(BUKAN) SOAL CORONA

(Courtesy: scdn.slashgear.com)

Wabah virus Corona (COVID-19) sudah tidak asing lagi di mata dan telinga kita belakangan ini.  Sekarang semua orang melihat bahwa wabah yang oleh WHO sudah ditetapkan sebagai pandemik ini benar-benar tak pandang bulu.  Mulai dari orang kebanyakan, dokter, pejabat negara, perwira militer, atlet profesional sampai selebriti Hollywood sudah ada dalam daftar panjang mereka yang positif terinfeksi.  Sebuah kasus yang luar biasa.

Saya tidak akan bicara soal wabah ini, karena jelas ini bukan kompetensi saya.  Sayapun tidak akan menyodorkan statistik-statistik, data apalagi analisa akademis soal COVID-19.  Jelas saya awam sekali soal itu.  Saya—seperti biasa—hanya akan melihat ini dari perspektif psikologi sosial, dan mengingatkan kita semua bahwa menyikapi isu ini secara tidak terkendali, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, akan membawa kita pada bahaya yang jauh lebih besar dan mematikan.

Wabah ini sudah jelas menimbulkan kepanikan masif di berbagai belahan dunia.  Di Indonesia orang-orang jahat tega menimbun masker untuk dijual dengan harga puluhan bahkan ratusan kali lipat.  Lalu pasar juga kehabisan jahe merah, yang konon bagus untuk menangkal Corona.  Di Australia, orang kehabisan tisu toilet, pasta dan keju.  Di Italia semua kegiatan olahraga (termasuk Serie A yang kesohor itu) dihentikan, atau dimainkan tanpa penonton.  Amerika Serikat sudah melarang pendatang masuk dari Eropa (kecuali Inggris).  Dan masih banyak lagi.

Belum lagi apa yang ada di media sosial (medsos).  Berbagai postingan muncul di berbagai lini massa, apakah itu berupa tips menangkal Corona, meme-meme ngeledek, foto-foto dan video yang belum jelas kebenarannya, hingga berbagai teori konspirasi tentang siapa yang sebenarnya berada di balik wabah ini.  (Saya membayangkan betapa besarnya keuntungan para provider jasa telekomunikasi di tengah wabah dunia ini hehehe…).  Semua soal Corona, Corona, dan Corona.

——————–

Perjalanan sejarah dunia kita sudah tidak asing dengan yang namanya wabah penyakit (sebagai catatan: istilah “quarantine” atau “karantina” justru muncul gegara wabah penyakit pes atau “black death” yang mematikan jutaan orang di Venesia, Italia pada abad ke-13).  Sekarang kita bisa menyebutkan beberapa contoh wabah dengan gampang: kolera, TBC, malaria, demam berdarah, HIV AIDS, Ebola, SARS, MERS, H5N1.  Semuanya sudah membunuh ribuan bahkan jutaan orang.  Artinya, wabah seperti halnya Corona bukan sesuatu yang baru bagi peradaban ini.

Barangkali persoalannya menjadi berbeda ketika penyakit-penyakit itu muncul di jaman atau generasi yang berbeda.  Ketika pes atau kolera muncul, teknologi transportasi dan komunikasi jelas belum seperti sekarang.  Informasi datang dengan sangat lambat dari satu komunitas ke komunitas lain di tempat yang berbeda, sehingga tidak muncul kepanikan di tempat yang jauh dari area yang terinfeksi (karena mereka belum tahu).  Arus migrasi (baik permanen maupun sementara) juga perlu waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa sampai ke kota atau negara yang berbeda (sehingga kalaupun ada yang terkontaminasi, mereka sudah mati di perjalanan dan jasadnya langsung dibuang ke laut).

Mungkin itu sedikit pembenaran untuk kepanikan yang terjadi saat ini, ketika informasi tersebar begitu cepat hanya dengan satu “klik” di ujung jari kita, dan ketika kemajuan teknologi transportasi memungkinkan kita sarapan pagi di negara A, lalu makan siang di negara B, dan menghadiri undangan makan malam di negara C dalam satu hari yang sama.  Hasilnya: ketakutan yang membuat ribuan orang berbondong-bondong menyerbu pusat-pusat belanja, dan sebagian di antara mereka bahkan memanfaatkan untuk kepentingannya sendiri tanpa peduli kesusahan orang lain.  Panik, takut, cemas, khawatir atau apalah istilahnya.

Wabah-wabah ini juga punya era atau jamannya sendiri.  Hingga hari ini, masih banyak orang mati karena TBC, malaria, demam berdarah atau AIDS.  Tapi era wabah-wabah itu sudah lewat, sehingga media tidak tertarik lagi bicara soal wabah-wabah itu (kecuali korbannya luar biasa besar seperti demam berdarah yang sekarang melanda saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur).  Dampaknya, tidak ada kepanikan karena wabah-wabah tadi meskipun masih terjadi.  Ini berarti satu hal: kita merespon apa yang kita ketahui, bukan apa yang sedang terjadi.

Akhirnya kita tiba pada sebuah fenomena bahwa pengetahuan kita akan sesuatu, dan cara kita bersikap atas apa yang kita ketahui itu layaknya dua sisi mata uang.  Di titik inilah kekhawatiran saya mulai muncul, karena dinamika sosiokultural kita pada akhirnya sangat ditentukan oleh apa yang diketahui masyarakat, meskipun pengetahuan itu belum tentu benar …….. dan lebih celaka lagi bila kita bersikap terhadap sesuatu yang sebenarnya bahkan tidak ada sama sekali.

