan di pundak atau kepala mereka.

Jogjakarta adalah rumah bagi saya.  Bukan semata-mata karena saya merasa nyaman berada di dalamnya, melainkan karena saya selalu bisa menemukan “rumah” bagi batin saya: diri saya sendiri.  Jogjakarta adalah sebuah ruang besar bagi kontemplasi saya, ketika saya merasa sangat penat, lelah dan terkuras lahir batin oleh Jakarta.  Jogjakarta selalu menyajikan saya presentasi nyata tentang kesetaraan kita sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan, tentang penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, dan tentang pengharapan yang selalu ada dalam keadaan seperti apapun.  Saya melihat itu semua tanpa buku, tanpa power point slides, tanpa teori atau pengantar dari siapapun.  Jogjakarta menghadirkan semuanya secara “live” di depan mata saya, dan menancapkan semua tontonan itu dalam nurani saya.

Saya melihat dan merasakan sebuah perjalanan kembali pada diri saya sendiri dari kota ini, bukan dari para wisatawan atau pelancong, melainkan justru dari warganya yang lahir, dibesarkan atau hidup dari kota ini.  Dari momen ketika kemewahan yang dibawa dan dipertontonkan para wisatawan di hadapan mereka yang berjuang dengan mengayuh becak, mengemudikan delman, menjajakan makanan, atau memainkan musik jalanan itulah saya melihat bagaimana kota ini memberi sebuah pelajaran berharga, yang bagaikan mata air bagi dahaga batin saya.  Pelajaran yang mengatakan kepada saya betapa kecilnya kita sebagai manusia, dan betapa lemahnya kita dalam perjuangan mengalahkan musuh terberat kita: diri kita sendiri.

(Foto koleksi pribadi)

Dari mereka yang tampak “biasa” di mata sesama manusia, saya justru belajar tentang sebuah kebesaran jiwa, penerimaan tulus terhadap apa yang Tuhan beri kepada mereka, yang selalu mereka syukuri, dan mereka pakai untuk memelihara asa akan kehidupan hari esok yang lebih baik. Dalam skala tertentu, saya merasa melihat Tuhan bersemayam dalam batin mereka—sebuah keadaan yang sangat saya rindukan, ketika diri ini bisa menyisihkan sedikit ruang untuk Tuhan dapat berdiam di dalamnya.

Ketika hati kecil selalu bertanya apa yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini, Jogjakarta hadir sebagai sebuah ruang besar di mana mahluk kecil seperti saya dapat menikmati sebuah perenungan yang berisi perjalanan menuju rumah saya sesungguhnya: diri saya sendiri.  Rumah yang menyediakan sebuah ruang bagi Sang Penguasa dan Pencipta Hidup untuk berdiam di dalamnya.

Manunggaling Kawula Gusti.

SELAMAT ULANG TAHUN, KASIHKU!

Foto Koleksi Pribadi

Dear Mama,

Aku ingin kamu tahu bahwa aku begitu berterima kasih atas hadirmu yang meyakinkan aku betapa Tuhan setia hadir dalam hidupku.

Tulisan ini aku buat untuk mengungkapkan terima kasihku yang teramat besar atas hadirmu, dan sebagai ungkapan syukurku di hari istimewa ini.  Ketika menulis ini, ingatanku terbang ke berbagai kenangan masa lalu yang membangun rasa syukurku yang tiada habis pada Tuhan kita.

Di masa awal mengarungi rumah tangga, kita sering bingung mau makan apa karena gajiku sudah habis di tengah bulan.  Aku juga ingat kebiasaanmu menggendong anak pertama kita sambil menjemur pakaian.  Kemana-mana kita selalu jalan kaki atau naik angkot karena belum punya kendaraan.  Lalu suatu hari kita pernah berlari panik ke rumah sakit karena Dimitri kecil jatuh dari kasurnya.  Dan yang cukup menggelikan, kita pernah tidak jadi ke gereja karena basah kuyup kena cipratan air dari mobil yang lewat saat kita dalam perjalanan naik motor.  Hehehe…

Sekarang semuanya berbeda, dan aku bersyukur karenanya.  Namun, kamu tetap pribadi yang sama hebat dan setianya sejak pertama kita bersama. Setiap hari kamu memastikan makanan tersedia di rumah.  Setiap pagi kamu menyiapkan segala sesuatu untukku berangkat ke kantor.  Kamu membuat rumah kita selalu bersih, cerah, dan nyaman.  Kamu mendesain rumah mungil kita di Magelang dengan amat berkelas.  Dan sebagai seorang Ibu, kamu memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan terbaik mereka,

Semua ingatanku akan perjalanan panjang itu menunjukkan betapa hebatnya dirimu, betapa tangguhnya pribadimu, dan betapa setianya kamu menjaga cita-cita kita.  Itu semua semakin membuatku bersyukur, karena di sisiku berdiri seorang wanita luar biasa.

Ketika melihat betapa berlimpahnya berkat Tuhan atas hidup kita, aku percaya itu karena Dia melihatmu dan anak-anak kita.  Itulah sebabnya aku senantiasa bersyukur, karena jalan berkat itu adalah pribadi hebat di sampingku,

Mama sayang,

Untukmu, kuucapkan “Selamat Ulang Tahun”, kiranya kasih karunia dan pemeliharaan Tuhan selalu bersamamu.

Dan kepada Tuhan,

Kuucapkan syukurku atas seorang wanita hebat yang Dia hadirkan untukku, dan kepadaNya pula aku percayakan hidup wanita terkasihku.

Sungguh, hidupku adalah sebuah karunia, dan itu karena kamu.  Terima kasih telah membuat hidupku terasa begitu istimewa dan penuh syukur.

Tuhan menyertaimu selalu, sayangku.  HAPPY LOVELY 43RD BIRTHDAY!

Bogor, 20 September 2020

MEMBANGUN DI ATAS KOMPETENSI MORAL

Foto dari islamindonesia.id

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 diwarnai oleh beragam kejadian historis yang tercatat sebagai bagian perjalanan Indonesia untuk berdiri di atas kakinya sendiri.  Sebelum kedudukan Jepang di Asia digoyahkan oleh dua bom atom Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki, rakyat Indonesia sudah melakukan perlawanan di berbagai daerah.  Setelah pemboman Sekutu atas dua kota itu, berbagai kecamuk pergerakan di kalangan para tokoh nasional juga tidak kalah seru. Desakan beberapa kelompok kepada Ir. Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dipanggilnya beberapa tokoh nasional ke Da Lat, Vietnam oleh pimpinan militer Jepang, hingga “penculikan” Ir. Soekarno oleh kelompok pemuda di Rengasdengklok adalah beberapa catatan sejarah yang bisa dikenang tentang bagaimana bangsa ini mula-mula berdiri.