——————–

Dulu, para penemu dan pengembang teknologi informasi dan transportasi mendedikasikan temuannya untuk memperkuat fondasi komunitas kita, yang semakin hari semakin berkembang.  Sekarang, kita melihat sebuah paradoks ketika perkembangan teknologi itu malah menjadi kerentanan terbesar umat manusia.  Bagaimana perkembangan itu berdampak sangat bergantung pada “siapa” yang memegang kendali.  Di tangan orang baik, informasi yang kurang enak didengar pun akan tetap menenangkan; sebaliknya di tangan orang jahat, informasi yang terdengar sejuk pun bisa mematikan.

Peradaban kita menjadi ditentukan oleh bagaimana kita bersikap.  Bagaimana kita bersikap ditentukan oleh seberapa bijaksana diri kita.  Kebijaksanaan kita ditentukan oleh seberapa terdidiknya kita; bukan terdidik dalam artian akademis, namun terdidik secara emosional dan spiritual.  Keterdidikan yang ditentukan oleh seberapa mampu kita mengalahkan diri kita sendiri.

Penderita yang cerdas emosinya akan jujur pada diri sendiri meskipun harus mengakui bahwa mereka terinfeksi, hanya agar semua orang sadar bahwa wabah ini berbahaya dan semua harus waspada.  Penderita yang bodoh akan diam saja karena malu dan takut di-bully, meskipun ketidakjujuran itu akan membahayakan banyak orang.  Pada sisi yang lain, masyarakat yang emosinya cerdas akan berempati, dan masyarakat yang emosinya dangkal akan mencari keuntungan sendiri, lalu menyalahkan sana sini.

Peradaban kita sedang dalam pertaruhan besar, sama seperti yang telah dialami umat manusia berkali-kali sejak ribuan tahun silam.  Berempati bukan berarti abai dan tidak menjaga diri, tetapi perilaku memojokkan dan menyalahkan orang lain atas nama “sikap protektif” atau “menjaga diri” justru akan menghasilkan perpecahan dan kehancuran.  Kita sedang ditunggu oleh bahaya yang jauh lebih besar dari sekedar kematian fisik: matinya sebuah peradaban.

——————–

Saya teringat berbagai teori konspirasi yang merebak di media sosial soal asal muasal virus Corona ini.  Tak peduli apakah itu benar atau tidak, saya hanya berharap dan berdoa bahwa kejadian ini memberi kita hikmah, menjadikan banyak orang semakin bijaksana, dan menyadarkan banyak negara betapa pentingnya mencerdaskan masyarakat secara hakiki.  Masyarakat yang bukan semata-mata cerdas otaknya (karena sejarah dunia membuktikan berbagai kehancuran justru dibuat oleh orang-orang yang hanya cerdas otaknya), melainkan juga cerdas hati dan jiwanya.  Masyarakat yang berisi individu-individu yang mampu mengalahkan musuh terberat mereka: diri mereka sendiri.

Sudah lewat tengah malam rupanya.  Saatnya raga dan jiwa diistirahatkan, dan menjemput mimpi akan sebuah dunia yang penuh damai dan menyejahterakan semua yang ada di dalamnya.

Sumedang, 13 Maret 2020

JOGJAKARTA: KALA KUUNTAI KATA

(Koleksi Pribadi)

Jogjakarta.

Bukan sekedar sebuah nama,

Bukan juga sekedar sebuah kota,

Bukan sesuatu tanpa makna,

Bukan pula sesuatu tak berjiwa.

—–

Lambang damai yang bersahaja,

Pesona dalam paras sederhana,

Seolah Tuhan sedang jatuh cinta,

Ketika menghadirkannya ke dunia.

=====

Jogjakarta.

Ceria kala surya mengangkasa,

Rona indah di temaram senja,

Hadirkan damai yang tanpa paksa,

Bukan intrik dusta ala Jakarta.

—–

Dalam sahajanya kurangkai cerita,

Bingkaian suka duka dalam pesona,

Kudamba selalu lambai tangannya,

Tanpa pernah mau meninggalkannya.

=====

Jogjakarta.

Laksana kini dia menderita,

Serasa kini dia makin renta,

Kala sejauh tatapan mata,

Beton-beton tinggi angkuh berkuasa.

—–

Adalah duka saat dia hilang pesona,

Adalah air mata saat dia tak berjiwa,

Ketika dia tak lagi mengenal dirinya,

Tenggelam dalam palsunya dunia.

=====

Jogjakarta.

Aku mau dia apa adanya,

Labuhan bagi mereka yang hampa,

Lembah surga bagi semua romansa,

Meski bibir tak perlu mengucap kata.

—–

Apalah artinya kata dan bahasa,

Kala semesta telah berbicara,

Kala hati telah beku membuta,

Untuk sebuah nama: Jogjakarta.

=============================

Ruang fana, 10 Maret 2020

SURAT UNTUK DELIS

(Courtesy of kompas.com)

Ananda Delis Sulistina di Surga,

Saya tidak mengenal kamu, atau bahkan sekedar mendengar namamu, sebelum berita kematian tragismu memenuhi media massa.  Perhatian saya semakin menjauh dari penuhnya berita tentang wabah virus Corona saat saya membaca berita-berita lain tentangmu, hidupmu, deritamu, dan sedihnya lagi: cita-citamu……yang pernah kamu tulis dalam catatan harianmu.

Jujur saja, saya membangun kesan tentang kamu sepenuhnya dari media daring yang saya baca.  Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat kematian menjemputmu selain soal uang untuk study tour SMP-mu, apalagi soal keseharian, kondisi keluarga, dan lain-lain tentang kamu.  Semua yang saya tahu tentangmu hanya apa yang berita-berita itu tuliskan, dan saya berharap berita-berita itu tidak menambah atau mengurangi apapun tentang kamu.

Ananda Delis,

Saya menulis surat ini semata-mata karena saya seorang Ayah yang juga punya anak perempuan seumuran kamu.  Anak saya tak jauh beda dengan kamu: punya cita-cita, punya harapan membahagiakan orang tua, ingin punya banyak teman, dan juga pernah minta uang untuk study tour sekolahnya hehehe…

Sebagai seorang Ayah, berita tentang kematianmu di tangan ayah kandungmu sendiri karena uang untuk study tour itu betul-betul merobek hati.  Bukan soal uang yang tidak dapat diberikan ayahmu yang menghancurkan perasaan saya, melainkan apa yang harus kamu alami setelah itu.  Di usiamu yang baru 13 tahun, kamu harus menjemput mautmu dalam perjalananmu menggapai cita-cita mulia yang pernah kamu tulis, di tangan seseorang yang kamu tidak punya kuasa untuk memilih apakah dia layak atau tidak menjadi ayahmu…..dan itu membuat saya menangis.

Ayahmu sama sekali bukan representasi seorang ayah—kamu pasti paham itu.  Saya mungkin juga bukan representasi seorang Ayah yang baik, apalagi sempurna.  Namun dalam ukuran saya yang jauh dari sempurna inipun, apa yang ayahmu perbuat kepadamu adalah sangat biadab; bahkan seekor hewanpun tidak akan melakukan itu pada anaknya sendiri.

Ananda Delis,

Sudahlah…..bagaimanapun kamu sudah berada di alam sana, dan saya berdoa kamu tenang dan damai bersama Sang Maha Pencipta, yang sesungguhnya adalah Ayah sekaligus Ibu kita semua dalam hidup kekal yang akan kita jalani setelah semua kefanaan dunia ini.

Tapi bolehlah kita berbicara sedikit tentang apa yang kamu pernah tulis dalam catatan harianmu atau apapun itu.  Oh iya, saya sempat membaca sebagian tulisanmu di sebuah media daring yang memuat foto penggalan catatanmu (dan itu cukup untuk membuat pilu hati seorang Ayah seperti saya).

Kamu bilang kamu ingin jadi Polwan untuk “memberantas kejahatan sehingga kejahatan berkurang”.  Sebuah cita-cita hebat yang kamu ungkapkan dalam ketulusan dan kepolosanmu yang menyentuh hati.  Dunia kita memang penuh orang-orang jahat, baik dalam arti harfiah maupun dalam artian yang lain.  Kejahatan yang ditunjukkan apa adanya di rumah, di jalan, di berbagai tempat, maupun kejahatan yang dibungkus kebaikan-kebaikan atau kata-kata bijak, yang dilakukan oleh mereka yang merasa dirinya “pintar” atau “penting”.  Seandainya kamu punya kesempatan menggapai cita-cita itu (menjadi seorang Polwan), kamu pasti akan tahu apa yang saya maksud.

Kamu bilang ingin masuk SMPN 6 karena “dekat dari rumah, sehingga tidak perlu buang-buang uang untuk ongkos angkutan umum”.  Betapa mulianya hatimu Nak, yang bisa memahami kondisi orang tuamu (Ibumu) dan tidak mau membebaninya.  Saya melihat kecerdasan emosional yang luar biasa dari seorang anak 13 tahun, yang bahkan mereka yang sudah “dewasa”-pun belum tentu punya.  Saya berdoa kiranya ini kelak bisa membimbing Ibumu menuju surga karena memiliki dan membesarkan anak yang solehah seperti kamu.  Amin…

Kamu bilang bahwa kamu ingin masuk SMPN 6 karena “ingin mendapatkan ilmu pengetahuan dan mendapatkan banyak teman”.  Lalu kamu juga bilang bahwa kamu “akan belajar belajar dengan tekun agar cita-citamu tercapai”, dan “akan mengerjakan tugas dari Bu Guru dengan senang hati agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat”.  Ah….semangat seperti itu yang negeri ini butuhkan sekarang.  Semangat untuk belajar dan bekerja keras, semangat untuk meraih sesuatu yang lebih baik, semangat untuk berbuat semua hal yang bermanfaat.  Entah kamu sempat melihat atau tidak, negeri ini penuh dengan orang-orang yang selalu skeptis, pesimis, atau sebaliknya kelewat optimis dan merasa sudah pintar sehingga tidak perlu belajar lagi.  Saat berbuat, yang diperbuat justru hal-hal yang tidak bermanfaat, mengganggu kenyamanan orang lain, bahkan merusak.

Ananda Delis di Surga,

Berita-berita yang saya baca juga menyebutkan bahwa kamu sering di-bully di sekolah oleh teman-temanmu, yang menyebut kamu “bau lepet (lontong)”, karena Ibumu sehari-harinya berjualan lontong.  Hatimu tidak sendirian merasa sakit, Nak.  Hati sayapun sakit mendengar hal-hal semacam itu.  Tapi itulah potret pendidikan kita selama ini, yang tidak pernah diarahkan untuk membangun karakter, watak serta kepribadian yang baik, dan hanya melulu soal “angka”, “nilai”, “rangking”, “skor” bla…bla…bla…  Dunia pendidikan yang malah mencetak para perundung, penghina, pencaci, bahkan pembunuh.  Begitulah kalau pendidikan semata-mata dijadikan “proyek”.  Yang penting 20% APBN tiap tahun itu terserap; hasil didik nggak penting.