Yang menarik adalah apa yang menjadi “semangat” atau “nuansa kebatinan” dari semua kecamuk itu.  Satu-satunya hal yang melatarbelakangi semua momen itu adalah keinginan sebagai bangsa untuk merdeka, menjadi diri sendiri, berpijak dan berjalan di atas kaki sendiri, dan tidak bergantung pada siapapun.  Apakah saat itu kita punya kecakapan atau kemampuan finansial maupun teknis untuk menjadi sebuah negara merdeka?  Punya infrastruktur mapan untuk menjalankan roda pemerintahan?  Punya sumber daya untuk membiayai pembangunan?  Punya angkatan perang yang cukup kuat untuk melindungi negara?  Jawaban atas semua pertanyaan itu: TIDAK.

Lantas kecakapan atau kompetensi apa yang membuat para pendiri negara ini berani meniatkan diri untuk merdeka?  KOMPETENSI MORAL.  Kecakapan moral itulah yang membuat para tokoh bangsa, dipimpin oleh Ir. Soekarno, berani mengambil keputusan untuk memproklamasikan Indonesia sebagai negara merdeka.  Mereka paham bahwa risiko dari keputusan itu tidak kecil: mereka (dan keluarganya) bisa ditangkap atau bahkan dibunuh oleh Jepang, karena belum ada sikap politik yang tegas dari Pemerintah Jepang terkait nasib Indonesia.  Mereka juga berpotensi dihukum oleh Sekutu, yang secara yuridis berhak atas semua wilayah pendudukan Jepang pasca menyerahnya Jepang.  Namun, kompetensi moral merekalah yang membuat kita ada saat ini, karena para pendiri bangsa ini bersedia menjadikan dirinya “tumbal” bagi masa depan nasib jutaan orang yang kelak akan mewariskan Indonesia ini pada anak cucunya.

JANGAN PERNAH LUPA PADA SEJARAH

Itu 75 tahun yang lalu.  Untuk ukuran manusia, 75 tahun adalah usia yang tergolong uzur, ketika manusia sudah melewati masa-masa termatang dalam siklus hidupnya, dan akan kembali menjadi seperti “anak kecil”.  Namun untuk sebuah bangsa, 75 tahun adalah usia yang relatif “matang”, di mana sebuah bangsa semestinya telah menemukan jati diri, kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara, serta mencapai kemapanan dalam tata kelola bermasyarakat.  Adalah sebuah perenungan yang menarik ketika kita mempertanyakan seperti apa kita sebagai bangsa di usia 75 tahun ini.

Kembali pada sejarah, setelah merdeka bangsa ini juga tidak melenggang mudah dalam perjalanannya.  Berbagai gejolak baik fisik bersenjata maupun politik masih terjadi di berbagai wilayah: perang wilayah melawan kembalinya Belanda yang membonceng Sekutu, pergolakan politik nasional di era 1950-an, hingga tergulingnya Soekarno pasca pemberontakan G-30S/PKI.  Memasuki masa Orde Baru, bangsa ini juga masih bergulat dengan dirinya sendiri yang puncaknya adalah gerakan reformasi 1998, yang berbuah dengan pemerintahan-pemerintahan baru pasca Soeharto, hingga saat ini.

Berbagai pencapaian telah diraih.  Pembangunan infrastruktur berjalan masif, Jakarta menjadi salah satu metropolitan sibuk di dunia, dan berbagai bidang bergerak untuk mewujudkan Indonesia yang “modern”.  Sebagai perbandingan, Malaysia menyatakan kemerdekaannya tahun 1957, Singapura tahun 1965, Vietnam hanya berselisih sekitar dua minggu setelah kita, Korea Selatan hanya berselisih dua hari sebelum kita (yang berarti usia Vietnam dan Korea Selatan sama-sama 75 tahun).  Ada pertanyaan kritis yang muncul tentang seberapa “modern” kita dibandingkan negara-negara yang saya sebutkan tadi.  Tapi bagi saya, pertanyaan yang lebih penting adalah “seberapa merdekakah kita sekarang?”

History is the foundation of a nation.  Sejarah adalah pondasi sebuah bangsa.  Ketika sebuah bangsa secara historis dibangun di atas kompetensi moral para pendirinya, maka kompetensi moral itu pulalah kekuatan terbesar untuk membangun bangsa itu.  Mengabaikan eksistensi kompetensi moral sama halnya mengabaikan pondasi sebuah bangunan, yang pada akhirnya hanya akan melahirkan sebuah bangunan yang rapuh meskipun terlihat indah, gampang roboh sekalipun terlihat mentereng.  Singkatnya, jangan pernah melupakan sejarah bagaimana bangsa ini berdiri, karena itu adalah pintu bagi kehancuran dari semua yang telah diperjuangkan dengan cucuran darah, keringat, dan air mata para pendahulu kita.

KOMPETENSI MORAL ADALAH CIKAL BAKAL INDONESIA

Para pendiri bangsa ini telah menunjukkan pada kita (kalau kita mau belajar sejarah, tentunya) bahwa hal sangat besar yang terlihat tidak mungkin sekalipun dapat kita wujudkan, selama kita kompeten secara moral.  Apa yang dimaksud “kompeten secara moral” itu?  Kompeten secara moral, atau kompetensi moral, adalah sebuah kondisi kecakapan mentalitas yang berisikan nilai-nilai semangat pejuang, kecintaan kepada tanah air, kesediaan mengorbankan diri sendiri demi kepentingan bersama, mengedepankan kemaslahatan orang banyak di atas kepentingan sendiri, dan tidak pernah berpikir untung rugi dalam memperjuangkan cita-cita bersama.

Nilai-nilai itu yang ada dalam kepribadian figur-figur yang kita kenal dengan nama Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, bahkan dalam figur seorang Ibu Fatmawati, yang menjahit sendiri bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat pembacaan naskah proklamasi.  Kompetensi moral itu pulalah yang memenuhi diri seorang Jenderal Soedirman, yang dalam keadaan sakit tetap berada di tengah-tengah anak buah ketika Belanda mencoba mengganggu kemerdekaan Indonesia yang masih berusia dini.  Juga pada diri Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang merelakan Jogjakarta menjadi Ibukota negara saat Jakarta kembali diduduki Belanda, dan dengan dana daerah yang terbatas bersedia membiayai roda pemerintahan Indonesia.  Masih banyak lagi tokoh-tokoh besar yang dapat kita sebutkan untuk menggambarkan bahwa dalam diri mereka, tidak ada yang lebih penting daripada kemerdekaan dan kemajuan bangsanya.  Diri dan keluarga merekapun berada di prioritas kesekian ketika berbicara tentang apa yang terpenting bagi mereka.

Tujuan pembangunan negara adalah untuk mewujudkan cita-cita nasional seperti yang dinyatakan dalam Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 (melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial).  Dalam implementasinya, pembangunan itu kita jalankan dalam berbagai aspek: ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan serta keamanan.