Saya merasa bahwa secara tidak langsung kamu adalah korban dari sistem buruk pendidikan kita.  Selain bully itu, kegiatan-kegiatan seperti study tour—yang akhirnya memicu ajalmu—dalam banyak kasus justru menjadi beban bagi orang tua murid.  Banyak sekolah yang tidak memahami kondisi psikososial murid-muridnya, yang datang dengan latar belakang beragam.  Ujung-ujungnya, banyak sekolah yang justru jadi ajang pamer harta, adu status sosial orang tua, dan di sisi lain menjadi lembah derita bagi mereka yang kurang mampu.  Singkatnya, dunia pendidikan kita belum menjadi tempat yang mendidik manusia secara hakiki dan mampu menjadi dirinya sendiri.

Berita yang saya baca juga mengatakan bahwa kamu adalah siswi yang pintar.  Tidak mengherankan buat saya, karena catatan yang kamu tulis saat kelas 6 SD itu sudah menunjukkan betapa cerdasnya kamu, dan betapa mulianya hatimu.  Tapi Tuhan memiliki rencana lain dalam hidupmu, yang saya yakin semata-mata karena Dia menyayangimu.  Saya membayangkan seandainya kamu punya waktu mewujudkan cita-citamu, kamu pasti akan jadi seorang Polwan yang baik, cerdas, dan kita akan melihat sebuah dunia yang damai karena minimnya kejahatan.  Sekarang saya hanya berharap ada banyak anak lagi dengan semangat yang sama dengan kamu, yang menjalani hidupnya untuk sebuah cita-cita luhur demi kebahagiaan orang tuanya, dan kemaslahatan orang banyak.

Ananda Delis,

Sepertinya tulisan saya sudah terlalu panjang untuk ukuran sebuah surat.  Mohon maaf menyita waktumu untuk membacanya, tapi sekali lagi, saya hanya seorang Ayah dari seorang anak perempuan sebaya kamu yang betul-betul sedih, teriris dan tidak dapat menerima perlakuan orang terhadapmu, terutama ayahmu yang biadab dan tidak bertanggung jawab itu.  Biarlah Tuhan dan alam semesta menghukumnya secara setimpal.

Rasa hormat saya yang tulus untuk Ibumu, yang dengan segala keterbatasannya berusaha yang terbaik untuk membesarkan kamu.  Beliau seorang wanita yang luar biasa.

Semoga kelak dari alam sana kamu akan melihat dunia yang kamu cita-citakan dalam tulisan tanganmu.    Selamat beristirahat dalam damai, Delis.

Jakarta, 28 Februari 2020

*(Tulisan ini merujuk kepada berbagai berita tentang kematian Delis Sulistina, seorang siswi SMPN 6 Tasikmalaya)

Hello everyone!

Welcome to my website. Here I share my thoughts and ideas, and you might find differences from yours. Let’s take this a beauty of life-a thinking I live with. Please enjoy as you wish.

JKG

UNTUK YANG TERKASIH…

IMG_20150822_105303

Kekasihku,

Di hari istimewamu ini, maafkan aku karena tak berada di dekatmu.  Maafkan aku karena tak dapat mengucapkan selamat ulang tahun tepat di depanmu.  Tapi ketahuilah sebuah fakta sederhana, bahwa tanpa sepatah kata sekalipun, Tuhan tahu betapa aku mencintaimu—tak hanya sekedar mengingat ulang tahunmu.  Dalam setiap doaku ada namamu; dan dalam setiap harapan terbaikku, kamu selalu “the top of the list”.

Sayangku,

Aku bersyukur bahwa Tuhan telah setia memeliharamu 38 tahun ini, dan kini aku tahu bahwa Tuhan melakukan semua itu untukku.  Tuhan hanya ingin melengkapi hidupku yang penuh kekurangan dan kelemahan; itu sebabnya Dia mempertemukanku denganmu.  Kamu adalah seseorang dengan misi yang Tuhan embankan di pundakmu: menyempurnakanku.  Menyadari semua ini, aku patut bersyukur bahwa kamu bersedia mengemban misi yang berat itu…hingga saat ini.

Tentu saja misimu berat, bahkan teramat berat.  Aku adalah manusia dengan berjuta kelemahan, serta penuh keterbatasan.  Ketika seseorang harus melengkapi kekuranganku, dan menutup kelemahanku, maka ia harus seseorang yang luar biasa.  Ia harus luar biasa, karena ada jutaan lubang yang harus ia tutup, dan segudang kekurangan yang harus ia lengkapi.

Wanita hebatku,

Tujuh belas tahun lebih kamu telah membuktikan, bahwa amanat Tuhan itu mampu kamu jalani.  Aku sadar bahwa caraku mencintaimu adalah sesuatu yang berbeda yang sangat sulit kamu pahami, tapi kamu bertahan dalam segala kesulitan itu.  Akupun paham bahwa sangat sulit bagi siapapun untuk memahami caraku memandang hidup, tapi kamu tak pernah berhenti belajar untuk mengerti itu.  Di mataku, kamu adalah seorang pejuang.

Aku hanya dapat berterima kasih: kepada Tuhan, kepadamu, dan kepada kehidupan yang telah mengantarku padamu. Kepada Tuhan kuucapkan syukurku atas pemeliharaannya dalam hidupmu sehingga aku dapat berjumpa denganmu.  Kepadamu aku sampaikan rasa hormatku atas segala kesetiaanmu menemaniku menjalani hari-hari bersama anak-anak kita, dan yang jauh lebih berat adalah atas kekuatanmu untuk mengerti aku.  Kepada kehidupan, aku bersyukur bahwa pintu untukku bertemu denganmu telah dibukakan, dan selalu ada pintu-pintu yang terbuka untuk setiap persoalan yang aku dan kamu hadapi dalam perjalanan kita.

Istriku, sahabatku, wanita terkasihku,

Kamu lebih dari sekedar anugerah buatku.  Kamu adalah sebuah kehormatan, dan aku bangga menjadi orang terdekatmu.  Selamat ulang tahun, Tuhan mengasihimu.

Marseille, 20 September 2015, 16.15

Sebuah Oase Kecil, dan Pengingat Yang Besar

Bripda Taufik yang saya hormati,

Kita bisa berbagi cerita yang nyaris sama, dan sungguh salut atas keyakinan anda akan kebesaran serta keadilan Tuhan, juga cinta anda untuk keluarga anda. Doa terbaik saya untuk kesuksesan hidup dan karier anda, dan salam hormat saya untuk Bapak Triyanto yang luar biasa, yang mengingatkan saya pada Ayah saya…

Salam bangga,

J.K.Ginting

http://regional.kompas.com/read/2015/01/15/06450061/Kisah.Bripda.Taufik.Wujudkan.Mimpi.Jadi.Polisi.meski.Tinggal.di.Bekas.Kandang.Sapi

Tepatkah “Merayakan” Natal?

cross-shadow-on-manger-jesus-16016320-698-507
www.fanpop.com

Minggu lalu saya berdialog kecil dengan putri saya Mita:

Mita     : “Papa, kapan kita pasang pohon Natal-nya?”

Saya   : “Iya nanti kita pasang, Nak. Tapi yang penting, adek tahu bahwa pohon Natal itu cuma aksesoris. Yesus ngga minta kita ber-Natal dengan pohon-pohonan, atau dengan makanan ini itu, atau baju baru. Hati adek yang harus ber-Natal.”

Mita     : “Maksudnya, Pa?”

Saya   : “Maksudnya, hati adek yang harus siap menyambut Natal. Natal itu kan mengingat kelahiran Yesus ke dunia, nah, berarti hati adek harus selalu terbuka untuk Yesus. Karena Yesus membawa kasih dan damai sejahtera, maka kita juga harus begitu. Yesus kan lahirnya malah di kandang domba yang sederhana, hidupnya juga ngga bermewah-mewah. Matinya di kayu salib. Makanya, lucu kan kalau kita Natalan malah dengan berfoya-foya, menghias ini itu? Emangnya adek mau menyambut manusia atau menyambut Tuhan? Hehehe…”

Mita     : “Ooooo… Trus, pohon Natal-nya kita pasang ngga?”

Saya   : “Kalau mau pasang ya ngga papa, ngga pasang juga ngga masalah.”

————————————————————————

Setiap tanggal 25 Desember, umat Kristiani di seluruh dunia “merayakan” Natal. Adalah sebuah pemandangan yang jamak bahwa pada hari itu (plus tanggal 24 malam), gereja-gereja penuh sesak, rumah-rumah berbenah dengan pohon Natal (atau pohon terang), ibu-ibu sibuk memesan dan menata kue, dan anak-anak sibuk berdandan dengan baju barunya. Bagi banyak orang di era modern ini, Natal adalah momen perayaan, selebrasi, dan bahkan “show-off” hehehe…

Bagi saya pribadi, Natal adalah sebuah isyarat atau perlambang batiniah ketimbang lahiriah. Natal bukan persoalan pohon terang, makanan enak, baju baru, kado, dan sebagainya.   Belum ada juga bukti otentik dan ilmiah tentang kepastian tanggal lahir Yesus di kalender Masehi.   Namun apapun itu, adalah sebuah fakta sejarah bahwa Yesus Kristus telah terlahir ke dunia (setidaknya dua agama besar mengakui itu: Islam yang mengenal Yesus sebagai Nabi Isa AS, dan agama Kristen itu sendiri). Jadi, terlepas dari kesahihan ilmiahnya, Natal dalam perspektif kelahiran Yesus Kristus adalah fakta nyata.

Saya lebih suka untuk mengatakan bahwa Hari Natal (sebagaimana hari-hari besar agama lainnya) semestinya kita “maknai”, bukan “rayakan”. Tanggal berapapun Natal itu, itulah saat setiap mereka yang percaya memaknai dalam hatinya betapa Tuhan Sang Pencipta Kehidupan begitu mencintai kita dengan menghadirkan kasih melalui seorang bayi mungil di Bethlehem bernama Yesus Kristus. Tuhan yang begitu penyayang mau merendahkan diriNya menjadi sama dengan manusia: lahir dengan sederhana, menjalani kehidupan yang keras, dan mati dengan bilur-bilur luka. Itu adalah bentuk pengorbanan yang tak akan mampu ditiru oleh siapapun, dan sebuah manifestasi cinta yang hakiki.