Cita-cita nasional hanya dapat diwujudkan di atas kompetensi moral yang kuat.  Bangsa ini tidak sekedar butuh menjadi lebih modern, namun yang tidak kalah penting adalah menjadi lebih berkarakter.  Benchmark dari karakter bangsa ini sebenarnya sudah diperlihatkan oleh para pendiri bangsa kita di awal-awal kemerdekaan, yang tergambar dalam lima sila Pancasila yang menjadi dasar kita bernegara.  Artinya, kita perlu kembali lagi pada sejarah bagaimana bangsa ini terbentuk, untuk dapat memahami bagaimana kita harus melangkah ke depan.  Akibat dari sikap abai pada sejarah dan pada karakter kebangsaan dapat kita lihat dari apa yang terjadi dengan Uni Soviet tahun 1991 dan Yugoslavia tahun 2003.

SEBERAPA KOMPETENKAH BANGSA INI SECARA MORAL?

Di tengah kemajuan teknologi informasi yang kita rasakan saat ini, tidak sulit untuk memperoleh gambaran obyektif tentang kecakapan moral bangsa ini di usianya yang sudah 75 tahun. Kita bisa melihat betapa susahnya memberantas korupsi pada saat jumlah peraturan perundang-undangan Indonesia mungkin salah satu yang terbanyak di dunia, dan berbagai lembaga penegakan hukum sudah dibentuk.  Tidak sulit juga untuk melihat perilaku tokoh-tokoh publik yang jauh dari kata teladan, yang bahkan dengan bangganya dipertontonkan kepada masyarakat.  Tidak sulit pula untuk melihat betapa masih tertatih-tatihnya kita membuat kebijakan publik yang konsisten, sinergi satu sama lain, sinkron antara pusat dan daerah, dan sebagainya.

Kita bangga dengan pencapaian pelajar-pelajar kita di berbagai even internasional, namun tidak sadar bahwa itu adalah buah dari kerja keras mereka sebagai individu, yang ditopang oleh sistem kebijakan internal sekolahnya yang bagus, BUKAN karena sistem pendidikan nasional kita yang sudah maju.  Sebelum pandemi Covid-19, berbagai cerita tentang bagaimana anak-anak di desa-desa terpencil harus bertaruh nyawa untuk sekedar sampai ke sekolah, guru yang harus berjuang antara hidup dan mati untuk bisa mengajar, fasilitas sekolah yang buruk, adalah hal yang umum kita semua ketahui (dan hebatnya lagi, beberapa kondisi itu terjadi di Pulau Jawa, yang nota bene satu pulau dengan Ibukota negara).  Saat pandemi, terlihat pula betapa belum siapnya kita menjalankan skema pendidikan modern yang berbasis internet, ketika di banyak tempat anak-anak harus berkumpul entah di tepi jurang, di balai desa, atau di pinggir kuburan hanya untuk mendapatkan sinyal dan akses internet yang stabil.  Masih banyak lagi cerita miris lainnya, yang daftarnya bisa sangat panjang.

Di saat kita sudah 75 tahun bernegara, kita masih disibukkan oleh hal-hal yang “receh”.  Persoalan-persoalan berlatarbelakang suku dan agama, adalah beberapa contoh bagaimana bangsa ini masih belum cukup cerdas dan modern cara berpikir dan sikap moralnya.  Tidak mengherankan, karena kelompok-kelompok ini mungkin melihat bagaimana cara berpikir dan sikap moral para “panutan” mereka, atau “wakil rakyat” pilihan mereka.  Tidak aneh, karena manusia-manusia “tanpa otak” sekalipun bisa disebut dan dipuja-puja sebagai “tokoh”.

Pencapaian kita memang banyak di 75 tahun ini, tapi ketika berbicara apakah semua pencapaian itu sudah mendekatkan kita pada terwujudnya cita-cita nasional seperti dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945, itu persoalan lain.  Menjawab pertanyaan “seberapa merdekakah kita” tadi, saya bisa mengatakan bahwa pada dasarnya kita bahkan belum merdeka dari diri kita sendiri, ketika para figur publik masih menjadi budak dari ego sektoral dan hasrat individu akan kekuasaan serta kepuasan diri sendiri.

Ada hal yang wajib diingat: bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak meninggalkan sejarah, dan sejarah bangsa ini dibangun di atas kompetensi moral.

Selamat memaknai 75 tahun perjalanan, negeriku!

Dirgahayu, tanah airku!

SUZUKI JIMNY REVIEW WITH “DRIVING FOLKS”

#drivingfolks #car #automotive

Kanal Youtube pertama Dimitri bersama rekannya Rama mereview mobil Suzuki Jimny. Masih belajar membuat konten Youtube, jadi mohon maaf atas kekurangan-kekurangan yang ada. Kami sangat menghargai setiap “Like”, “Subscribe”, “Share” serta komentar-komentar demi perbaikan kanal ini di kemudian hari. Selamat menikmati, terima kasih.

First Youtube channel from Dimitri and his mate Rama, reviewing Suzuki Jimny car. Still learning to make a Youtube content, so apology for flaws you might find. Every “Like”, “Subscribe”, “Share” and comment for this channel improvement in the future is highly appreciated. Enjoy the review and thank you.

LAYANG KAGEM MAS DIDI KEMPOT

Ilustrasi dari musikan.net

Sugeng sonten Mas Didi Kempot yang sangat saya hormati dan kagumi,

Mau memberitahu sampeyan aja bahwa pagi ini saya syok banget membaca berita tentang kepergianmu.  Baru kemarin saya menyaksikan video klip Anda “Ojo Mudik” yang berisi himbauanmu untuk tidak mudik di tengah pandemi Covid-19 ini.  Belum lama juga saya menambahkan beberapa lagumu di playlist Youtube Music saya.  Lalu juga belum hilang dari ingatan saya menonton konser amal Anda di Kompas TV yang menghasilkan 7,5 miliar rupiah hanya dalam 3 jam untuk disumbangkan bagi penanggulangan wabah saat ini.

Sejauh ini Mas Didi, tulisan ini adalah tulisan pertama yang saya buat dengan mata berkaca-kaca, bahkan saya sudah beberapa kali menyeka air mata saya.  Ngga tau kenapa, tapi yang jelas Anda adalah selebritis Indonesia pertama yang saya kagumi.   Memang saya sudah kenal lagu-lagu lama Anda seperti “Stasiun Balapan” atau “Sewu Kuto” sejak dulu, bahkan itu lagu-lagu favorit saya kalau berkaraoke bersama keluarga.  Tapi sejak anak laki-laki saya mengenalkan beberapa lagu Anda lagi yang dia suka seperti “Kalung Emas”, “Layang Kangen”, “Banyu Langit”, “Cidro” dan tentu saja “Pamer Bojo” yang selalu bikin heboh itu, saya menjadi lebih intens mengikuti karya-karya Anda.