Sejarah yang tercatat tentang kelahiran Kristus sendiri jauh dari kesan mewah atau berada. Yusuf dan Maria (ayah dan ibu Yesus) harus berjalan jauh sebelum tiba di Bethlehem karena sudah waktunya bagi Maria untuk melahirkan anak dalam kandungannya. Tak ada yang mau memberi tempat bagi kedua orang asing ini sebelum akhirnya mereka mendapatkan sebuah kandang domba, dan di situlah Maria melahirkan bayinya. Yang pertama menjenguk bayi Yesus pun adalah para gembala, perlambang begitu dekatnya Tuhan dengan mereka yang kecil dan dianggap hina. Beberapa hari setelahnya, Tuhan mendatangi Yusuf melalui mimpi bahwa ia harus segera membawa bayi Yesus keluar dari sana karena Raja Herodes telah memerintahkan untuk membunuh semua bayi di bawah dua tahun di Bethlehem. Yesus selanjutnya besar sebagai seorang warga Nazareth, hingga Dia dikenal sebagai “Yesus Orang Nazareth”.

Pengingatan umat Kristiani tentang Natal mengalami metamorfosis yang sarat dengan campuran budaya lokal, khususnya di Eropa sejak abad ke-3 atau ke-4 Masehi. Dari situlah muncul penggunaan pohon cemara yang dihiasi dengan berbagai ornamen dan lampu-lampu sehingga sebagian orang menyebutnya “pohon terang”. Dari sana pula muncul tradisi pemberian kado-kado Natal, serta “pemberian Tuhan” lewat figur Santa Klaus atau Sinterklas (awalnya bernama Santa Nikolas). Saking lamanya tradisi itu berjalan, hari ini Natal identik dengan semua kebendaan itu, dan celakanya, substansi pesan Natal itu sendiri terkikis dalam benak umat Kristen.

Bagi saya, substansi Natal ada dua: pertama adalah KASIH, kedua adalah PERUBAHAN. Tuhan menunjukkan kasihNya sehingga Dia mengirimkan anakNya yang tunggal ke dunia untuk menjadi sama dengan manusia, dan mengangkat dosa-dosa manusia melalui kematianNya di kayu salib. Tuhan juga hadir dalam wujud Yesus Kristus (sesuai filosofi Trinitas Ketuhanan dalam keyakinan Kristen) untuk menghadirkan perubahan ke dunia yang sudah penuh dengan pemahaman yang salah, kesesatan jalan hidup, serta penyimpangan-penyimpangan akidah. Itulah pijakan terpenting—menurut saya—kala kita memperingati Natal Kristus. Bukan semata-mata kehadiran ragawiNya ke dunia yang kita peringati (terlepas apakah benar Kristus lahir pada tanggal 25 Desember atau tidak), melainkan kelahiran pesan-pesan moral bagi dunia yang sudah penuh cemar.

So, hendaklah kita ber-Natal setiap hari, dalam arti membawa semangat kasih dan gairah untuk membuat perubahan yang positif dari waktu ke waktu. Tanggal 25 Desember hanyalah sebuah tanggal pengingat, bahwa Tuhan begitu peduli pada dunia kita, pada hidup kita, dan apapun yang terjadi pada umat ciptaanNya. Yesus lahir dan hidup selama lebih kurang 33 tahun bukan dalam kemewahan, dan bukan pula melalui jalan hidup yang mudah.   Jadi aneh rasanya bahwa Natal justru “dirayakan” dengan aneka aksesoris mewah, gemerlap lampu dan tumpukan kado.

Natal bagi saya adalah saat paling tepat untuk mengingat kembali penyertaan Tuhan dalam rentang waktu yang telah berlalu, yang tak habis-habis bagai air sungai yang setia mengalir. Saya tahu, banyak orang yang di hari itu justru sedang merasakan derita karena bencana alam, kelaparan, kehilangan orang-orang terkasih, dan hidup dalam kekurangan. Natal ini, seperti sebelum-sebelumnya, saya hanya bisa memanjatkan doa yang paling tulus dari lubuk hati saya untuk mereka, seraya berharap mereka tetap setia dalam keyakinan bahwa Tuhan tidak sedang meninggalkan mereka. Natal ini, saya mengirimkan doa terbaik saya untuk semua yang saya kasihi, dan semua orang yang sedang menjerit meminta Tuhan menjawab pergumulan mereka.

Kalaupun pada Natal ini anda belum dapat “merayakannya”, tidak ada alasan untuk berkecil hati. Kalaupun hari Natal anda tanpa pohon terang, tanpa makanan enak, tanpa kado, atau tanpa orang-orang tersayang di dekat anda, Natal itu tetap ada dan tetap nyata. Selama anda percaya dan membuka hati anda selebar-lebarnya untuk kedatangan Tuhan dengan kasih, semangat serta keselamatan yang dibawaNya, maka anda justru telah ber-Natal dengan jauh lebih baik ketimbang mereka yang hanya “memahami” Natal dengan pernak-pernik kebendaan semata.