Lalu saya menjadi salah satu subscriber channel Youtube Anda, dan lagu serta suara Anda seolah bagian dari hidup saya sehari-hari sekarang.  Perjalanan saya di mobil ke manapun selalu diisi suara Anda.  Bekerja di kantor juga diiringi suara Anda.  Menunggu istri belanja juga diisi suara Anda di earphone saya.  Di rumah, buka Youtube ya cuma untuk mencari lagu Anda.  Anda memberi keceriaan, hingga pagi sebelum saya tulis surat ini, di mana untuk pertama kalinya berita tentang Anda menghadirkan kesedihan yang mendalam.

Saya belum pernah bertemu Anda.  Juga belum sempat nonton konser Anda.  Saya baru meniatkan untuk menonton konser Anda secara live, berdua dengan anak laki-laki saya, tapi Anda telah lebih dulu berpulang.   Meski demikian, bagi saya Anda sangat istimewa, seperti halnya bagi “Sobat Ambyar” yang lain.  Semakin mengikuti karya-karya Anda, semakin banyak alasan saya untuk memandang Anda sebagai sebuah sosok yang berbeda.  Anda bukan sekedar selebritis, bukan sekedar artis atau penyanyi biasa.   Anda adalah idola, inspirasi, dan pendobrak.  Tak heran meski usia Anda berjarak cukup jauh dengan sebagian besar generasi milenial penggemar Anda, Anda bisa begitu dekat dengan mereka.

Saya pernah menonton wawancara Anda yang dipandu oleh Gofar Hilman, penyiar radio Hard Rock FM Jakarta.  Itu saat Anda banyak bercerita tentang masa lalu Anda, bagaimana Anda menciptakan lagu-lagu Anda, dan bagaimana sikap Anda ketika banyak penyanyi lain mengambil keuntungan dari lagu-lagu yang Anda ciptakan.  Semua cerita Anda itu adalah “Wow” buat saya.  Banyak lagi cerita-cerita yang Anda sampaikan di berbagai kesempatan, kepada berbagai presenter, yang semuanya menggambarkan satu hal di mata saya: Anda adalah orang yang apa adanya.

Kostum Anda selalu sederhana.  Kaos, kemeja atau batik, itu yang paling sering saya lihat.  Paling mewah ya busana Jawa lengkap dengan blangkon­-nya.  Gaya Anda tidak dibuat-buat, entah itu saat manggung atau saat interview.  Anda berbicara sebagaimana Anda berbicara sehari-hari.  Logat Jawa Anda sangat kentara, dan itu tidak berusaha Anda tutupi.  Boso londone: “genuine”.  Seandainya waktu bisa diputar dan kita bisa melihat Anda di masa lalu, saya yakin tidak akan melihat banyak perbedaan dengan apa yang saya lihat dari Anda saat ini.  Seorang Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot yang orang-orang sekitar Anda kenal sejak Anda kecil adalah orang yang sama dengan yang dikenal generasi milenial hari ini.

Anda membuktikan bahwa menjadi “apa adanya” tidak akan membuat kita hina.  “Apa adanya” Anda justru menjadi pembeda Anda dari seleb-seleb lain yang cuma sibuk bikin sensasi, pamer ini itu, bikin berita plesir kesana kemari, tapi miskin prestasi.   Seleb-seleb yang—buat saya—cuma bikin sakit mata kalau buka situs berita.  Anda hanya tahu bagaimana berkarya, bikin lagu-lagu yang bertema sederhana dengan bahasa yang sangat gampang dicerna, yang menggambarkan hal-hal realistis dalam hubungan antar umat manusia.  “Apa adanya” Anda membuat musik Anda tidak lekang oleh modernisasi jaman.

Anda tidak sibuk mencitrakan diri Anda, meski Anda tahu penggemar Anda jutaan, tidak hanya di dalam tapi juga luar negeri.  Anda mungkin tidak kepikiran bikin channel Youtube kalau tidak ada yang memberi masukan dan membuatkannya untuk Anda (itu feeling saya lho Mas).  Anda tidak pernah memposisikan diri Anda di atas yang lain.  Anda penuh dengan empati dan apresiasi terhadap orang lain.  Gaya Anda di panggung juga “begitu-begitu saja”.  Tapi itulah hebatnya Anda, Mas Didi.  Anda memang tidak perlu membuat yang “aneh-aneh” di panggung atau di luar panggung, karena Anda sudah ditakdirkan membawa perbedaan dalam diri Anda sendiri.

Ketika karya Anda dijadikan bahan mencari keuntungan oleh orang lain, Anda hanya senyum-senyum saja.  Tapi Anda terus berkarya dan berkarya.  Anda meyakini bahwa keuntungan yang didapat orang lain dengan karya Anda adalah amalan untuk Anda.  Suatu sifat yang hanya dimiliki oleh orang-orang hebat, orang-orang besar.  Sebuah karakter yang orang-orang dengan label atau atribut “pejabat”, “orang penting”, “wakil rakyat” bla bla bla sekalipun belum tentu memilikinya.  Karakter yang menunjukkan bahwa Anda adalah seorang pemenang.

Anda dibesarkan dengan karya Anda.  Anda dididik oleh kehidupan Anda sendiri, yang keras dan penuh pahit getir.  Mengamen di jalanan, di bis kota, mengadu nasib dan ngekos di kamar sempit di Jakarta, ditolak label rekaman, dan berbagai cerita pahit lainnya.  Itu yang membesarkan Anda, dan menjadikan Anda seperti sekarang.  Didi Kempot yang sederhana, apa adanya, penuh empati, merakyat dan bisa dekat dengan siapa saja meskipun ngetop-nya sudah ngga ketulungan.

Dari Anda, saya semakin yakin bahwa menjadi diri sendiri adalah yang utama bagi setiap orang, karena kita tidak akan pernah menjadi sama dengan orang lain, sekeras apapun kita mencobanya.  Dan kita memang tidak perlu mencoba menjadi seperti orang lain.  Tuhan menciptakan diri kita berbeda dengan yang lain, dan di dalamnya Tuhan menanam benih-benih talenta, berkat, dan kelebihan sejak kita dilahirkan.  Tidak perlu mengeluhkan apa yang tidak kita punya, karena pada dasarnya orang lainpun banyak yang tidak memiliki apa yang kita miliki.  Menjadi diri sendiri adalah tentang bagaimana kita menghargai dan mensyukuri apa yang Tuhan sudah berikan untuk kita, dalam wujud lahir dan bathin kita.

Anda memberi teladan bagaimana mencintai apa yang kita kerjakan.  Anda memberi jiwa di setiap lagu Anda, bukan sekedar rangkaian nada dengan lirik yang hampa.  Anda mengangkat hal-hal yang sehari-hari ada dalam kehidupan kita, sehingga tidak sulit bagi siapapun untuk mencernanya.  Lirik, nada, dan musik-musik Anda simpel, tidak rumit, dan sekalipun sebagian besar dalam Bahasa Jawa, semua orang bisa memahaminya.  Itu karena musik adalah sesuatu yang Anda tekuni dengan cinta, passion, sehingga siapapun yang mendengar lagu Anda serasa sedang mendengarkan sebuah seruan hati, bukan sekedar rangkaian kata-kata. Tidak aneh bila anak-anak muda sekalipun bisa menangis di konser Anda, dan tidak aneh pula bila karya-karya Anda bisa diterima berbagai kalangan, mulai kaum elite sampai masyarakat kebanyakan, menerjang batas usia, suku, etnis, agama, bahkan batas negara.

Anda memberi contoh bagaimana membangun hidup yang bermanfaat bagi banyak orang.  Musik Anda sendiri sudah menjadi sumber hiburan jutaan manusia.  Ditambah lagi empati Anda yang luar biasa bagi mereka yang berkekurangan.  Anda mengadakan konser amal dari rumah untuk mereka yang terdampak wabah belakangan ini, dengan “menawarkan” suara dan lagu-lagu Anda.  Anda bahkan “membiarkan” orang lain memanfaatkan lagu Anda untuk keuntungannya sendiri, tanpa minta ijin atau memberi tahu Anda.  Lagu-lagu Anda adalah representasi suara banyak orang, corong untuk berbagai jeritan.

Dari Anda pula saya memiliki optimisme akan generasi muda kita, yang dengan bangga melabelkan diri mereka sebagai “Sadbois” dan “Sadgirls” dalam komunitas besar “Sobat Ambyar”.  Mereka adalah perlambang bahwa musik kita, sekalipun dengan genre tradisional kedaerahan, masih mendapat tempat istimewa di hati kalangan muda.  Saya selalu takjub melihat setiap video konser Anda, di mana anak-anak muda itu tidak hanya berjoget, melainkan hafal setiap kata di lagu yang Anda nyanyikan.  Mereka luar biasa, dan itu karena Anda.

Sekarang, mendengarkan lagu-lagu Anda tak akan terasa sama lagi.  Kalau dulu mendengarkan lagu-lagu Anda adalah keceriaan, atau tangisan suara hati, kini mendengarkan lagu-lagu Anda akan terasa seperti merangkai mozaik kenangan.  Kenangan yang Anda tinggalkan di setiap lirik lagu Anda, kenangan akan seseorang yang sederhana yang mencintai pekerjaannya, dan membaktikan hidupnya untuk kemaslahatan banyak orang.  Ya, sekarang mendengarkan lagu Anda adalah sebuah kilas balik mengenang seorang legenda, seorang “Maestro”, seorang musisi hebat yang setia menjadi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Sang Pencipta yang sangat mencintaimu lebih memahami apa yang terbaik.   CintaNya jauh lebih besar dari cinta para penggemarmu.  Bila kemarin orang menangis karena lirik lagu Anda, sekarang orang menangis karena Anda.   Terima kasih, Mas Didi.  Selamat jalan dan selamat beristirahat dalam kedamaian, The Godfather of Broken Heart.

Ati sing ambyar sak ambyare, 5 Mei 2020

MENDIDIK INDONESIA

Ilustrasi dari siedoo.com

Ketika saya berkesempatan menempuh pendidikan S-2 di Australia tahun 2008, anak sulung saya berkesempatan pula bersekolah di sebuah sekolah dasar (primary school) di kota Queanbeyan, NSW.  Sebuah kota kecil yang tenang tempat kami sekeluarga tinggal, hanya sekitar 15 menit berkendara dari ibukota Australia, Canberra.  Dia berada di kelas IV (4th grade) di sekolah itu.  Jam sekolahnya dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore.  Siswa di situ selalu mendapat PR setiap hari Senin, dan “dikumpulkan” hari Jumat setiap minggunya.

Saya selalu membaca lembar kertas PR yang dibawa anak saya setiap hari Senin itu, dan isinya sangat menarik perhatian saya.  PR itu hanya berupa 1 lembar kertas yang di dalamnya berisi tugas-tugas sederhana untuk diselesaikan siswa selama seminggu; ada matematika, ada Bahasa Inggris, dan beberapa pelajaran lain.  Matematikanya sangat gampang untuk ukuran siswa dari Indonesia—anak saya sudah mempelajari materi-materi itu di kelas II dan III di sekolahnya di Bogor.  Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya.

Setiap minggunya, selalu ada pelajaran yang isi PR-nya berbunyi kira-kira begini: “Buka website bla bla bla dot co dot au.  Jawab semua pertanyaan di dalamnya.  Bila ada yang tidak bisa kamu jawab, sampaikan di depan kelas pada hari Jumat”.  Saya pernah mengikuti anak saya mengerjakan soal sesuai petunjuk lembaran PR-nya itu; sebagian besar bisa dia jawab, tapi ada juga yang tidak.  Semula anak saya meminta bantuan saya untuk menjawab soal yang dia tidak bisa jawab itu, tapi saya katakan padanya untuk mengikuti petunjuk dalam lembar PR-nya: catat yang tidak bisa kamu jawab, sampaikan di depan kelas hari Jumat.

Karakter, Bukan Sekedar Ilmu Pengetahuan

Suatu hari ketika menjemput anak saya di sekolahnya, saya berkesempatan berbincang dengan gurunya, dan menyampaikan ketertarikan saya dengan model PR yang diberikan sekolah kepada siswanya.  Guru tersebut mengatakan: “Kami paham bahwa soal-soal yang ada di lembar PR itu sangat mudah untuk ukuran siswa dari Asia seperti anak Bapak.  Tapi dalam keyakinan kami, mendidik bukan sekedar soal membuat anak-anak ini bisa membaca, menulis, dan berhitung.  Kalau cuma itu, selama anak-anak ini diberi buku pelajaran, diajari dan dilatih dengan soal-soal, mungkin cukup 6 bulan mereka sudah pandai membaca, menulis, dan berhitung.  Itulah yang diberikan sekolah.  Tapi ketika membangun karakter, kita harus mulai sejak dini, dan itu yang kami lakukan di sini.  Kami tidak sekedar membangun sekolah, kami membangun tempat mendidik”.

“Maksudya?”, tanya saya.

“Coba Bapak perhatikan bagian soal yang berisi tugas untuk membuka sebuah website dan menyampaikan di depan kelas soal-soal di website itu yang tidak bisa dijawab siswa”, jawab Guru tersebut.

“Ya, saya melihat itu”

“Nah, itulah sebenarnya intinya”

“Maaf, saya kurang paham maksud Anda”

“Negara kami merancang model tugas yang seperti itu sebagai bagian dari pendidikan karakter anak.  Anak akan dituntut untuk jujur pada dirinya sendiri.  Dia harus mengerjakan sendiri sebatas yang dia mampu.  Ketika ada hal-hal yang tidak bisa dia jawab, maka dia harus punya keberanian untuk mengakuinya, dengan cara menyampaikan di depan kelas.  Di sisi lain, anak-anak yang mampu menjawab soal itu harus mau berbagi ilmu dengan temannya, dengan cara menceritakan bagaimana dia menjawab soal itu”

“Bagaimana bila tak ada satupun yang bisa menjawab soal itu?”