Percayalah bahwa Tuhan itu setia, dan Natal itulah buktinya. Selamat memaknai Natal, saudara-saudaraku terkasih…

INSPIRASI GAYATRI

2340368fan-page780x390
www.kompas.com

Tidak sering saya menulis dua tulisan dalam selisih yang cuma hitungan hari. Tapi hari ini, terus terang saya terlalu terharu karena sebuah berita yang saya baca di sebuah media online, dan tidak tahan untuk tidak menulis apa yang saya rasakan. Berita itu adalah tentang seorang wanita muda bernama Gayatri Wailissa (17 tahun), yang meninggal dunia di RS Abdi Waluyo Jakarta Kamis (23/10/2014) malam. Dalam usia belianya, ia adalah seorang polyglot yang menguasai 14 bahasa. Barangkali bakat-bakat sejenis banyak kita lihat di sekitar kita, namun bagi saya Gayatri adalah seorang yang berbeda.

Gayatri ternyata jauh lebih dewasa dibandingkan usia biologisnya. Dia seorang yang begitu mampu mengelola persoalan dengan sebuah pendekatan yang cemerlang: “berpikir dan berbuat di luar kotak”. Filosofi itu umum di masa sekarang (meskipun tak banyak juga yang memahaminya), sayapun memiliki filosofi yang sama. Yang membuat itu tidak umum adalah bahwa filosofi hebat itu dipahami betul oleh seorang yang masih belia. Di usia itu, remaja kita umumnya masih sangat klasik dalam berpikir, dan masih pragmatis dalam memecahkan masalah.

Tidak banyak anak muda yang mau mempelajari bahasa asing, apalagi secara otodidak. Tidak banyak orang yang mampu mengelola perasaan kecewanya dengan terus berusaha dan berjuang.   Tidak banyak orang yang mampu bertahan dari perasaan “ditolak”, “tidak dianggap”, atau “diabaikan”.   Tidak banyak juga orang yang telah dipercaya menjadi duta bangsa mampu menerima kenyataan bahwa prestasinya kalah populer di media dibandingkan dengan sebuah kontes “ratu-ratuan”, “idol-idolan”, atau pernikahan bermilyar-milyar rupiah seorang selebriti (yang tidak jelas apa yang telah diperbuatnya untuk bangsa ini).

Itulah yang mempesona saya dari seorang Gayatri. Ia adalah salah satu dari yang “tidak banyak” itu. Hebatnya lagi, mentalitas itu ia miliki dalam usia muda, saat berjuta remaja lainnya lebih memilih untuk membiarkan diri mereka terjebak dalam euforia sekularisme dan kesalahan memilih panutan. Gayatri menghabiskan waktunya untuk memanfaatkan buku guna memahami tata bahasa, mendengarkan lagu untuk mempelajari pelafalan, dan membuka kamus untuk menambah khasanah kosa kata. Dia tidak terjebak dalam kepasrahan karena kesederhanaan orang tuanya yang tidak mampu memasukkannya ke kursus-kursus bahasa. Dia tidak mau terperangkap dalam kekecewaan karena Gubernur Maluku menolak permohonan bea siswanya. Dia juga tidak larut dalam kesedihan berlebih saat mendapati kenyataan bahwa “seorang duta bangsa tidak penting untuk pemerintah kita”.

Saya betul-betul kagum pada anak muda ini, dan paham sekali apa yang ia rasakan. Memang sakit rasanya, bila potensi dan prestasi kita tidak mendapat penghargaan yang sepadan. Tidak mudah untuk berjuang dan bertahan di sebuah komunitas yang serba kuantitatif, komunitas yang menghargai seseorang hanya karena kekayaannya, kekuasaannya, parasnya, atau golongannya. Komunitas yang angkuh, yang hanya berkata “Who the hell are you?” atau “Memangnya kamu siapa?” kepada mereka yang berprestasi tapi tidak kaya, tidak berkuasa atau punya koneksi ke penguasa, tidak rupawan, atau tidak berasal dari golongan tertentu. Komunitas yang dikuasai para preman yang hanya tahu “meminta jatah”, dan para pencoleng yang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Mungkin banyak Gayatri lainnya di negeri ini. Yang jelas, dari orang-orang seperti ini kita patut belajar, bahwa banyak jalan menuju cita-cita dan menembus batasan. Belajar dan menguasai 14 bahasa asing dengan otodidak bukan sesuatu yang main-main, dan dengan itulah Gayatri telah menunjukkan cara hidup yang dipenuhi ungkapan syukur, bukan keluhan-keluhan. Baginya, masalah hidup akan tetap ada, dan tidak ada satu keluhanpun yang akan membuat masalah selesai atau makin mudah. “Sisi-sisi kotak” itu akan tetap di sana, dan tak ada gunanya kita menabrakkan diri kita ke sisi-sisi kotak itu. Keluarlah dari dalamnya, dan jadikan dirimu merdeka. Tempatkan dirimu di luar kotak itu, dan buat setiap langkahmu lebih ringan dan leluasa.

Selamat beristirahat dalam damai, Gayatri…

PERUBAHAN: Titipan Pesan Dari Semesta…

Earth globe
www.depositphotos.com

Beberapa hari terakhir, bangsa ini tenggelam dalam euforia demokrasi setelah Presiden ke-7 Republik Indonesia dilantik tanggal 20 Oktober lalu. Saya prajurit yang tidak berpolitik, dan tidak soal bagi saya siapapun yang menjadi presiden. Namun, saya cukup senang dengan berbagai perkembangan ini, yang berjalan dengan penuh damai, serta mengucapkan selamat atas dilantiknya Bapak Ir. Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk periode 2014-2019.

Fenomena ini adalah sebuah momentum yang layak kita tangkap dan cermati. Banyak dari kita yang lupa, tidak tahu, atau pura-pura lupa dan pura-pura tidak tahu. Siapapun yang berkeyakinan, beriman, dan mengamini kebesaran Tuhan pastilah paham, bahwa Tuhan melalui alam semesta punya kehendakNya sendiri, yang tak seorangpun akan sanggup membendungnya. Dunia kita sesungguhnya telah menghadirkan banyak sekali pesan melalui beragam fenomena, kejadian-kejadian monumental, dan peristiwa-peristiwa yang sarat peringatan. Persoalannya sekarang, cukup cerdas dan pekakah kita untuk memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh semesta itu?

Pesan Pertama: Tuhan Maha Adil.

Kita sering mengucapkan premis ini: “Tuhan Maha Adil”. Namun faktanya, banyak dari kita yang lebih memilih bersikap dan bertindak pragmatis kala situasi di sekeliling kita tampak “tak bersahabat”. Bahkan mereka yang terbiasa bekerja keras pun panik ketika melihat berbagai perkembangan yang terjadi, dan berganti haluan mengambil “jalan pintas”. Hampir tak ada yang percaya bahwa “semua yang baik akan mendapatkan yang baik”, “semua yang bekerja keras akan menuai hasil kerja kerasnya”, “siapa yang busuk akan menjadi bangkai dengan kebusukannya”, “siapa yang jahat akan dihukum”, dan sebagainya. Kita sering tak sabar menunggu Tuhan menunjukkan keadilanNya, tak mau berlama-lama menanti semesta menunjukkan kearifannya untuk menghargai mereka yang baik, atau menghukum mereka yang jahat. Fenomena Jokowi, sekali lagi, bukan sesuatu yang luar biasa. Begitulah Tuhan dengan keadilanNya, Dia tahu bagaimana memberi imbalan kepada seorang yang jujur, bekerja keras, dan tak lupa pada bumi tempatnya berpijak.

Pesan Kedua: Kodrat alam “Pemimpin” adalah untuk “Yang Dipimpin”.

Secara harfiah saja, “pemimpin” mengandung makna “orang yang memimpin”. Artinya, ia ada karena ada yang (harus) dipimpin. Jadi, pemimpin bukanlah ia yang ingin menjadikan tampuk kepemimpinannya untuk kepentingan dirinya sendiri atau segelintir orang dekatnya. Ia didaulat untuk memperjuangkan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Itulah sebabnya, bagi saya kemenangan Jokowi sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa, karena itu sebenarnya hanya sebuah fase di mana alam semesta mengembalikan sesuatu kepada kodratnya semula. Juga, bagi saya tidak mengejutkan melihat lautan manusia sepanjang Jl. Soedirman dan Jl. Thamrin hingga ke Istana Merdeka sesaat setelah ia dilantik di Senayan. Semua yang sesuai dengan kehendak semesta pasti diterima banyak orang, itu inti pesannya.

Pesan Ketiga: Alam semesta bisa merasa muak akan kebebalan manusia.

Seperti cerita tentang tenggelamnya orang-orang yang mencela Nabi Nuh yang membuat bahtera di atas gunung, sebenarnya semesta juga telah banyak mengingatkan manusia bahwa kehendak manusia tak pernah mampu berhadapan dengan kehendak semesta. Ketika sekelompok manusia diperlakukan tidak adil hanya karena warna kulitnya, semesta membungkam mereka dengan tampilnya seorang pria kulit hitam sebagai presiden di sebuah negara adidaya. Fenomena Jokowi juga sebuah petunjuk bahwa tak ada seorang manusiapun yang pantas untuk diinjak-injak atau ditutup kesempatannya untuk menjadi yang terdepan. Para politisi boleh merasa bahwa deretan nama besar, kekuatan uang, partai politik dan lain-lain bisa menentukan segalanya, namun kala semesta muak dengan arogansi manusia, semesta akan menghukum keangkuhan itu dengan caranya sendiri.

Pesan Keempat: Jangan pernah berpikir bahwa anda tahu semuanya.

Pragmatisme manusia umumnya didasari oleh pemahamannya sendiri yang dangkal. Orang melihat situasi hari ini begini, lalu menganggap “semuanya akan terus begini sehingga saya harus mengambil langkah ini”. Ada sekelompok orang yang merasa ia akan “baik-baik saja” di masa depan karena hari ini mereka menikmati sekian banyak hak-hak istimewa karena kebobrokan sistem. Mereka membangun keangkuhan atas pemahaman bahwa karena hari ini kelompok mereka “berjaya”, mereka akan terus berjaya. Patutlah kita belajar dari fenomena Jokowi ini, yang kira-kira lima tahun lalupun, tak ada yang berpikir bahwa ia akan menjadi orang nomor satu di Indonesia. Sekali lagi, kita tidak tahu apa-apa. Tuhan yang tahu semuanya, kita hanya perlu mempersiapkan diri untuk berbagai ketidakpastian itu.

Tuhan melalui alam semesta telah menitipkan jutaan pesan untuk kita. Jaman akan menuntut sesuatu yang kodrati dengan caranya sendiri, sehingga orang-orang bijak akan memahami bahwa perubahan adalah keniscayaan. Siapapun yang tak mau merubah dirinya sendiri akan diubah oleh alam semesta; caranya pasti tidak enak. Siapapun yang menganggap perubahan tidak akan terjadi, alias mereka yang tidak menyiapkan dirinya untuk perubahan, akan menjadi korban dari perubahan itu sendiri.

The only certainty in life is uncertainty