“Di situlah peran saya sebagai Guru”

Kejujuran, Empati dan Kohesi Dari Ruang Kelas

Karena penasaran, di suatu hari Jumat saya luangkan waktu untuk melihat apa yang dikatakan Bu Guru tadi.  Kebetulan setiap kelasnya memiliki jendela yang cukup bagi saya untuk mengintip bagaimana kelas anak saya berjalan.  Yang saya lihat betul-betul membuat saya kagum.

Di dalam kelas seorang teman anak saya sedang menyampaikan apa yang dia tidak bisa kerjakan di website yang sudah ditugaskan.  Lalu seorang anak lain mengacungkan tangan, kemudian ikut maju ke dapan kelas menyampaikan bagaimana dia menjawab soal itu.  Seorang anak lainnya ikut nimbrung menjelaskan versinya sendiri dalam menjawab soal itu.  Akhirnya muncul diskusi di seluruh kelas, dan sepanjang diskusi berlangsung, Bu Guru hanya duduk saja dan mengamati dari sudut belakang kelas.

Setelah diskusi selesai, semua siswa kembali duduk.  Lalu Bu Guru menjelaskan hal-hal yang dia amati dari diskusi tadi.  Dia menyampaikan penghargaannya atas kejujuran siswa yang tidak bisa menjawab soal, dan juga kepada siswa yang mau membagikan pengetahuannya dalam menjawab soal itu, serta kepada seluruh kelas atas partisipasinya dalam diskusi.  Tidak ada satu katapun dari mulutnya yang menyalahkan si A atau si B, sekalipun model pendekatan yang disampaikan beberapa siswa dalam menyelesaikan soal itu berbeda-beda.  Semua dihargai.

Satu hal menarik lagi adalah bahwa model bangku di sekolah anak saya tidak “klasikal” seperti umumnya di sekolah-sekolah Indonesia: semua meja dan kursi menghadap ke depan, ke arah papan tulis dan meja/mimbar Guru.  Di sekolah anak saya, susunan bangku dibuat berkelompok: satu meja 4-5 orang.  Susunan yang demikian membuat anak-anak saling melihat rekan-rekan satu kelompoknya, memudahkan diskusi, dan membangun kohesi satu sama lain.  Menurut anak saya, kelompok-kelompok itu diubah setiap dua minggu.

Pendidikan Bukan Soal Angka, Nilai, atau Skor

Guru lebih banyak berada di belakang kelas, membiarkan para siswa membangun diskusinya sendiri, menyelesaikan masalah sejauh kemampuan mereka, dan mengembangkan interaksi serta keterbukaan satu sama lain.  Tapi ini bukan berarti Guru tidak memantau perkembangan murid-muridnya.  Hal itu dapat saya buktikan setiap anak saya menerima rapor.

Rapor di sekolah anak saya selalu berisi “word picture”.  Intinya adalah menggambarkan pencapaian si anak dalam kata-kata: apa keunggulan/kelebihan si anak, apa kelemahan/kekurangannya, potensi apa yang dapat dikembangkan dari si anak, saran kepada orang tua, dan lain lain dengan detail yang sangat jelas.  Ini berarti Guru harus memiliki pemahaman yang personal terhadap murid-muridnya, satu demi satu.  Tanpa itu, tidak mungkin bisa membuat isi rapor dengan gambaran yang sebegitu detailnya, berbeda-beda untuk tiap murid.

Substansi rapornya pun sangat menggugah.  Sekolah selalu menghargai potensi anak, apapun itu.  Saya jadi teringat obrolan dengan Bu Guru, bahwa yang terpenting adalah mendidik, bukan sekedar bersekolah.  Itu sebabnya di lembar rapor tidak pernah ada angka, dan tidak ada ranking.  Aspek kualitatif lebih penting ketimbang sekedar skor, nilai, angka, ranking, dan sebagainya.

Setiap anak punya potensinya sendiri, dan setiap potensi pasti bermanfaat tidak hanya buat si anak, tapi buat masyarakat di kemudian hari.  Anak yang susah memahami matematika misalnya, apakah berarti dia bodoh?  Mungkin memang potensinya bukan di hitung-menghitung, melainkan di seni misalnya, atau linguistik, atau ilmu sosial (humaniora).  Apakah ilmu-ilmu itu tidak bermanfaat?  Anda tahu jawabannya.

Nah, masalahnya sistem pendidikan kita menuntut anak untuk menguasai ilmu-ilmu pelajaran di sekolah secara seragam.  Nilai matematika minimal harus 75 misalnya, kalau tidak si murid harus ikut ujian ulang, bahkan tidak naik kelas.  Padahal potensinya memang bukan di situ.  Ketika dituntut sedemikian rupa, demi bisa bertahan di sekolah, si murid bisa saja menghalalkan segala cara, yang penting skornya nanti bagus.  Dia akan menyontek, mencuri soal, minta bocoran soal ke Guru (melalui orang tua misalnya), dan lain-lain.

Di sisi lain, model pemeringkatan sekolah oleh kementerian atau otoritas pendidikan kita juga membuat sekolah-sekolah saling berlomba untuk mendapatkan “predikat yang baik”.  Siswanya harus lulus semua, naik kelas semua, nilai rata-rata sekolahnya harus tinggi di kabupaten/kota/provinsi, dan seterusnya.  Lagi-lagi, ini membuat sekolah-sekolah melakukan berbagai upaya, termasuk cara-cara haram seperti memberi bocoran kepada siswanya, menyuap otoritas, dan lain-lain.

Pada akhirnya kita melihat sekolah justru menjadi tempat yang mengajarkan hal-hal yang tidak baik.  Menyontek atau mencari bocoran adalah bentuk lain dari mencuri.  Kebiasaan mencuri yang tanpa sadar ditanamkan oleh sekolah akhirnya menjadi bibit-bibit kebohongan yang seiring waktu tumbuh subur di dalam diri para murid.  Maka jangan heran ketika si murid ini suatu hari menjadi seorang koruptor, penyebar informasi palsu, perundung, atau bahkan pembunuh.  Itu karena sejak dia sekolah, dia sudah “diajari” hal sederhana: berbohong, tidak jujur pada dirinya sendiri, dan tidak mau mengakui kekurangannya.  Diajari untuk abai terhadap kualitas internal dirinya, yang penting kelihatan “mentereng” di luar.

Pendidikan Adalah Investasi Bangsa, Bukan Proyek

Anggaran pendidikan kita dialokasikan 20% dari APBN setiap tahunnya, sesuai amanat Amandemen UUD 1945.  Ini bukan angka yang kecil, dan bila dikelola dengan benar, semestinya pendidikan kita sudah maju pesat sekarang.  Sayang sekali, dunia pendidikan kita “masih di situ-situ saja”.

Alokasi APBN yang besar dan berasal dari uang rakyat itu semestinya bisa membangun sebuah sistem pendidikan yang mengutamakan pembentukan karakter bangsa, bukan sekedar menjejalkan ilmu-ilmu pengetahuan.  Karakter yang berisi kepribadian yang jujur, penuh empati, mengedepankan kepentingan bersama, dan mencintai bangsanya.  Pendidikan karakter jelas bersifat lebih kualitatif ketimbang kuantitatif.   Prosesnya juga butuh seumur hidup, dan harus dimulai sejak dini.

Kurikulum harus disusun sedemikian rupa agar peserta didik di berbagai strata, mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, menyadari arti penting kejujuran, empati, dan nasionalisme.  Membuat model pendidikan yang seperti itu jelas tidak gampang, tapi itulah yang harus dilakukan setiap bangsa yang ingin maju.  Jadi anggaran pendidikan tidak habis hanya sekedar untuk sebuah kurikulum yang asal ada, yang penting bisa cetak buku atau modul baru secara nasional.  Lalu kalau nanti ada yang harus diperbaiki ya tinggal bikin proyek baru lagi, ajukan anggaran lagi dan seterusnya dan sebagainya.

Memberikan gaji atau tunjangan lebih besar kepada para guru harus diikuti dengan peningkatan kualitas guru atau tenaga pendidik.  Jadi penambahan kesejahteraan materiil para guru juga harus menjamin peningkatan tanggung jawab mereka sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.  Bukan sebaliknya, sudah digaji lebih malah mengajar asal-asalan, tidak peduli muridnya bisa atau ngga, yang penting jamnya mengajar ya mengajar, beri tugas ke murid, setelah itu pulang.

Anggaran pendidikan yang besar juga harus menjamin pendidikan menjangkau semua lapisan masyarakat, sampai pulau-pulau terluar di negeri ini.  Pendidikan harus murah—kalaupun tidak gratis, dan semua orang harus punya kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan yang baik, di manapun mereka berada.  Infrastruktur harus tersedia secara memadai, jadi murid dan guru tidak perlu was-was sekolahnya roboh atau bocor ketika ada hujan atau angin besar.  Infrastruktur itu harus menjangkau masyarakat yang terpencil sekalipun, sehingga mereka tidak perlu berjuang meniti tali menyeberangi sungai deras hanya untuk bisa sekolah, atau menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai di ruang kelas.

Kita mempertaruhkan nasib bangsa ini di masa depan dengan membangun sistem pendidikan kita.  Ketika hari ini kita membangun pendidikan dengan ala kadarnya, jangan kaget kalau suatu hari nanti Indonesia hanyalah sebuah nama di buku-buku sejarah dunia, sebagai sebuah bangsa yang pernah ada, tapi hancur oleh dirinya sendiri.

Selamat memaknai Hari Pendidikan Nasional, Indonesia!

Bogor, 2 Mei 2020

PERSPEKTIF

Foto koleksi pribadi.

Gegara COVID-19, sudah sekitar 3 minggu saya bekerja dari rumah alias Work From Home (WFH), meski sempat beberapa kali ke kantor karena ada hal yang mengharuskan kehadiran fisik di tempat kerja.  Saat sedang tidak ada pekerjaan dari kantor yang harus saya kerjakan di rumah, salah satu kesibukan yang saya pilih adalah belajar menggambar 3-dimensi (3D drawing).  Di Youtube, channel yang mengajarkan cara menggambar 3D kebetulan banyak, jadi ngga susah buat belajar.

Manfaatnya lumayan juga.  Selain sebagai pengisi waktu luang, kemampuan kognitif dan motorik saya terjaga, lalu dengan goresan-goresan pensil dan spidol di secarik kertas polos saya bisa belajar sesuatu yang baru, dan hasilnya cukup bisa memuaskan mata untuk ukuran seorang pemula yang masih sekedar menirukan apa yang dikerjakan oleh para ahli di berbagai channel itu.   Bisa sedikit “pamer” juga ke anak-anak dan memperoleh apresiasi mereka (walaupun mungkin terpaksa karena itu bikinan Bapaknya hehehe…).

==========================

Mereka yang paham atau minimal pernah menggambar 3D tentu mengerti bahwa ilusi 3 dimensi dari sebuah gambar yang sebenarnya 2 dimensi dan dilukis di atas sebidang kertas itu diperoleh ketika gambar tersebut dilihat dari satu sudut padang tertentu.  Artinya, gambar itu akan terlihat 3 dimensi hanya dari satu perspektif yang tepat.  Sebuah huruf yang mengambang misalnya, hanya akan terlihat mengambang dari satu angle.  Dari angle yang lain, ia hanya akan terlihat seperti gambar sebuah huruf biasa dengan sedikit arsiran di dekatnya (yang menjadi “bayangan” huruf itu ketika terlihat 3 dimensi).  Ilusi yang dimunculkannya adalah persoalan perspektif.

“Perspektif” sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi manusia dan kehidupan yang sudah ribuan tahun ada di bumi ini.  Setiap hari kita lekat dengan perspektif.   Apa yang kita pikirkan tentang sesuatu sebenarnya adalah perspektif kita, yang berbuah pada tindakan kita atas sesuatu itu.  Ketika sesuatu yang sama dilihat oleh orang lain secara berbeda, artinya perspektif orang itu juga berbeda.  Dengan kata lain, ia melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.  Alhasil, tindakannya atas sesuatu itu juga tidak akan sama dengan tindakan kita.

Dalam konteks sosial, perspektif layaknya pelangi.  Ia berpola sama, tapi warnanya macam-macam: merah, jingga, kuning, hijau, dan sebagainya.  Artinya, semua orang punya perspektif terhadap satu hal yang sama, tapi hasilnya bisa berbeda.  Perspektif adalah sebuah heterogenitas yang abstrak, ngga keliatan di mata tapi terasa dampaknya.  Perspektif bukan sebuah keragaman yang bisa dilihat kasat mata seperti suku, agama, warna kulit, etnis, pangkat, jabatan dan sebagainya.   Sangat abstrak, tapi tidak semu.

Kembali ke contoh gambar huruf mengambang tadi (yang saya jadikan ilustrasi tulisan ini), dari sudut mana seseorang melihat gambar itulah yang akan menghasilkan interpretasi di pikirannya.  Tindakan yang mungkin muncul adalah sebuah kesimpulan verbal ketika seseorang akan berkata “Ah, itu gambar huruf biasa” atau “Oh, itu huruf yang mengambang di udara”.

==========================

Sejarah umat manusia pada dasarnya juga dibentuk dan ditentukan oleh perspektif-perspektif.  Adam dan Hawa menjadi berdosa dalam perspektif Tuhan karena mereka melihat sesuatu dari sudut pandang iblis, sehingga Tuhan marah dan menghukum mereka (setidaknya itu yang diajarkan dalam keyakinan yang saya anut).  Perang Dunia II dipicu oleh perspektif seorang Adolf Hitler terhadap bangsa Yahudi.  Kebangkitan nasional Indonesia tahun 1908 didasari pada sebuah perspektif kebangsaan dari seorang Dr. Soetomo, begitu pula Sumpah Pemuda 1928 oleh kelompok-kelompok pemuda Indonesia.

Perspektif membentuk cara berpikir.  Cara berpikir membentuk cara bertindak atau melakukan sesuatu.  Cara bertindak membentuk budaya, dan budaya membentuk peradaban.  Perspektif pada dasarnya adalah akar dari semua mekanisme, metodologi, dan cara-cara kita menjalani kehidupan hari ini, mulai dari yang paling simple sampai yang paling rumit.  Perspektif jugalah dasar dari segala keputusan yang kita ambil; dengan perspektif yang tepat, keputusan kita pasti tepat.  Demikian juga sebaliknya.  Perspectives make what we are today.

Apa yang manusia lihat dalam kehidupan saat ini mungkin sudah baik dan memuaskan, dalam arti kita memperoleh banyak kemudahan, keleluasaan, dan lain-lain.  Sebaliknya, sebagian orang masih melihat banyak yang belum ada, yang perlu diubah, diperbaiki, dan sebagainya.  Itulah yang menghasilkan perbedaan di antara umat manusia.  Perbedaan yang oleh sebagian orang dimaknai sebagai keragaman, kekayaan, atau warna kehidupan, tapi oleh sebagian yang lain dipahami sebagai pertentangan.

==========================

Perspektif adalah bagian yang melekat atau inherent dengan manusia dan kehidupan itu sendiri.  Perspektif adalah salah satu anugerah terbesar Tuhan karena itulah yang membentuk kemanusiaan kita.  Manusia tanpa perspektif hanyalah seonggok daging yang bernyawa, tapi sejatinya tidak “hidup”.  Jadi, bersyukurlah ketika sebagai seorang manusia, anda punya perspektif terhadap sesuatu, sekalipun itu berbeda dari perspektif orang lain.

Kehadiran perspektif tidak pernah salah.  Yang salah—dan berbahaya—adalah ketika perspektif itu menjadi sebuah “keyakinan” yang mati.  Perspektif yang seperti itu yang kita lihat dalam bentuk “fanatisme” yang justru menghasilkan kerusuhan, keributan, pertikaian, bahkan perang.  Sejarah kita juga sudah membuktikan dengan banyak contoh: dua kali perang dunia, perang lokal di berbagai negara atau wilayah negara, terbunuhnya pemimpin negara, pemberontakan-pemberontakan, sampai kerusuhan antar kampung yang kerap terjadi.

Perspektif itu sendiri dinilai atau ditakar kebenarannya oleh karakteristik sosial masyarakat tempat manusia itu berada.  Artinya begini: perspektif si A bisa dikatakan “salah” ketika norma-norma dalam karakteristik sosial di tempat si A berada tidak bisa menerima perspektif itu.  Di tempat lain dengan karakteristik sosial yang berbeda, mungkin perspektif si A bisa diterima atau dianggap benar.  Begitulah kira-kira.

==========================

Perspektif yang “salah” atau “tidak sehat” itu bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor.  Namun, seperti apapun anatomi sosial masyarakat, saya melihat faktor keterdidikan masyarakat menjadi hal terpenting agar perspektif yang “salah” bisa diminimalisir atau bahkan ditiadakan.  Kalaupun ada, ya masih bisa dikendalikan.  Keterdidikan yang saya maksud adalah keterdidikan yang bersifat holistik, madani, membangun moralitas, dan membentuk kemanusiaan manusia.  Bukan keterdidikan yang semata-mata disimbolkan dengan gelar akademis atau riwayat sekolah yang panjangnya dari Kutub Utara sampai Kutub Selatan.

Kejadian penolakan terhadap jenasah seorang perawat yang meninggal karena terinfeksi Covid-19 setelah ia berjuang menyelamatkan sekian pasien yang sudah terjangkit di sebuah rumah sakit di Jawa Tengah misalnya, adalah contoh bagaimana tingkat keterdidikan menjadi penentu terbentuknya sebuah perspektif yang “salah”.  Para provokator yang sudah jadi tersangka itu adalah tokoh masyarakat di desa tersebut, yang saya yakin pendidikan akademisnya lumayan lah.  Alasan mereka (tindakan verbal menyatakan penolakan) lahir dari satu perspektif: jenasah tersebut terjangkit virus Corona.

Keterdidikan yang dibentuk dari pengetahuan yang minim tentang wabah ini membutakan mata mereka terhadap pemahaman yang tidak sekedar bersifat medis (bahwa jenasah positif Corona yang sudah diperlakukan dengan protokol penanganan virus tersebut tidak berbahaya bila sudah terkubur) namun juga terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.  Orang-orang bodoh itu telah melihat dari perspektif yang salah.  Seandainya mereka melihat dari angle yang lain, misalnya bahwa di perawat ini sudah berjasa besar menyelamatkan nyawa orang-orang yang dinyatakan terjangkit—yang mungkin juga berasal dari kampung mereka—maka penilaian verbalnya akan mengatakan “Dia seorang pahlawan, mari kita sambut dan doakan agar dia beristirahat dalam damai”.  Perspektif konyol mereka telah membunuh moralitas, nilai kemanusiaan, dan pada akhirnya “mengorbankan” masyarakat mereka sendiri.

==========================

Bagaimana kita membiasakan diri memanfaatkan perspektif atau cara memandang sesuatu dalam hidup kita pada akhirnya menjadi benih yang membentuk diri, derajat, martabat, dan kehormatan kita.  Orang-orang yang bijaksana dan luhur budi pekertinya pastilah orang-orang yang terbiasa melihat sesuatu dari berbagai perspektif berbeda.  Mereka adalah orang-orang yang ingin mendapatkan gambaran utuh tentang suatu hal, dan selalu percaya bahwa ada sesuatu yang baik dari apa yang terlihat tidak baik.  Orang-orang yang selalu positif, optimis, namun tetap menjejakkan kakinya di atas realitas.  Yang jelas, mereka pasti bukan para perundung, pengeluh, atau pencaci, melainkan orang-orang yang hidupnya dipenuhi ungkapan syukur kepada Sang Pencipta Kehidupan.

Seperti gambar 3D tadi, dari satu sisi ia hanya terlihat seperti sebuah huruf biasa yang tidak istimewa, yang bisa dibuat siapa saja.  Tapi ketika dilihat dari sisi yang berbeda, ia akan terlihat sebagai sebuah karya seni, yang perlu waktu, tenaga serta keterampilan untuk membuatnya.  Di tengah situasi sulit akibat pandemi Covid-19 seperti sekarang, ketika segala sesuatu seolah memudar dan suram, mari kita melihat dari perspektif yang lain, dari sudut pandang yang berbeda.  Saya yakin, ada maksud Tuhan yang masih tersembunyi untuk kita ungkap…….tentu saja melalui perspektif yang tepat.

Di rumah aja, 15 April 2020